Ratusan Petugas KPPS untuk Pilkada 2020 Ramai-ramai Mundur Ketimbang Harus Tes swab
JOGLOSEMARNEWS.COM | 25/11/2020 14:10
Ratusan Petugas KPPS untuk Pilkada 2020 Ramai-ramai Mundur Ketimbang Harus Tes swab
Ilustrasi pilkada. TEMPO/ Tony Hartawan

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pilkada Sragen dilaporkan memilih mundur karena menolak dirapid tes maupun swab tes.

Meski demikian KPU memastikan petugas KPPS yang mundur sudah diganti dan gelaran Pilkada 9 Desember siap dilaksanakan.

Kepada wartawan, Ketua KPU Sragen Minarso mengatakan semua petugas KPPS di Pemilihan Kepala Daerah 9 Desember harus dipastikan bebas dari Covid-19.

Karenanya petugas wajib menjalani screening Corona virus melalui Rapid Test yang diselenggarakan mulai 09 sampai 21 November.

Akibat Rapid Test ini diwajibkan tak sedikit petugas yang menolak. Selain itu petugas yang reaktif juga harus dicarikan pengganti. KPU harus bongkar pasang petugas KPPS.

“Mereka kan dilantik tanggal 23 November ini. Sebelum dilantik harus dirapid dulu,” kata Ketua KPU Sragen Minarso saat dikonfirmasi Minggu (24/11/2020).

Minarso mengatakan, seluruh petugas PPK dan PPS sudah dirapid tes beberapa saat lalu. Kemudian dilanjutkan Rapid Test untuk seluruh

KPPS Pemilihan Bupati Wakil Bupati. Mereka harus dipastikan dalam kondisi sehat, salah satunya aman dari Covid-19.

Minarso mengaku tidak sedikit petugas KPPS yang harus diganti, baik hasil Rapid Test reaktif atau memang takut untuk dirapid sampai mengundurkan diri. Tanpa menyebutkan jumlah dan wilayah, Minarso mengatakan ratusan personel KPPS harus bongkar pasang.

“Untuk proses mekanisme dari 2.271 TPS termasuk petugas ketertiban ini bukan hal yang ringan buat kami. Ini yang terjadi di lapangan begini begitu ada yang mundur satu kita carikan ganti yang lain begitu ada yang reaktif satu minder atau gak berani langsung kita carikan ganti. Jadi 10 hari itu bongkar pasang personil istilahnya itu,” beber Minarso.

Kendatipun bongkar pasang Personel KPPS sampai ratusan orang, namun Minarso memastikan sampai 22 November semua KPPS untuk pilkada 9 Desember sudah siap.

Dalam bongkar pasang KPPS ini KPU Sragen juga sempat kesulitan sebab tidak semua warga bersedia menjadi KPPS dan bersedia dirapid.

“Kan tidak semua mau dirapid. Akhirnya kelompok kita minta cari rekan sesuai kecocokan,” ucapnya.

Adapun total KPPS yang dirapid tes tersebut yakni 20.439 orang. Terdiri dari petugas pemungut, dan juga pihak keamanan.

“Iya, sebagian dari lonjakan itu adalah dari anggota KPPS. Ada sekitar 100an orang anggota KPPS yang reaktif saat rapid test serentak. Dan semua yang reaktif diminta menjalani swab test,” papar Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Tatag Prabawanto, Selasa (24/11/2020).

Petugas KPPS yang reaktif itu tersebar di beberapa wilayah kecamatan. Untuk yang hasil swab positif diwajibkan menjalani isolasi di Technopark.

Menurutnya, lonjakan kasus dalam beberapa hari terakhir juga disumbang oleh klaster keluarga. Saat ini, situasi di gedung Technopark Sragen memang penuh dan tengah diupayakan untuk penambahan kapasitas bed.

“Kapasitas yang ada 190 bed, sementara saat ini yang isolasi sekitar 200an. Sehingga ini sedang diupayakan penambahan bed menjadi sekitar 250an lagi,” terangnya.

Sebelumnya, kasus petugas KPPS reaktif juga mencuat di Desa Tanon, Kecamatan Tanon.

Data yang diterima JOGLOSEMARNEWS.COM , ada empat petugas KPPS di desa itu yang diketahui reaktif saat dirapid test. Sayangnya mereka menolak dilakukan swab dengan alasan ketakutan.

Kemudian sebanyak 18 dari 22 petugas Linmas yang akan diterjunkan menjaga TPS, kemudian ramai-ramai menolak menjalani rapid test.

Selain alasan sibuk, mereka juga berdalih takut tak bisa beraktivitas lagi kalau kemudian hasilnya reaktif dan harus diisolasi jika swabnya positif.

“Iya, kemarin dari 22 Linmas di desa kami, hanya 4 yang mau rapid test. Lainnya pada nggak mau, alasannya takut kalau positif diisolasi jadi nggak bisa kerja. Kami jadi bingung padahal mereka syaratnya wajib rapid test. Kalau tetap nggak mau, ya nanti terpaksa akan dicarikan pengganti. Kalau nggak dapat lagi, terpaksa mungkin satu TPS yang harusnya dijaga dua linmas, nanti paling hanya dijaga satu linmas saja,” ujar koordinator Satgas Covid-19 Desa Tanon, Dawam, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Jumat (20/11/2020).

Tak hanya linmas, empat anggota KPPS yang hasil rapid testnya reaktif, mendadak juga berubah pikiran menolak swab test.

Anehnya lagi, Dawam menyebut satu dari empat orang itu kemudian tidak percaya dan mencoba melakukan rapid test di Mantingan, Ngawi, esok harinya. Ternyata hasil rapid test di Mantingan, anggota KPPS perempuan berinisial E itu ternyata hasilnya berbeda dan non reaktif.

“Kami juga sudah konfirmasi ke Puskesmas, kenapa hasilnya bisa beda. Kami juga bingung karena yang tiga reaktif tetap menolak diswab,” terangnya. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT