Saat Sri Sultan Sindir Ganjar Pranowo Soal Bantuan untuk Muktamar Muhammadiyah di Solo
JOGLOSEMARNEWS.COM | 30/12/2019 09:50
Saat Sri Sultan Sindir Ganjar Pranowo Soal Bantuan untuk Muktamar Muhammadiyah di Solo

SUKOHARJO-Puncak rangkaian kegiatan Milad ke 61 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ditutup dengan pentas Ketoprak, Sabtu (28/12/2019) malam di GOR Kampus 2 UMS. Yang menarik, sejumlah tokoh dan pimpinan kampus juga turut bermain dengan para seniman kethoprak dari Radio Republik Indonesia (RRI).

Para tokoh yang beradu akting dalam pementasan kethoprak tersebut adalah mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsudin MA, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Tarzan Srimulat, Anggota PP Muhammadiyah Drs Marpuji Ali M.Si (sebagai Patih Danurejo), Rektor UMS Prof. Dr. Sofyan Anif M.Si (sebagai Adipati Anom), Wakil Rektor 2 Ir Sardjito Ph.D (sebagai Gubernur Jenderal Belanda) dan lainnya.

Karena bukan pemain profesional, tak urung akting mereka dipanggung sering luput terutama dalam dialog, namun hal itu justru mengundang tawa penonton. Apalagi improvisasi dialog mereka juga sering mengundang kelucuan.

Hadirnya pelawak senior Tarzan Srimulat memberi warna tersendiri. Ia mampu membawa suasana cair di tengah para tokoh yang bermain saat itu. Sekretaris BPH Dr. Sabar Narimo dan Sekretaris Rektor Dr. Anam Sutopo M.Hum yang turut mengambil peran sebagai tumenggung juga bisa bermain lepas.

Ribuan penonton dari warga Muhammadiyah dari kawasan Subasukawonosraten dan masyarakat umum memadati areal GOR hingga pementasan berakhir. Mereka tampak tergelak tawa saat para tokoh itu beradu akting dan ada yang keliru atau kelupaan naskah atau saat mereka saling sindir.

Din Syamsudin (tengah) yang memerankan Sultan HB VII dan Tarzan SRimulat (kiri) serta Gubernur Ganjar Pranowo saat main dalam Kethoprak Milad UMS ke61.

Misalnya saat Din Syamsuddin yang memerankan Sri Sultan HB VII itu membawa contekan naskah ke dalam panggung. Contekan naskah itu bolak – bolak dibuka karena tak fasih berbahasa Jawa. Hal itu berulang kali mengundang tawa penonton. Pria kelahiran Sumbawa NTB ini tak urung juga menjadi bahan candaan Tarzan yang berperan sebagai Aspri (Asisten Pribadi) Sultan HB VII.

“Nuwun sewu Gusti, panjenengan niku kok ngasto naskah meniko duspundi. Mosok raja kok njaplak. (Maaf Gusti, kok membawa naskah itu bagaimana. Masak raja menyontek), ” timpal Tarzan yang langsung disambut gelak tawa penonton. Adegan lucu lainnya ketika dialog antara Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang berperan sebagai gubernur Jateng dan bertau ke Raja Keraton Yogyakarta. Gubernur Jateng, juga disindir oleh Raja HB VII (Din Syamsudin) apa sudah membantu kegiatan Muktamar Muhammadiyah. Begitu pula permintaan Patih Danurejo yang diperankan Drs Marpuji Ali MSi yang meminta kepada Gubernur agar jalan Gonilan di sebelah barat kampus segera diaspal untuk keperluan muktamar.

“sik..sik, La soal ini (permintaan bantuan-red) kan gak ada di naskah. Kok di saat awal pembentukan Muhamamdiyah kok tiba-tiba sudah muktamar. Malah disini langsung ditodong bantuan dan aspal jalan,” ungkap Ganjar Pranowo yang disambut tertawa penonton.

Rektor UMS mengatakan ketoprakan tersebut dilaksanakan dalam rangka perayaan puncak Milad ke-61 UMS dan menyongsong Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah. “Ini dalam rangka Milad ke-61 UMS dan salah satu rangkaian semarak Muktamar Ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Surakarta tanggal 1-5 Juli 2020 mendatang,” ujarnya saat diwawancarai sebelum pentas.

Sofyan Anif menjelaskan, ketoprakan tersebut berjudul ‘Sang Surya Amajari Jagat’, menceritakan latar belakang berdirinya Muhammadiyah. “Cerita ‘Sang Surya Amajari Jagad’ mengisahkan sejarah berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1911, tentang perjuangan KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta saat mendirikan Muhammadiyah. Dimulai berdirinya sekolah/madrasah pertama untuk pribumi, yang didukung HB VII sampai berdirinya organisasi Muhammadiyah secara resmi tahun 1912,” terangnya.

“Dilatar belakangi dari cerita berdirinya Muhammadiyah. Saat itu masyarakat Indonesia sedang terjajah oleh Belanda Rakyat mengalami kemiskinan dan kesengsaraan. Rakyat disuruh tanam paksa oleh Belanda. Maka hadirlah Muhammadiyah melakukan pencerdasan dengan mendirikan sekolah dan gerakan sosial lainnya,” jelas Sofyan Anif yang memerankan Adipati Anom.

Sementara Din Syamsuddin menyatakan kalau dirinya baru kali ini pertama bermain ketoprak. “Ini pengalaman pertama saya bermain Ketoprak. Dan saya tidak bisa bahasa Jawa hehe,” ujar Din Syamsuddin yang memerankan tokoh Raja Yogyakarta.

Berbeda dengan Gurbenur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, ia sangat santai saat persiapan pentas. Ganjar mengatakan dirinya tidak mempunyai peran khusus dalam pentas tersebut, maka dia berperan sebagai gubernur Jawa Tengah, berperan atas dirinya sendiri. “Jadi saya mau sambutan ke masyakat, tapi dikemas dalam bentuk Ketoprakan” ujar Ganjar.

Sebelum Ketoprakan dimulai, acara diawali dengan pengajian Tabligh Akbar yang diisi oleh Din Syamsuddin. Setelah tabligh Akbar, acara dilanjutkan dengan Launching Countdown Muktamar Ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah oleh Ketua PP Muhammadiyah Drs. H.A. Dahlan Rais, M.Hum dengan melesatkan anak panah. Countdown tersebut menampilkan perhitungan waktu mundur sampai pelaksanaan Muktamar mendatang.(Triawati)

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT