Dari Zaman Soekarno Hingga Jokowi, Neneh Hasanah Mengabdi Sebagai Guru dengan Bayaran Rp 15 Ribu per Bulan
SUKABUMIUPDATE.COM | 20/01/2020 09:00
Dari Zaman Soekarno Hingga Jokowi, Neneh Hasanah Mengabdi Sebagai Guru dengan Bayaran Rp 15 Ribu per Bulan
Neneh Hasanah (84 tahun), nenek yang masih aktif mengajar di YPI Assahriyah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Misbahul Aulad, Kampung Ciseupan Hilir RT 03/06 Desa Seuseupan Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi. | Sumber Foto:Oksa BC

SUKABUMIUPDATE.com - Neneh Hasanah, nenek tua berusia 84 tahun asal Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi ini akan menjadi inspirasi bagi kita semua, terutama yang berprofesi sebagai seorang pengajar. Berbekal ketulusan, Neneh hingga kini masih setia membinani generasi-generasi penerus berpendidikan.

Perempuan lanjut usia yang tinggal di Kampung Ciseupan Hilir RT 03/06 Desa Seuseupan, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi tersebut hingga saat ini masih aktif sebagai tenaga pengajar di sekolah miliknya sendiri, Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Assahriyah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Misbahul Aulad.

BACA: Satpolair Kejar Nelayan di Perairan Selatan Sukabumi, Ingatkan Soal Alat Tangkap

Neneh mengaku sudah mengajar sejak tahun 1954. Keriput yang sangat terlihat menutupi kulit dan uban yang kian memenuhi rambutnya itu nampak tak menghalangi kecintaan nenek beranak sembilan tersebut kepada dunia pendidikan. Bahkan matanya saja masih bisa melihat dan membaca dengan jelas apa yang tertera dalam buku.

Neneh Hasanah (84 tahun), nenek yang masih aktif mengajar di YPI Assahriyah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Misbahul Aulad, Kampung Ciseupan Hilir RT 03/06 Desa Seuseupan Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi. | Sumber Foto:Oksa BC

"Alhamdulillah, saya memang suka mengajar dari dulu. Alasan mengapa saya mengajar adalah untuk menutupi semua kesalahan saya di saat sholat saya tidak khusyuk dan infaq saya tidak besar. Dan tentunya, saya pun ingin mengamalkan apa yang saya tahu," ucap Neneh saat diwawancarai sukabumiupdate.com di kediamannya, Minggu (19/1/2020).

Saat ini, Neneh mengajar di dua kelas yang berbeda, yaitu kelas V dan kelas VI, dengan total murid di dua kelas tersebut mencapai 25 orang. Belasan mata pelajaran yang diantaranya seputar pendidikan islam dan sejarah Indonesia, diajarkan Neneh kepada para siswanya tanpa berharap imbalan apapun. "Memang ada iuran. Satu orang Rp 15.000 per bulan. Tapi, ya ada yang bayar ada yang tidak. Tapi tidak apa-apa," tambah Neneh.

Dengan sangat jelas dan normal, Neneh menunjukkan jadwal dan tiap mata pelajaran serta beberapa buku yang kerap ia bawa ke sekolah untuk diajarkan kepada siswa-siswinya. Hebatnya lagi, Neneh masih dapat membaca tulisan dalam buku tersebut dengan sangat baik. Tak hanya itu, ia pun masih sangat mengingat tanggal-tanggal penting dalam hidupnya. "Perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan angka pun Insyaallah saya masih bisa," sambung Neneh.

Ruang kelas YPI Assahriyah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Misbahul Aulad di Desa Seuseupan Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi, tempat Mak Neneh biasa mengajar. | Sumber Foto: Oksa BC

Setiap hari, Neneh biasa berangkat ke sekolah miliknya itu pada pukul 13.00 WIB dengan berjalan kaki, karena lokasi sekolah yang cukup dekat dengan rumahnya. Dalam jabatan struktural di sekolahnya itu, Neneh berperan sebagai kepala sekolah. "Di sini gurunya ada empat, semuanya anggota keluarga. Kalau muridnya mungkin ada antara 80 hingga 90 orang," imbuhnya.

BACA: Kisah Pilu Siswa MI Darmawangi Pabuaran Sukabumi, Belajar Beralaskan Tanah

Perempuan kelahiran 12 April 1935 tersebut, saat ini tinggal bersama anak sulungnya yang bernama Dadang (50 tahun), yang juga menjadi salah seorang guru di sekolah yang sama dengan Neneh. Suaminya Neneh yang bernama Oim telah meninggal dunia pada 5 Mei 2005 silam.

"Saya itu punya anak sembilan, tapi meninggal lima. Jadi tinggal empat anak. Sekarang anak saya ada juga yang di Flores. Alhamdulillah kondisi saya sejauh ini sehat. Paling ada gangguan dalam pendengaran saja. Saya Insyaallah berniat akan mengajar hingga ajal menjemput saya. Saya tidak menjadi PNS dan rezeki itu selalu ada," tandas Neneh.

SUKABUMIUPDATE.COM


BERITA TERKAIT