Muntah dan Mulutnya Berbusa, Bocah Kelas 5 SD di Sukabumi Tewas Usai Jajan Minuman Energi? Ini Faktanya
SUKABUMIUPDATE.COM | 12/02/2020 09:00
Muntah dan Mulutnya Berbusa, Bocah Kelas 5 SD di Sukabumi Tewas Usai Jajan Minuman Energi? Ini Faktanya

SUKABUMIUPDATE.com – Kabar meninggalnya bocah perempuan di Desa Cibodas, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi usai menenggak minuman energi dalam kemasan (cup) merebak di media sosial. Bocah ini disebutkan meninggal dengan mulut berbusa tak lama setelah jajan minuman energi dan gorengan tahu keliling pada Sabtu (8/2/2020) siang akhir pekan lalu .

"Admin ada info anak keracunan. Jjan tahu b… minum f….. langsung mulutnya ngeluarin busa. Anak kls 5 sd," demikian pesan netizen yang dikirimkan ke admin fanspage Facebook sukabumiupdate.com, Senin (10/2/2020).

Redaksi sukabumiupdate.com berhasil menemui keluarga bocah Ar (10 tahun) di Desa Cibodas, Kecamatan Bojonggenteng. Salah seorang keluarga dari bocah malang ini membenarkan jika Ar meninggal dunia pada Sabtu sore silam, namun ia tidak tahu pasti penyebabnya.

"Tidak tahu penyebabnya apa? teman-temannya bilang begitu. Anak kami muntah dan berbusa setelah jajan tahu dan minum minuman itu. Tapi orang warungnya ngomong anak kami tidak beli minuman itu," jelas perempuan yang enggan menyebutnya namanya ini.

Ar kemudian dibawa oleh keluarga ke rumah sakit swasta terdekat. "Kami tidak tahu sudah meninggal apa belum (saat dibawa ke klinik), tapi pas dirujuk ke RS Sekarwangi Cibadak orang rumah sakitnya bilang udah meninggal," singkatnya.

Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekarwangi membenarkan pada hari Sabtu menerima pasien perempuan berumur 10 tahun warga Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi yang diduga meninggal akibat keracunan.

Humas RSUD Sekarwangi, Ramdansyah mengatakan korban diterima di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sudah dalam keadaan meninggal.

"Dibawa ke Sekarwangi oleh keluarga untuk memastikan, kami menerangkan bahwa pasien tersebut sudah meninggal, dan keluarga mengiyakan karena dari rumah pun sudah meninggal cuma untuk memastikan," ujar Ramdansyah melalui telepon seluler.

RSUD Sekarwangi, kata Ramdansyah tidak melakukan tindakan apapun ketika menerima pasien yang sudah meninggal. Namun untuk mengetahui apa penyebab kematian korban itu diperlukan pemeriksaan.

"Kalau pasien sudah meninggal kami tidak melakukan pemeriksaan seperti prosedur pada pasien umumnya. Sehingga diagnosa dan penyebab kematian tidak diketahui, untuk mengetahui penyebab kematian harus dilakukan tindakan otopsi," tandasnya.

SUKABUMIUPDATE.COM


BERITA TERKAIT