Balik dari Piknik ke Bali, 2 Bus Rombongan Keluarga Besar di Sragen Ditolak Pulang Warga Desa
JOGLOSEMARNEWS.COM | 20/03/2020 12:20
Balik dari Piknik ke Bali, 2 Bus Rombongan Keluarga Besar di Sragen Ditolak Pulang Warga Desa
Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat mengontrol ruangan khusus untuk wabah Virus Corona di Ruangan Isolasi Infeksi Khusus Kemuning Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS), di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 24 Januari 2020. RSHS menyiapkan ruangan inap khusus dengan lima tempat tidur serta Tim Dokter dan petugas medis khusus yang siap siaga jika ada pasien suspek atau terinfeksi Virus Corona. ANTARA

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wabah corona virus yang makin mengancam, memberi dampak psikis luar biasa bagi warga. Di Sragen, sekitar 108 warga di Desa Pilang, Kecamatan Masaran sempat ditolak pulang ke rumah karena diketahui barusaja pulang dari acara keluarga di Bali.

Aksi penolakan warga itu terjadi menyusul meningkatnya jumlah kasus corona dan sampai merenggut korban jiwa di Solo.

Data yang dihimpun JOGLOSEMARNEWS.COM , aksi penolakan itu terjadi Minggu (15/3/2020). Ceritanya, ada sekitar 106 warga satu keluarga besar asal Desa Pilang, Masaran yang barusaja pulang dari acara arisan keluarga di rumah kerabat mereka di Bali.

Saat hendak pulang, bersamaan dengan status KLB Corona di Solo, warga lain yang ada di desa, ketakutan jika sampai rombongan yang pulang dari Bali itu terinfeksi corona.

“Ada sekitar 100 orang lebih. Mereka naik dua bus dan mobil pribadi. Nah pas mau pulang hari Minggu, warga yang di rumah itu pada ketakutan karena Bali kan juga sudah ada kasus corona dan meninggal. Belum sampai mereka pulang, yang di rumah pada menolak dan minta mereka nggak usah pulang. Takut nanti terpapar corona,” papar Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Sugiyamto, Kamis (19/3/2020).

Ketakutan warga kian bertambah menyusul kabar adanya siswa salah satu SMPN di Sragen yang diisukan positif corona sepulang dari Bali. Meski kabar itu kemudian terkonfirmasi hanya hoax, ketakutan warga tetap memuncak.

Hingga akhirnya, warga tetap bersikukuh menolak mereka pulang ke kampung sebelum ada kepastian mereka bebas dari virus corona.

Tak hanya ditolak pulang, dua rombongan itu juga sempat ditolak ketika hendak meminjam halaman gedung IPHI untuk melakukan tes pemeriksaan kesehatan.

“Saya juga kaget sore-sore digeruduk warga katanya menolak mereka pulang, takut kalau terkena corona. Akhirnya saya beri penjelasan, kalau takut harus diperiksa dulu biar ketahuan kondisinya. Sempat ditolak minjam halaman IPHI, akhirnya dua rombongan bus dan mobil itu dari Bali langsung menuju halaman kecamatan dan diperiksa petugas di sana. Setelah hasilnya negatif semua, warga baru bisa menerima mereka pulang,” terang Sugiyamto.

Terpisah, Kepala Desa Pilang, Sukisno tak menampik adanya insiden penolakan itu. Ia menguraikan kejadian berawal ketika ada agenda arisan keluarga satu trah di Pilang ke Bali dan kebetulan yang dapat arisan berdomisili di Bali.

Rombongan yang berangkat ada beberapa keluarga dari keturunan satu trah menyewa dua bus dengan jumlah sekitar 90an warga. Selain itu ada yang naik mobil pribadi sekitar 16 orang lebih sehingga total ada 106an orang.

“Rombongan berangkat hari Jumat (13/3/2020). Sampai Bali hari Sabtu dan pulang Minggunya. Sabtunya itu hanya nongkrong di Bali sana di sana pun juga rumahnya sendiri gitu. Memang ada yang nginap di hotel 10 orang, terus ada di tetangga ada 6. Jadi total sekitar 106 orang,” paparnya.

Nah, saat rombongan hendak pulang, mendadak dapat kabar dari desa bahwa warga menolak karena takut terkena corona.

Meski sudah berusaha dijelaskan dan diberi pemahaman, warga di rumah tetap bersikukuh tak mau menerima kepulangan warga.

“Sebenarnya pas kita berangkat tidak ada berita yang macam-macam. Setelah sampai Bali, pas ada berita bahwa di Solo itu KLB. Akhirnya pada hari Minggu arisan selesai jam 12.00 WIB. Sebenarnya akan melanjutkan ke obyek wisata tapi karena situasi Solo yang sedemikian parah, akhirnya saya putuskan kunjungan wisata dibatalkan dan langsung pulang,” urai Sukisno yang juga ikut di rombongan itu.

Meski sebagian peserta nggrundel karena batal berwisata, ia memutuskan untuk langsung pulang karena kondisi darurat corona.

Meski warga dari desa sempat menyatakan agar tak pulang, rombongan tetap pulang.

Saat tiba di Sragen, situasi menjadi makin tak nyaman. Setelah sempat bersitegang dengan warga di kampung, akhirnya rombongan memutuskan langsung menuju ke halaman kecamatan Masaran untuk menjalani pemeriksaan di pagi buta.

“Sampai malam itu semua diperiksa satu satu. Alhamdulillah berkat doa teman-teman, semuanya dinyatakan tidak ada yang terkena corona,” tukasnya.

Kades memastikan saat itu tidak ada warga yang menghadang ketika warga pulang. Hanya saja sempat ada penolakan karena takut terindikasi corona.

Namun setelah hasil tes semuanya dinyatakan negatif, warga akhirnya lega dan bisa menerima kepulangan mereka kembali. Kades menambahkan saat ini situasi warga sudah berangsur kondusif dan tidak ada lagi penolakan. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT