Luhut Jawab Kritikan Ijinkan Ojol Bawa Penumpang, Tabrak Permenkes Soal Physical Distancing
JOGLOSEMARNEWS.COM | 15/04/2020 15:30
Luhut Jawab Kritikan Ijinkan Ojol Bawa Penumpang, Tabrak Permenkes Soal Physical Distancing

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 18 Tahun 2020 yang salah satu klausulnya membolehkan ojek online (Ojol) bawa penumpang, banjir kritik dari beberapa kalangan.

Menteri Perhubungan Ad Interim, Luhut Binsar Pandjaitan pun menjawab protes dari sejumlah pihak tersebut.

Sebagaimana diketahui, beleid itu memuat izin Kementerian terhadap pengendara sepeda motor, tarmasuk ojol, mengangkut penumpang di zona Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Luhut mengatakan, aturan teknis terkait transportasi pribadi di zona PSBB ini dirancang untuk skala nasional. Artinya, kata dia, aturan itu juga mempertimbangkan kondisi di daerah lain di luar Ibu Kota Jakarta.

 
“Jadi PSBB itu bukan hanya untuk DKI Jakarta saja. Tapi juga tempat lain,” ujar Luhut dalam konferensi pers yang dilakukan secara virtual Selasa (14/4/2020).

Luhut memastikan aturan terkait mode trasnportasi roda dua boleh mengangkut penumpang ini telah diserahkan kepada daerah masing-masing dengan mempertimbangkan pelbagai hal.

Ia mengklaim terbitnya aturan yang ia undangkan pada 9 April tersebut
tidak menimbulkan polemik, baik di level pemerintah pusat maupun daerah.

“Kami sudah koordinasikan dengan Menteri Kesehatan, Gubernur DKI Jakarta, dan kepala-kepala daerah lainnya,” ucapnya.

Dalam penyusunannya pun, ia berkukuh Kementerian tidak sembrono merumuskan aturan. Kementerian, kata dia, juga telah mempertimbangkan beleid-beleid lain yang terbit sebelum Permenhub Nomor 18 Tahun 2020. Adapun beleid ini disusun dengan melibatkan ahli hukum.

“Ya saya tanya ahli hukum, ahli hukum saya ini sudah paten,” ujarnya.

Salah satu poin dalam aturan itu memuat bunyi bahwa sepeda motor dalam hal tertentu dapat mengangkut penumpang asalkan memenuhi protokol kesehatan. Hanya dua hari pasca-diundangkan, beleid ini menuai protes keras dari pelbagai penjuru.

Kritikan itu datang dari Masyarakat Transportasi Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, hingga Dewan Perwakilan Rakyat.

Musababnya, beleid itu dianggap bertabrakan dengan sejumlah aturan, seperti Pasal 13 ayat 10 huruf a Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 yang menyebutkan bahwa penumpang kendaraan, baik umum maupun pribadi, harus mengatur jarak.

Aturan ini juga dianggap berbenturan dengan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Selanjutnya, beleid itu pun dipandang bertolak belakang dengan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2020 yang mengatur ojol hanya diperkenankan membawa barang dan mengantarkan makanan.


BERITA TERKAIT