Menguak Seminar di Bogor yang Jadi Titik Awal Penyebaran Corona, 2 Peserta Meninggal dari Solo dan Wonogiri
JOGLOSEMARNEWS.COM | 20/03/2020 12:40
Menguak Seminar di Bogor yang Jadi Titik Awal Penyebaran Corona, 2 Peserta Meninggal dari Solo dan Wonogiri
Seorang petugas medis bersiap memakai alat pelindung diri untuk memeriksa pasien suspect virus Corona di ruang isolasi instalasi paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai di Dumai, Riau, Jumat, 6 Maret 2020. Kasus Nomor 1 suspect COVID-19 yang dalam masa observasi kondisinya juga sudah sembuh dan masih menunggu hasil uji spesimen dari laboratorium di Jakarta. ANTARA

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wabah penyakit corona virus terus memakan korban. Menariknya dari beberapa kasus korban meninggal dalam status positif corona di beberapa daerah, sejumlah korban menunjukkan kesamaan gejala dan riwayat.

Salah satunya, pada tiga korban positif di Solo, Wonogiri dan Lampung dalam dua hari terakhir. Ternyata hasil pelacakan, mereka sama-sama baru pulang mengikuti seminar di Bogor, Jawa Barat.

Pertanyaan yang mencuat, sebenarnya seminar di Bogor itu seminar apa?

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah (Jateng) pun mengaku masih terus mengungkap kisah di balik penyelenggaraan seminar di Bogor, Jawa Barat (Jabar) akhir Februari lalu itu.

Dari data sejauh ini, sudah ada empat pasien yang pulang dari seminar di Bogor itu terdeteksi positif virus corona (Covid-19).

Keempat pasien itu dirawat di RSUD dr Moewardi Solo, di mana dua orang di antaranya meninggal dunia.

Hal itu disampaikan Kepala Dinkes Jateng, Yulianto Prabowo kepada wartawan di Semarang kemarin.

Ia mengaku belum mengetahui secara pasti berapa banyak warga Jateng, terutama dari Soloraya, yang mengikuti seminar di Bogor itu.

Meski demikian, berdasarkan informasi sementara yang diperoleh, seminar itu diikuti sekitar 400 orang.

“Kita sudah tanyakan kepada pasien, mereka juga nggak hafal maupun kenal antarpeserta. Tapi, informasinya itu seminar tentang bisnis syariah dan estimasi diikuti 400 orang,” tutur Yulianto saat dijumpai di rumah dinas Gubernur Jateng, Rabu (18/3/2020) malam.

Yulianto mengatakan pihaknya masih terus berkomunikasi dengan Dinkes Jawa Barat (Jabar) untuk mengetahui penyelenggara seminar tersebut.

“Itu terus kita lakukan. Kita terus koordinasi dengan Dinkes Jabar,” terang Yulianto.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, meminta warga Jateng yang merasa menjadi peserta seminar di Bogor itu untuk melapor ke dinas kesehatan terdekat.

“Silakan lapor. Nanti akan kita tindak lanjuti. Ini jadi perhatian kita. Pasien yang meninggal kemarin juga ada riwayat dengan pasien sebelumnya,” ujar Ganjar.

Sementara hingga Kamis (19/3/2020) pagi, sudah ada 10 pasien positif Covid-19 yang dirawat di Jateng.

Ke-10 pasien itu, tiga di antaranya meninggal dunia. Dari tujuh pasien yang masih dirawat, tiga dirawat di Solo, tiga orang di Semarang, dan 1 orang di RSUD Tidar Magelang.

Sebelumnya, Bupati Wonogiri Joko Sutopo mengungkapkan seorang warga Wonogiri dinyatakan positif terjangkit corona dan meninggal dunia, Rabu (18/3/2020).

Sebelumnya, warga tersebut dirawat di RS Moewardi Solo, sejak 13 Maret lalu.

“Meninggal tadi petang sekitar pukul 18.00 WIB di RS Moewardi Solo,” ungkap Bupati.

Menurut Bupati warga tersebut temasuk dalam klaster yang ikut acara di Bogor dan pulang tanggal 29 Februari.

Korban sempat dirawat di sebuah satuan kesehatan di Wonogiri sebelum kemudian dirujuk ke Moewardi sejak tanggal 13 Maret lalu.

“Saat ini, ada 4 warga kami berstatus PDP. Sedangkan yang status ODP ada 3 orang,” tegas dia.

Dengan adanya kasus pertama positif corona itu pihaknya segera mengadakan treking sekitar lingkungan warga itu. Tahapan ini dilanjutkan dengan inventarisasi berapa orang yang melakukan kontak.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan pasien positif corona di RSUD Moewardi Solo telah meninggal pada Rabu (18/3/2020) sore.

Berarti hingga saat ini sudah ada tiga pasien positif corona di Jateng yang meninggal.

“Pasien sempat dirawat selama dua hari di RS Moewardi,” kata Ganjar di Puri Gedeh, Rabu (18/3/2020) malam.

Gubernur menerangkan pasien tersebut berjenis kelamin perempuan berusia 49 tahun. Aria/Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT