31 Anggota Jamaah Tabligh di Sragen Eks Peserta Ijtima Ulama Gowa Batal Dikarantina di Masjid
JOGLOSEMARNEWS.COM | 27/04/2020 14:40
31 Anggota Jamaah Tabligh di Sragen Eks Peserta Ijtima Ulama Gowa Batal Dikarantina di Masjid
Seorang perwira polisi yang mengenakan pakaian pelindung menyemprotkan desinfektan di atas tenda Ijtima Dunia 2020 Zona Asie, di tengah penyebaran penyakit coronavirus (COVID-19) di Gowa, Sulawesi Selatan, 19 Maret 2020. REUTERS/Stringer

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebanyak 31 warga peserta tabligh akbar ijtima Ulama asal Sragen yang diketahui positif rapid test covid-19, batal diisolasi di masjid.

Mereka akhirnya memilih manut kebijakan pemerintah untuk dikarantina di gedung Sasana Manggala Sukowati (SMS) Sragen. Karena tidak ada gejala klinis, 31 jemaah itu kini menjadi orang tanpa gejala alias OTG.

Tiga puluh satu jemaah itu akan mulai dikarantina Senin (27/4/2020) sampai 14 hari ke depan. Pemkab menjamin kebutuhan logistik dan asupan mereka selama menjalani karantina mandiri.

“Kami sudah siapkan gedung SMS milik Pemkab Sragen untuk melakukan karantina bagi 31 orang yang sudah positif dalam rapid test. Mereka akan masuk mulai besok (Senin, 27/4/2020). Nanti hari Selasa (28/4/2020) kita akan laksanakan swab test,” papar Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat konferensi pers kepada waratawan, Minggu (26/4/2020).

Apabila hasil swab nantinya menunjukkan positif, maka mereka diharuskan tetap berada di SMS sampai dilakukan tes swab kedua.

Jika hasil tes swab kedua negatif, barulah mereka diperkenankan pulang untuk melanjutkan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari.

Bupati mengatakan treatment yang dilakukan untuk 31 jemaah itu, mereka akan diberikan makan sehari dua kali dan asupan gizi.

“Kita berikan juga tempat agar mereka bisa masak sendiri. Intinya supaya mereka bisa diawasi secara optimal makanya dijadikan satu di sini,” urainya.

Yuni menyampaikan saat ini 31 orang itu dalam keadaan baik dan tidak menunjukkan gejala alias menjadi orang tanpa gejala (OTG).

Apabila dalam masa karantina di SMS, mereka ada gejala dan membutuhkan perawatan lebih lanjut, maka akan langsung dikirim ke RSUD Sragen atau Gemolong.

Gedung SMS dipilih mengantikan alternatif awal lokasi karantina yang semula akan ditempatkan di masjid.

“Tidak jadi dikarantina ke masjid. Pertimbangannya setelah kami panggil secara musyawarah ternyata mereka lebih memilih manut pemerintah saja,” pungkasnya. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT