Hijrah Jadi Wisata Religi, Puluhan PSK Ditemukan Masih Berkeliaran di Gunung Kemukus pada Malam 1 Suro
JOGLOSEMARNEWS.COM | 21/08/2020 08:10
Hijrah Jadi Wisata Religi, Puluhan PSK Ditemukan Masih Berkeliaran di Gunung Kemukus pada Malam 1 Suro
lustrasi pengunjung Gunung Kemukus saat malam satu suro, Kamis (20/8/2020) dinihari. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meski sudah dicanangkan hijrah sebagai wisata religi, obyek wisata Makam Pangeran Samudera Gunung Kemukus di Sumberlawang Sragen ternyata belum sepenuhnya bisa lepas dari aktivitas beraroma esek-esek.

Obyek wisata yang berada di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang itu tetap masih dihiasi oleh aktivitas maksiat.

Kemunculan wanita penghibur masih banyak dijumpai berada di sekitaran kompleks wisata tersebut. Fakta itu terlihat saat malam satu suro, Kamis (20/8/2020) malam hingga dinihari

Pantauan di lapangan, para wanita penghibur itu banyak bermunculan di warung-warung sekitar areal makam Pangeran Samudera.

Hanya bedanya, penampilan mereka terlihat tak terlalu vulgar seperti beberapa tahun silam. Sebagian bahkan terlihat mencoba berkamuflase mengenakan pakaian agak tertutup.

“Masih banyak Mas. Di warung-warung kopi itu hampir sebagian besar ada cewek-ceweknya. Dan mereka memang menyediakan jasa gituan. Hanya saja sekarang nggak terang-terangan kayak dulu kan pada jejer-jejer dan mangkal di pinggir-pinggir jalan. Sekarang mereka ngetem di warung-warung itu dan pakaiannya nggak seterbuka dulu. Tapi aslinya ya gituan,” papar Rian (29) salah satu warga Sumberlawang, Sragen kepada wartawan di lokasi Gunung Kemukus, Kamis (20/8/2020) dinihari.

Keberadaan wanita-wanita yang diduga sebagai pramunikmat itu terlihat berada di warung sepanjang jalan menuju ke arah makam dari sisi utara maupun barat kompleks makam.

Salah satu tokoh di Desa Pendem, HAR (45) juga tak menampik bahwa kompleks sekitaran makam Pangeran Samudera memang masih banyak dihuni wanita-wanita penghibur.

Mereka banyak muncul saat malam Jumat yang menjadi malam ramai para pengunjung. Termasuk malam satu suro kemarin yang menjadi malam puncak ritual di Gunung Kemukus.

“Lebih dari 50 orang ada pas satu suro ini. Mereka ya mangkalnya di warung-warung kopi itu. Di warung-warung itu sebagian juga menyediakan kamar-kamar,” tuturnya.

Lantas bagaimana respon pengunjung? Salah satu pengunjung asal Desa Kecapi, Jepara, Mukari (63) mengaku hampir tiap tahun selalu menyempatkan ziarah ke Gunung Kemukus utamanya saat satu suro.

Ia biasanya datang berombongan dengan rekan-rekannya mengendarai mobil. Ia mengaku jauh-jauh datang ke Kemukus karena ingin berziarah ke Makam Pangeran Samudera.

“Saya hampir tiap tahun kalau suronan pasti ke sini. Ya cuma ziarah ke makam lalu berdoa minta pada Allah agar diperlancar rezeki untuk nafkah anak istri. Kalau soal harus gituan (seks) saya pribadi nggak yakin. Kalau saya niatnya hanya ziarah Mas,” ujarnya.

Terpisah, Penanggungjawab Obyek Wisata Makam Pangeran Samudera, Marcellus Suparno mengatakan pihaknya sudah gencar menyosialisasikan pelurusan sejarah Makam Pangeran Samudera.

Bahwa menurut sejarah yang benar, tidak ada ritual lain di Kemukus kecuali memang berziarah ke makam saja.

“Kalau soal keharusan itu (ritual mesum), sebenarnya nggak ada. Kita juga terus memberikan pemahaman ke pengunjung soal pelurusan sejarah sedikit demi sedikit. Kalau masalah anak binaan (PSK), ya memang ada satu dua tapi mereka di luar lokasi makam. Dan mereka seperti menyamar dengan pakaian agar tertutup dan kadang nyamar sebagai pengunjung sehingga agak susah dideteksi,” terangnya.

Ia menambahkan sejak pandemi covid-19, jumlah pengunjung memang anjlok drastis. Selain pengunjung lokal, untuk suro ini kebanyakan dari Jatim dan datang luar daerah lainnya.

“Tahun ini pengunjung dari Jatim mulai banyak. Tapi dari Jakarta dan Bandung agak menurun. Kita juga tak henti meluruskan sejarah yang melenceng itu sedikit demi sedikit ke pengunjung,” tukasnya. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT