Pelajar Asal Papua di Sragen Masih Trauma, Takut dan Lari Saat Lihat Polisi
JOGLOSEMARNEWS.COM | 11/02/2020 09:20
Pelajar Asal Papua di Sragen Masih Trauma, Takut dan Lari Saat Lihat Polisi
Kepala SMKN 1 Kedawung Sragen, Taryono ( dua dari kanan) bersama pelajar asal Papua saat berpose sebelum tampil di Karnaval Pembangunan HUT RI di Pemkab Sragen tanggal 27 Agustus 2019 lalu. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM -Empat siswa SMKN 1 Kedawung asal Papua yang nekat kabur dan pulang ke Papua saat rusuh di Bumi Cendrawasih akhir bulan Agustus 2019 silam, dilaporkan sudah kembali ke bangku sekolah di SMKN 1 Kedawung.

Namun, satu dari empat siswa itu dikabarkan masih mengalami trauma berat. Satu pelajar itu dikabarkan belum bisa lepas dari ketakutannya acapkali melihat polisi.

BACA: Kisah Bocah 8 Tahun asal Karanganyar Yang Alami Traumatic Gara-gara Melihat Kerusuhan Wamena. DKK Intensifkan Pendampingan Psikis 

Diduga kuat, satu pelajar tersebut masih belum bisa melepaskan ingatannya saat didoktrin oleh beberapa mahasiswa yang membujuk mereka dan meminta pulang kampung saat kerusuhan Papua beberapa bulan lalu.

“Sudah kembali lagi ke sini dan sudah bersekolah. Mereka tinggal di asrama sekolah seperti dulu. Hanya memang masih ada satu siswa yang sepertinya belum bisa lepas dari trauma. Setiap lihat polisi selalu ketakutan dan lari,” papar Kepala SMKN 1 Kedawung Sragen, Taryono saat berbincang dengan JOGLOSEMARNEWS.COM , belum lama ini.

Taryono menguraikan keempat pelajar itu pulang kembali ke SMKN 1 Kedawung dalam kondisi sehat. Mereka pun bercerita sebenarnya ketika memutuskan pulang, mereka tidak tinggal di Papua karena situasi yang saat itu rusuh.

Mereka sebagian malah mengungsi ke tempat saudara di Maluku. Setelah situasi membaik, mereka baru kembali ke Sragen beberapa waktu lalu.

“Kalau yang tiga siswa sudah belajar dam beraktivitas seperti biasa. Tapi yang satu anak, sepertinya masih terbawa psikisnya. Karena dulu sempat terprovokasi dua mahasiswa yang mengajak mereka pulang ke Papua saat kerusuhan. Nah waktu itu mereka dibilangi kalau lihat polisi suruh lari,” terang Taryono.

Berbagai upaya pendekatan dan pembinaan terus dilakukan untuk memulihkan psikis satu siswa itu. Bahkan, Taryono mengaku sempat mengajak siswa itu ke Kalapas Sragen, Yosef Yembise yang juga kelahiran Papua untuk diberikan penenangan.

Sempat juga yang bersangkutan diajak bertemu dengan Kapolres Sragen agar bisa melepaskan dari ketakutannya.

“Harapan kami ya segera bisa pulih dan nggak ketakutan lagi. Kami juga sudah yakinkan bahwa aman dan nggak ada apa-apa. Mudah-mudahan segera bisa pulih kembali,” tukasnya.

Seperti diberitakan, empat siswa itu diketahui meninggalkan asrama SMKN 1 Kedawung Kamis (28/8/2019) malam atau tepat sehari setelah tampil di karnaval pembangunan memeriahkan HUT ke-74 RI yang digelar di jalan protokol Sragen, Rabu (27/8/2019).

Mereka kabur tanpa memberitahu sekolah karena diduga terprovokasi oleh kasus kerusuhan di Malang dan Surabaya serta kabar kerusuhan yang melanda di Papua.

BACA: Dampak Kerusuhan Papua, DPRD Karanganyar Minta Dinas Sosial Lebih Sigap Bergerak

Malam sebelum kabur (Kamis, 28/8/2019), para siswa itu sempat didatangi dua orang mahasiswa asal Jogja. Disinyalir mahasiswa itu melakukan provokasi sehingga membuat keempat siswa itu nekat meninggalkan asrama untuk pulang ke Papua.

“Mereka meninggalkan asrama malam hari, sehari setelah tampil di Karnaval Pembangunan itu. Sebenarnya juga sudah kami beri pemahaman bahwa di Sragen dijamin aman dan mereka sudah tenang. Tapi mungkin terprovokasi kerusuhan di Malang dan Surabaya itu dan mendengar kabar kalau Papua panas. Malam hari itu, petugas penjaga sekolah bilang ada dua orang mahasiswa yang datang dari Jogja dan menemui mereka. Malam itu juga mereka langsung berangkat ke Papua,” papar Taryono. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT