Pengiriman Pertama, Indonesia Kapalkan 7 Ton Maggot ke Inggris
SUKABUMIUPDATE.COM | 06/03/2020 09:30
Pengiriman Pertama, Indonesia Kapalkan 7 Ton Maggot ke Inggris
Pegiat incufram Sukabumi memperlihatkan maggot hasil budidaya yang menggunakan media sampah organik | Sumber Foto:ISTIMEWA

SUKABUMIUPDATE.com – Larva kering jenis Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam (maggot) hasil budidaya Indonesia mulai diekspor ke luar negeri. Tujuh ton maggot yang menjadi pengurai efektif sampah organik ini, Selasa kemarin resmi di kirim ke Inggris oleh Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo.

Dalam rilis yang disebar Kementrian Pertanian, ekspor perdana ini sebagai upaya menggenjot PDB Indonesia dan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan ekspor berbagai komoditas pertanian. "Ini luar biasa, menembus Inggris.  Pride sebuah negara karena tidak gampang menembus Inggris. Biasanya bisa tembus Inggris setelah melalui Italia atau Jerman, Roma," kata Syahrul. 

Mentan mengatakan, Indonesia memerlukan pelaku usaha yang terus melakukan inovasi untuk menumbuhkan produk ekspor baru atau emerging seperti larva kering ini. Tidak hanya itu, negara tujuan baru pun perlu terus diperluas. 

"Hari ini pembudidaya maggot di Bogor membuktikan ada komoditas yang bisa diekspor dan itu tidak ada dinegara lain. Larva kering ini menjadi contoh bahwa sebenarnya kemampuan produk negeri ini menembus kebutuhan dunia sangat terbuka luas,"ucapnya.

Solihin, pegiat Bank Sampah di Sukabumi saat ikut melepas ekspor perdana larva lalat tentara hitam (maggot) di Bogor ke Inggris, Selasa (3/2/2020) 

Komoditas larva BSF dibutuhkan seluruh dunia. "Kalau begitu tinggal anak-anak mau berada dalam posisi apa, mau dia menjadi off taker dari pembeli saja atau mau dia menjadi pembudidaya. Kemudian bisa juga menjadi trading. Kalau begitu tinggal mereka (anak muda, res) memilih konsep-konsep yang sudah tersedia," tuturnya. 

Ekspor perdana larva kering BSF dari Bogor menuju Inggris ini juga dihadiri oleh para pegiat Bank Sampah di Sukabumi khususnya yang juga mengembangkan maggot. Solihin Bahri, pegiat Bank Sampah Maggot (BSM) Ciseupan Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi adalah salah satu yang hadir dan menyaksikan langsung ekspor perdana tersebut.

BACA JUGA: Pasukan Lalat Hitam Siap Atasi Masalah Sampah Organik di Kabupaten Sukabumi

“Saya senang bisa menyaksikan langsung bagaimana maggot atau larva lalat BSF ini punya nilai ekonomis sangat tinggi. Inggris adalah negara yang ketat dan sulit ditembus, dan sekarang sudah bisa menerima maggot budidaya petani Indonesia, khususnya dari Bogor,” jelas Solihin kepada sukabumiupdate.com, Kamis (5/3/2020).

Menurut Solihin, larva kering maggot Indonesia sebelumnya sudah diekspor ke Kanada, Korea, Jepang dan sejumlah negara lainnya. “Terus terang kami peternak maggot Sukabumi juga bermimpi bisa ekspor, tapi memang kita masih terbatas produksi dan memiliki jenis maggot berbeda, dibudidaya menggunaan media sampah organik sementara yang bisa diekspor baru maggot dari media bongkol sawit,” sambung pria ini lebih jauh.

Namun apa yang dilakukan Solihin bersama rekan-rekan di Incubifarm ini memiliki dampak postif bagi ingkungan dan sosial lebih tinggi. “Orientasi kami adalah bank sampah, dimana keberadaannya bisa memberikan efek positif bagi lingkungan karena menyerap sampah baik organik maupun anorganik dari masyarakat.”

Sambung Solihin konsep ini juga memiliki nilai pemberdayaan masyarakat karena setiap sampah yang dikumpulkan warga akan dibeli. “Saat ini kita masih tukar sembako kedepannya kami sudah mempersiapkan akan membeli sampah-sampah masyarakat ini dengan mini gold,” bebernya.

Warga Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi pegiat program bank sampah maggot

Tak hanya beli sampah, Incubifarm juga memiliki banyak plasma atau kelompok masyarakat pembudidaya maggot, khususnya kalangan pesantren di Sukabumi. Disini tak hanya sampah yang bernilai tapi juga maggot-maggor dari sistem plasma ini dibeli oleh incubifarm.

“Kita itu sudah bisa mencapai dua kwintal per hari produksi maggotnya. Produk turunannya bisa kita produksi 24 kilogram perhari yang langsung diserap pasar,” ujar Solihin.

Ia berharap bisa bersinergi dengan pemerintah khususnya di daerah, karena apa yang dicapai oleh pembudidaya maggot di Bogor saat ini adalah perjuangan bersama dengan pemerintah daerahnya. “Pasar maggot dari sampah organik sudah sangat terbuka. Jika kita belum bisa ekspor miinmal produk turunan maggot sudah diserap pasar, khususnya pengusaha peternakan,” pungkasnya.

Incubifarm mulai bergerak tahun 2018 silam oleh Ade Fahrudin dan sejumlah anak muda lainnya termasuk Solihin. Usaha ini i menggerakan program sistem pengelolaan sampah Organik dan Anorganik secara kolektif yang melibatkan masyarakat untuk berperan aktif dengan cara menabung. 

SUKABUMIUPDATE.COM


BERITA TERKAIT