Polisi Bongkar Prostitusi Online Sesama Jenis di Semarang, Barang Bukti dari Wig, Bra sampai Kondom
JOGLOSEMARNEWS.COM | 13/03/2020 16:15
Polisi Bongkar Prostitusi Online Sesama Jenis di Semarang, Barang Bukti dari Wig, Bra sampai Kondom

SEMARANG,JOGLOSEMARNEWS.COM  Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng berhasil mengungkap praktik prostitusi online sesama jenis (gay) melalui media sosial twitter.

Satu pelaku dan mucikari diamankan dalam kasus ini. Modus yang digunakan yakni menyamar jasa panti pijat di Semarang dengan mengamankan dua terduga pelaku yaitu F (28) dan AW (32).

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Jateng Kombes Pol R. Y. Wihastono Yoga Pranoto, S.I.K., M.Hum menyampaikan prostitusi online ini, terduga pelaku menawarkan jasa pijat plus khusus gay melalui media sosial twitter.

“Modus terduga pelaku menawarkan jasa pijat plus khusus gay dengan layanan seksual melalui media sosial twitter dengan tujuan mendapatkan keuntungan finasial dan kepuasan pribadi,” jalas Kombes Pol Wihastono dilansir Tribratanews Polda Jateng.

Direskrimsus Polda Jateng menambahkan, pengungkapan kasus ini bermula dari hasil patroli siber yang dilaksanakan oleh Subdit V Siber Ditreskrimsus menemukan akun twitter yang menawarkan jasa pijat sensual sesama jenis. “Dari hasil penelusuran ini, Kamis (5/3) kami berhasil membekuk terduga pelaku sesama jenis F (28) di salah satu hotel di Kota Semarang,” ujarnya.

 

Dari hasil pengembangan, yim juga mengamankan AW (32) di salah satu rumah kost di Sleman Yogyakarta. Dia diduga sebagai mucikari bisnis prostitusi online. “Kedua terduga pelaku dibawa ke Ditreskrimsus Polda Jateng untuk proses penyidikan lebih lanjut,” kata Kombes Pol Wihastono.

Dari kedua terduga pelaku, petugas dari Ditreskrimsus berhasil mengamankan berbagai barang bukti. Antara lain HP, wig, bra, alat kontrasepsi kondom, suplemen, buku tabungan, kartu identitas dan uang tunai.

“Kedua terduga pelaku akan dijerat dengan pasal 45 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik. Dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak 1 miliar rupiah, ” kata Dirreskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Wihastono. (JSnews)


BERITA TERKAIT