Sumarno Penyandang Difabel Putuskan Mundur dari Penerima PKH, Merasa Sudah Mampu dan Ingin Mandiri
JOGLOSEMARNEWS.COM | 13/05/2020 10:20
Sumarno Penyandang Difabel Putuskan Mundur dari Penerima PKH, Merasa Sudah Mampu dan Ingin Mandiri
Yu Rebi (kiri) penjual pecel dan Sumarno Iko (kanan) penyandang difabel asal Desa Bedoro, Sambungmacan, Sragen yang memutuskan mundur dari penerima bantuan PKH karena merasa sudah cukup dan ingin mandiri. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM –  Di tengah sulitnya kondisi perekonomian sebagai dampak pandemi virus Corona atau COVID-19, fenomena menarik menyeruak dari Desa Bedoro, Kecamatan Sambungmacan, Sragen.

Sebanyak sembilan keluarga di desa ini justru memutuskan mundur dari program keluarga harapan (PKH).

Seperti anomali di saat banyak warga berharap tinggi dapat bantuan, mereka mendadak meminta dicoret dari daftar penerima manfaat. Alasannya merasa sudah tidak layak lagi mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Uniknya, di antara sembilan keluarga tersebut merupakan penyandang disabilitas, dan satu lagi hanya berprofesi sebagai penjual pecel.

 

Mereka adalah Sumarno (45) alias No Iko, penyandang difabel asal Dukuh Pucang RT 22/6, dan Rebi (55) penjual pecel warga Dusun Bero.

Saat ditemui di rumahnya Senin (11/5/2020), Sumarno mengaku sudah ikhlas untuk mundur dari PKH. Dia memutuskan mundur karena merasa sudah cukup setelah ada perbaikan ekonomi dalam setahun terakhir.
Kondisi Sumarno Iko. Foto/Wardoyo

Meski dengan tangan yang tak sempurna, perjuangan kerasnya merintis usaha gorong-gorong di KUBE dan kerja nyopir material, dirasanya sudah sedikit merubah ekonominya.

“Saya dapat PKH sudah 1,5 tahun. Cita-cita saya kalau sudah mampu dan cukup untuk makan, saya memang ingin mundur. Alhamdulillah sekarang usaha sudah jalan, kemarin kami bicarakan sama istri dan anak, akhirnya kami putuskan mundur dan ingin mandiri,” paparnya di hadapan Kades yang menyambangi kediamannya.

Sumarno memiliki dua anak kembar yang kini duduk di bangku SMP. Istrinya bekerja sebagai buruh pabrik. Keputusannya mundur juga untuk memberi contoh bagi penerima PKH yang lain dan sudah mampu agar bisa mengikuti jejaknya.

“Saya sendiri juga nggak tega. Kayaknya sudah cukup kok masih nerima bantuan. Harapan saya yang lain yang sudah mampu biar bisa menyadari dan mundur juga. Karena dari pengamatan saya masih banyak penerima PKH yang sudah mampu. Biar dialihkan ke warga yang tidak mampu yang benar-benar membutuhkan,” terangnya.

Sumarno bahkan mengusulkan ke desa agar setahun sekali penerima PKH dikumpulkan KK-nya dan divalidasi ulang.

Kemudian yang sudah mampu bisa ditinjau ulang dan diberikan ke warga yang tidak mampu tapi belum mendapat.

Sementara, Rebi (55) yang berprofesi penjual pecel, mengaku memutuskan mundur setelah 1 tahun menerima PKH. Ia merasa sudah ada perbaikan ekonomi semenjak usaha pecelnya makin ramai.

“Sudah ikhlas Pak. Kalau dulu memang rumah saya masih rompok, kena banjir jebol semua dindingnya. Alhamdulillah setahun dapat PKH, sekarang usaha jualan pecel mulai jalan dan sepertinya sudah cukup. Ya malu dan pekewuh kalau masih dapat bantuan. Stiker miskin juga sudah nggak ditempel lagi,” tuturnya.

Kades Bedoro, Prihartono mengapresiasi langkah sembilan keluarga ini sukarela mundur dari PKH. Pasalnya, fenomena di lapangan memang tak sedikit warga yang secara ekonomi sudah mandiri namun masih nyaman terdaftar sebagai penerima bantuan.

“Kami selaku pihak desa salut dengan mereka. Karena di tengah kondisi sulit karena pandemi, mereka masih sanggup memikirkan warga lain yang lebih membutuhkan,” imbuhnya.

Foto/Wardoyo

Prihartono menyebut di Desa Bedoro saat ini terdapat 229 keluarga yang masuk dalam daftar PKH. Mundurnya sembilan keluarga ini akan dilaporkan ke petugas terkait agar segera diproses.

“Sehingga nanti jika Desa Bedoro masih mendapatkan jatah, bisa dialihkan ke keluarga lain yang membutuhkan. Ke depan, secara periodik enam bulan sekali juga akan kami adakan validasi untuk memastikan bantuan pemerintah tepat sasaran,” kata Prihartono.

Sikap meminta mundur dari PKH itu juga diapresiasi Kepala Dinas Sosial Sragen, Joko Saryono. Ia mengaku kagum dan salut dengan kebesaran jiwa warga Bedoro yang merasa sudah cukup dan ingin mandiri serta tak hanya bergantung dari PKH pemerintah.

“Justru mereka itulah orang kaya yang sesungguhnya. Kaya hati dan jiwa. Mudah-mudahan ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi yang lain,” tukasnya. Wardoyo


BERITA TERKAIT