Mahasiswi Jadi Bandar Arisan Online Beranggotakan 500 Orang, Macet dengan Kerugian Miliran Rupiah
JOGLOSEMARNEWS.COM | 07/01/2021 11:10
Mahasiswi Jadi Bandar Arisan Online Beranggotakan 500 Orang, Macet dengan Kerugian Miliran Rupiah
Karangan bunga viral yang dikirim mengguncang pesta pernikahan warga Masaran, Sragen. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Seorang mahasiswi asal Masaran, Sragen dilaporkan ke polisi. Pasalnya mahasiswi berinisial MI (23) itu diduga menjadi otak penipuan berkedok arisan online.

Tak tanggugg-tanggung, korban dari aksi penipuan arisan sistem menurun itu disebut lebih dari 500 orang. Mereka tersebar di berbagai wilayah di Sragen dan Solo Raya.

Nominal uang setoran anggota yang diduga dilarikan atau digelapkan MI juga tak sembarangan. Sebab angkanya mencapai lebih dari Rp 1 miliar.

Kasus itu terbongkar setelah beberapa korban melaporkan kasus itu ke Polres Sragen. Data yang dihimpun JOGLOSEMARNEWS.COM , laporan dugaan penipuan arisan online itu dilaporkan ke Polres Sragen pada awal November 2020 lalu.

Namun kasus itu baru meledak dan mencuat ke publik setelah para korban mengirim karangan bunga berisi kalimat sadis sindiran ke mempelai yang tak lain adalah kakak dari mahasiswi terduga pelaku penipuan pada 23 Desember 2020 lalu.

Salah satu member arisan yang juga korban, Irene Junitasari (21) mengatakan arisan online yang dikelola MI bernama arisan By Wida. Arisan online itu dirintis sejak awal 2020 dan beranggotakan lebih dari 500 orang dari berbagai daerah di Solo Raya.

“Anggotanya banyak sekali dari berbagai wilayah di Solo Raya. Ada 3 grup WA, satu grup saja anggotanya 150 member lebih,” papar Irene kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Rabu (6/1/2021).

Ia menguraikan arisan itu digelar sistem menurun. Menurutnya setorannya bervariasi. Mulai dari Rp 500.000, Rp 1 juta, Rp 2 juta, Rp 5 juta, Rp 20 juta hingga Rp 50 juta.

Tak hanya arisan, MI juga menawarkan investasi online dengan bagi hasil menggiurkan. Sebagian member arisan juga ikut investasi dengan nominal puluhan juta.

Irene sendiri menyebut tertarik ikut anggota arisan dari saudaranya asal Tanon, Sragen. Ia dan saudaranya sudah setor hampir Rp 17 juta lebih. Namun sejak ikut awal hingga kemudian macet di tengah jalan, belum sepeser pun uang kembali.

“Arisannya baru dirintis tahun 2020 ini. M yang nggalang sendiri. Dia buka grup dan menawarkan dengan nama Arisan By Wida. Arisannya menurun, ada juga yang investasi. Macam-macam nominalnya sampai setoran Rp 50 juta ada. Arisan menurun itu yang paling bawah paling untung, yang atas yang rugi,” terang Irene.

Kerugian Miliaran Rupiah

Lebih lanjut, perempuan muda yang berprofesi wirausaha asal Ngrampal itu menuturkan M diketahui masih kuliah. Rata-rata tergiur ikut arisan dan investasi karena iming-iming keuntungan yang menjanjikan.

Awalnya tidak ada yang mencurigakan. Satu dua bulan berjalan arisan berputar apa wajarnya.

Namun situasi berubah ketika medio 2020, tiba-tiba arisan mulai seret. Putaran tak kunjung dijalankan padahal setoran anggota jalan terus. Hingga akhirnya gelagat ketidakberesan itu akhirnya terbongkar ketika si bandar arisan mendadak mengunci grup.

“Saat mulai macet, member mulai was-was dan menanyakan kejelasannya. Anehnya dia malah tiba-tiba grup WA member dikunci dan member dikeluarkan satu persatu. Padahal banyak yang belum dapat (arisan),” terang Irene.

Melihat gelagat tak beres, anggota pun mulai was-was karena setoran belum dibayar. Beberapa perwakilan member kemudian mencoba menghubungi M menanyakan kejelasan dan uang arisan.

Namun pertanyaan itu selalu dibalas dengan jawaban bahwa uang sudah nggak ada. Bahkan M berkelit bahwa dirinya juga rugi karena uangnya ikut ketilep.

“Kalau ditanya selalu njawab uangnya nggak ada, katanya uangnya diblandangke ke sini ke sini dan dia ngakunya juga rugi. Nggak nalar saja, kok bisa rugi karena uang itu setoran. Kalau dia rugi seharusnya kan nggak pakai uang member. Lha katanya rugi tapi malah mbangun ruko dan beli mobil. Sudah tahu uang member harusnya didiamkan, bukan malah dibuang keluar. Alasannya selalu itu. Padahal kami yakin itu yang dipakai uang member, wong dia kerja juga belum dan masih kuliah,” tukasnya kesal.

Perwakilan anggota sudah lima kali mendatangi M dan mencoba meminta pertanggungjawaban. Namun tiap kali ditemui, M selalu menghilang. Bahkan ketika dihubungi dan ditanya via WA, sudah tak mau membalas.

Karena sudah capek dan kesal tak ada itikad baik, akhirnya anggota sepakat untuk menempuh jalur hukum dengan melapor ke Polres Sragen pada 9 November lalu.

“Kami yang melapor ke Polres Sragen ada 7 orang perwakilan korban. Kami menggandeng pengacara Pak Henry Sukoco. Karena kami sudah capek, sebenarnya kami nggak mau proses hukum. Tapi dari awal sama sekali nggak ada itikad baik dari dia (M) untuk mau tanggungjawab. Sebenarnya kami hanya minta hak yang kami yang belum kembali. Itu saja,” tandasnya.

Selain dilaporkan ke Polres Sragen, M juga dilaporkan oleh korban-korban dari Solo ke Polres Solo. Menurut Irene, laporan di Solo dilakukan oleh lebih banyak korban, juga dengan menggandeng pengacara.

Pihaknya berharap jalur hukum bisa memberi keadilan dan uang para korban bisa kembali. Sebab total uang yang diduga ditilep M mencapai angka miliaran rupiah.

“Kemarin orangtuannya sendiri yang bilang ke warga tetangganya sana (Masaran). Bilangnya paling nggak ada Rp 350 juta nggak papa tak tutupnya. Ternyata ndelalah rasan-rasan ke tetangganya bakne punjul soko sak miliar totale. Itu juga kami diberitahu warga tetangganya sana. Kita nggak buat-buat. Karena memang anggotanya 500 orang lebih, makanya kami di Sragen lapor sendiri. Yang di Solo juga lapor dan satu grup di Solo itu yang lapor 7 orang. Nglaporkan M juga,” tandas Irene. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT