Dari 28 Pasar Tradisional di Yogyakarta, Baru Pasar Prawirotaman yang Siap Terapkan Aplikasi PeduliLindungi
JOGLOSEMARNEWS.COM | 20/10/2021 08:23
Dari 28 Pasar Tradisional di Yogyakarta, Baru Pasar Prawirotaman yang Siap Terapkan Aplikasi PeduliLindungi

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Semua pasar tradisional yang ada di Kota Yogyakarta tengah bersiap menerapkan QR Code aplikasi PeduliLindungi. Tetapi dari 28 pasar tradisional yang ada di kota Pelajar itu, baru satu pasar yang benar-benar siap.

Satu pasar tradisional yang telah siap tersebut adalah Pasar Prawirotaman yang terletak di Jalan Parangtritis Yogyakarta.

“Dari sejumlah persyaratan untuk menerapkan aplikasi PeduliLindungi, baru Pasar Prawirotaman yang memenuhi Standar Nasional Indonesia,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono pada Senin, 18 Oktober 2021.

Yunianto mengatakan pasar yang terletak di tengah perkampungan mancanegara itu menjadi megah setelah dipugar beberapa waktu lalu dan menjadi pasar yang paling bagus dari sisi sarana prasarana. Namun untuk menerapkan aplikasi PeduliLindungi bukan hanya soal kondisi bangunan pasar. Masih ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi.

Pasar tersebut bisa mengadaptasi aplikasi PeduliLindungi apabila seluruh pengelola, pedagang, juru parkir, petugas keamanan, dan pekerja lainnya sudah mendapatkan vaksinasi Covid-19. “Yang penting seratus persen sudah divaksin,” ujar Yunianto.

Pasar Prawirotaman menjadi satu pasar favorit wisatawan. Di Kampung Prawirotaman juga tersebar ratusan homestay, hotel, kafe, dan restoran yang menjadi lokasi tempat singgah wisatawan mancanegara saat ke Yogyakarta.

Penerapan aplikasi PeduliLindungi di pasar tradisional ini, menurut Yunianto, bukan untuk membatasi kunjungan dan membuat pedagang kehilangan pelanggan. Cara tersebut guna mengantisipasi penularan Covid-19 serta mendeteksi keamanan dan keselamatan setiap pengunjung pasar.

Yunianto menuturkan penerapan aplikasi PeduliLindungi di pasar tradisional jelas bukan perkara mudah karena ini menjadi hal yang baru. Tantangan terbesar, menurut dia, kapasitas sumber daya manusia dan peralatan. Masyarakat harus “melek” teknologi untuk menggunakan aplikasi ini dan membutuhkan telepon pintar yang selalu terhubung dengan internet.

Sementara sebagian pengunjung pasar tradisional adalah orang lanjut usia. Bisa jadi mereka belum akrab dengan teknologi, bahkan tidak punya ponsel pintar. Ditambah lagi banyaknya pintu masuk ke pasar tradisional membuat petugas harus bersiaga di banyak titik. #tempo


BERITA TERKAIT