Siswi Korban Teror WA Rohis SMA Negeri di Sragen Masih Trauma, Belum Mau Sekolah dan Takut Dibully
JOGLOSEMARNEWS.COM | 10/01/2020 08:20
Siswi Korban Teror WA Rohis SMA Negeri di Sragen Masih Trauma, Belum Mau Sekolah dan Takut Dibully
Agung Purnomo, orangtua siswi yang diteror gegara tak pakai jilbab di SMAN 1 Gemolong, Sragen saat menunjukkan bukti kiriman pesan bernada intimidasi kepada putrinya, Kamis (9/1/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM– Kasus intimidasi dan teror yang menimpa Z (15), siswi SMAN 1 Gemolong Sragen oleh rohani islam (Rohis) gegara tak pakai jilbab, ternyata berdampak panjang.

Setelah terekspos di media dan menjadi sorotan luas, siswi Z menjadi ketakutan. Siswi asal Doyong, Miri itu bahkan sampai tidak masuk sekolah hari ini, Kamis (9/1/2020).

“Tadi pagi dia nangis dan nggak mau mandi. Nggak mau masuk sekolah. Katanya takut setelah kasus ini ramai di media sosial. Dia takut kalau nanti dibully di sekolah. Kedua takut ke guru PAI kalau sampai diperlakukan diskriminatif. Kebetulan tadi saya ada agenda meeting di Jogja, ya udah saya ajak sambil saya beri penguatan. Hari ini tadi memang nggak masuk sekolah, tapi sudah saya mintakan izin juga ke sekolah,” papar Agung Purnomo (46) orangtua Z kepada JOGLOSEMARNEWS.COM, Kamis (9/1/2020).

BACA: Narkoba Sragen Makin Merajalela, 55 Mafia Ditangkap di Polres. KBO Ungkap Masyarakat Takut...

Namun putrinya perlahan mulai tegar setelah mendapat banyak support dari alumni-alumni SMAN 1 Gemolong yang bersimpati atas apa yang dialaminya.

Selain itu, Z juga mulai bisa tenang dan siap untuk bersemangat untuk sekolah lagi setelah mendengar orangtuanya mendapat dukungan dari Gubernur Ganjar Pranowo.

“Tadi Pak Gubernur kontak kami langsung dan mensupport kami. Setelah itu, dia (Z) baru mulai kuat dan semangat lagi. Dia Insya Allah besok sudah siap masuk kembali. Tadi Pak Gubernur juga pesan yang penting tetap semangat sekolah,” terang Agung.

Agung juga menguraikan perlakuan itu diduga sudah lama dialami putrinya sejak pekan pertama masuk ke SMAN tersebut. Ia juga meyakini hal itu tak menutup kemungkinan dialami oleh siswi lainnya, hanya saja tidak berani mengadu.

“Awalnya saya menganggap mungkin biasa dinamika anak-anak sekolah. Tapi kok lama-lama pesannya sudah memaksa dan menjurus menghujat kami orangtua yang dianggap tidak tahu dalil-dalil agama. Nah, lama-lama anak saya itu merasa terganggu sehingga sempat ngeblog nomor itu. Tapi kemudian malah nekat mengirim spaming lewat nomor-nomor teman di sekitarnya. Lama-lama tidak sopan dan sudah menjurus intoleransi,” terang Agung.

Sementara, pihak sekolah mengklaim permasalahan itu sudah diselesaikan damai dengan pihak orangtua siswi pada pertemuan Senin (6/1/2020) lalu. Kepala SMAN 1 Gemolong, Suparno mengatakan bahwa pihak orang tua Z, Agung Purnomo sudah datang ke sekolah dan melakukan tabayun.

Kemudian dari sekolah juga menerima dengan menghadirkan pengurus dan Ketua, wakasek dan beberapa pihak. Menurutnya, dari pertemuan itu sudah tercapai perdamaian, pihak sekolah dan Rohis sudah mengakui kesalahan serta meminta maaf.

“Kemarin orangtua siswi sudah datang ke sekolah, sudah islah dan tabayun. Saya langsung matur bahwa sekolah meminta maaf. Sudah disepakati damai. Malah dari orangtua siswi itu mbantu pembangunan masjid Rp 10 juta. Makanya kami anggap masalahnya sudah selesai dan damai Mas. Nggak ada apa-apa,” papar Suparno, Kamis (9/1/2020).

Suparno menemui awak media dengan didampingi tiga wakilnya. Masing-masing Parmono selaku Wakaksek Kesiswaan, Sumanti Wakasek Humas dan Karmini Wakasek Kurikulum.

Ia memastikan saat ini situasi sekolah damai dan KBM berjalan normal tanpa ada masalah apapun. Ia menyebut sebenarnya persoalannya hanya adu pendapat dari siswi soal ajakan dakwah dari Rohis untuk berhijab namun kemudian berkembang dan ada kalimat yang dianggap bernada pemaksaan.

“Namanya anak-anak usia 16 tahun lho Mas. Biasa eyel-eyelan. Nah mungkin difahami lain oleh siswi tersebut. Tapi kami sudah minta maaf dan sudah kami tindaklanjuti dan lakukan pembinaan,” terangnya.

Wakasek Humas, Sumanti menampik tudingan ada bibit radikalisme di SMAnya. Ia menjelaskan memang benar bahwa pesan-pesan yang bernada intimidasi itu diakui dikirim oleh Rohis.

“Memang yang kirim Rohis. Pesan dakwah, antara lain keutamaannya untuk berhijab. Kalau ada pesan yang lain nggak tahu,” kata dia.

Ia memastikan pihak orang tua saat datang ke sekolah sudah duduk bersama dan permasalahan itu dianggap sudah selesai.

BACA: Kecelakaan Maut di Gemolong Sragen. Asyik Duduk di Tepi Jalan, Nenek 80 Tahun Tewas...

“Jadi nggak ada terorisme dan radikalisme lho Mas. Dan permasalahan sudah diselesaikan damai. Nggak ada apa-apa Mas, cuma di medsos saja yang heboh,” kata dia.

Ia menguraikan selama ini Rohis itu digawangi anak-anak berprestasi dan juga rajin membantu sesama lewat kegiatan sosial.

“Waktu SMKN miri kena musibah, mereka kumpulkan dana sampai Rp 3 juta disumbangkan ke sana. Lalu Satpam atur lalu lintas di depan, Rohis kumpulkan dana. Ada gelas, piring kotor mereka cuci. Kemarin dari Pak Agung (orangtua Z) juga sudah nglenggana (menerima),” katanya. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT