Kapolres Sragen Instruksikan Petugas Penyekatan Lebih Baik Ngalah Sama Pemudik Ngeyel
JOGLOSEMARNEWS.COM | 02/05/2021 11:47
Kapolres Sragen Instruksikan Petugas Penyekatan Lebih Baik Ngalah Sama Pemudik Ngeyel
Kapolres Sragen, AKBP Yuswanto Ardi didampingi Wakapolres dan Kabag Ops. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kapolres Sragen, AKBP Yuswanto Ardi menginstruksikan kepada jajarannya untuk lebih baik mengalah dan menghindari perdebatan dalam menjalankan tugas operasi penyekatan larangan mudik.

Instruksi itu diminta dijalankan apabila menghadapi pemudik yang terlalu ngeyel saat dilakukan penyekatan. Seruan itu dilontarkan Kapolres saat memberikan pengarahan dalam rapat koordinasi lintas sektoral guna optimalisasi PPKM Mikro di Kecamatan Plupuh, Selasa (27/4/2021).

“Saya sudah instruksikan ke anak buah kala ada perdebatan di lapangan wis kita ngalah wae. Daripada menimbulkan kontraproduktif. Sudah capek bertugas, masyarakatnya malah ngeyel adu mulut, nanti framing-nya malah polisi yang dianggap arogan. Makanya lebih baik mengalah kalau menghadapi pemudik yang ngeyel,” paparnya di hadapan para Kades, Babinsa dan Bhabinkamtibmas seluruh desa di Plupuh.

Kapolres menguraikan operasi keselamatan candi dan penyekatan terhadap pemudik itu semata-mata untuk menekan potensi penyebaran covid-19.

Menurutnya dari Mabes Polri memang memerintahkan melakukan penyekatan baik di jalur tol maupun arteri. Namun polisi juga tak serta merta langsung memutarbalikkan semua kendaraan luar kota.

“Pak Kapolda sudah mengarahkan ke kita. Kebanggaan kita bukan membalikkan pemudik ke asalnya. Tapi rohnya melakukan pencegahan covid-19,” tegasnya.

Ia menjelaskan mudik lebaran memang tidak dibolehkan karena dikhawatirkan meningkatkan potensi penyebaran virus akibat perpindahan warga dari kota-kota dengan kasus tinggi ke daerah Sragen yang saat ini relatif masih hijau.

Namun bukan berarti, larangan itu berlaku saklek. Ia menyebut masih ada beberapa golongan yang karena kondisinya, dibolehkan mudik.

“Seperti orang kerja harian yang kemudian sudah diberhentikan atau nggak kerja lagi. Kalau di kota nggak kerja kan nggak bisa makan. Kalau yang seperti itu dibolehkan, tapi semua tetap menaati prosedur,” terangnya.

Kapolres tak memungkiri, seketat apapun penyekatan, tidak mungkin 100 persen tersekat dan pasti masih ada pemudik yang lolos sampai kampung.

Pemudik yang lolos itu pun tak mungkin diminta kembali ke asalnya. Akan tetapi, demi keselamatan, pemudik maupun keluarganya diminta secara sadar melapor ke Satgas di desanya agar dilakukan pemeriksaan dan pantauan.

“Ditanya dulu sudah vaksin atau belum. Kalau sudah, dicek di aplikasi. Kalau ternyata belum divaksin harus lapor. Yang penting begitu sampai di rumah, lakukan isolasi mandiri,” terangnya.

Terkait pengawasan di tingkat desa, pihaknya mengapresiasi ide optimalisasi PPKM dengan sinergitas dan penjadwalan di Satgas tingkat desa yang disampaikan Kapolsek Plupuh, Iptu Suparno.

Ia pun meminta semua unsur di desa mulai Satgas Covid-19, Babinsa dan Bhabinkamtibmas serta unsur tokoh agama bisa bersinergi untuk memaksimalkan pengawasan terhadap pendatang atau pemudik.

“Kemarin idenya dari Kapolsek Plupuh. Makanya kami minta dibuat jadwal di setiap desa, seperti di Plupuh ini sudah ada struktur organisasi Satgas. Kades kami minta mendukung, minimal mengingatkan. Mari kita sama-sama saling dukung. Kalau ada masyarakat yang masih ngeyel, kumpul-kumpul barangkali butuh dukungan silakan koordinasi dengan Babinsa atau Polsek,” terangnya.

Di bagian akhir, Kapolres meminta agar semua desa membentuk Posko PPKM dan memfungsikannya secara optimal.

Ia menekankan posko tak perlu mewah-mewah, tapi yang terpenting ada jadwal, struktur organisasi dan pembagian tugas serta keaktifan melakukan pengawasan di lingkungan.

“Gak perlu lebay-lebay. Buat posko bukan yang sah semua stiker ditempeli kabeh, ada hazmat dipajang juga, tapi begitu ditanya jadwal kegiatannya mana, nggak ada. Posko itu biasa saja, yang penting utk kumpul konsolidasi. Apa kira-kira yg dibutuhkan dan penting saja. Yang penting actionnya,” tandasnya.

Camat Plupuh, Sumarno mengapresiasi dan mendukung optimalisasi PPKM tersebut. Ia menyampaikan Plupuh memang memiliki banyak desa yakni 16 desa.

Selama ini untuk kasus covid-19 di triwulan pertama 2021, wilayah Plupuh relatif masih terkendali. Namun memasuki bulan April, agak menunjukkan peningkatan cukup signifikan.

“Di 2021 ini, Januari 37 kasus, Februari turun 26 kasus, Maret turun drastis 9 kasus, April terjadi lonjakan luar biasa 46 kasus. Desa yang masih hijau ada Desa Cangkol dan Jabung. Semua bapak ibu kades nanti mulai besok kami minta melaporkan data warga yang mudik. Setiap hari jam 16.00.WIB. Biar bisa dipantau,” tandasnya. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT