Jadi Provokator Boikot Hajatan Bu Tini, Muncul Desakan Agar Pak RT Lengser
JOGLOSEMARNEWS.COM | 21/10/2019 18:00
Jadi Provokator Boikot Hajatan Bu Tini, Muncul Desakan Agar Pak RT Lengser

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Kasus aksi boikot hajatan dampak beda pilihan Pilkades yang dialami Suhartini (50) janda di Dukuh Jetak, RT 13, Desa Hadiluwih Sumberlawang, Sragen terus menuai empati publik.

Meski persoalan sudah diselesaikan secara kekeluargaan di meja mediasi, gelombang desakan pemberian sanksi terhadap Ketua RT 13, SUG yang diduga menjadi dalang provokasi boikot, terus bermunculan.

Ratusan warga dan pembaca mendesak pemerintah kabupaten segera bertindak memproses dan melengserkan Ketua RT 13 dari jabatan.

BACA: Kisah Pemboikotan Bu Tini Viral, Bupati Sragen Geregetan. Ancam Datang ke Hadiluwih, Provokatornya Awas Saja! 

Berdasarkan aspirasi yang dituliskan melalui kanal komentar berita di laman Joglosemarnews.com, mayoritas pembaca geram dan mendesak Ketua RT diberhentikan dengan segera alias dipecat. Seperti akun Achmadi yang menulis “Orang seperti jangan jadikan RT, langsung suruh mengundurkan diri” yang dikirim Sabtu (19/10/2019).

Lantas, akun Gatot Ojo Dumeh Subagyo yang menulis aspirasi “Pak RT bertanggung jawab membina kerukunan masyarakatnya, ora entuk adigang adigung, kalo situasi di balik pihak provokator yg mantu, ngundang dan yg di undang nggak datang semua pasti sedih…..ini Marwah dan mungkin sekali sekali seumur hidup.

Berbeda pilihan itu lumrah, berbeda itu bukan musuh yg harus di kalahkan dan dipermalukan ….eling sing eling , urip ming sepisan, ayo do podo tresno tinresnan marang pepodho”.

Lantas ada akun Jonathan Adi yang juga menyayangkan sikap Ketua RT. “Masih jd RT aja sdh seperti itu…..seharusnya rt itu menjadi penengah bg warganya yg berselisih bukan malah jd provokator. DaSar rt g*mblung“. Begitulah ia berkomentar.
Baca Juga : Kisah Pemboikotan Bu Tini Viral, Bupati Sragen Geregetan. Ancam Datang ke Hadiluwih, Provokatornya Awas Saja!

Di belakang mereka, ratusan pembaca lainnya juga menuliskan komentar dan mayoritas mengecam, menyayangkan dan mendesak Ketua RT yang diduga biang pemboikotan, segera diakhiri dari jabatannya. Bahkan sebagian juga menulis dengan bahasa agak ekstrim.

Menyikapi aspirasi dan desakan pemecatan RT, Camat Sumberlawang, Heru Susanto mengatakan bahwa secara kedudukan, jabatan Ketua RT adalah salah satu lembaga desa yang aturannya dipilih setiap tiga tahun sekali.

Menurutnya, yang berhak untuk memilih Ketua RT adalah warga di wilayah RT setempat. Sehingga yang berhak memberhentikan juga warga setempat. “Selama ini kelihatannya belum ada Pak Ketua RT yang diberhentikan oleh desa atau Pemkab. Karena secara aturan, ya seperti itu. RT itu dipilih oleh warga,” paparnya kepada Joglosemarnews.com, Sabtu (19/10/2019).

Meski demikian, Heru menyampaikan apabila ada Ketua RT yang ingin berhenti atau mengundurkan diri, hal itu diperbolehkan dengan alasan yang bisa diterima oleh warga. Jika sudah mengundurkan diri, maka warga bisa melakukan pemilihan untuk mencari pengganti Ketua RT baru sebagai penggantinya.

Sekda Sragen, Tatag Prabwanto mengaku sangat menyayangkan kejadian di Hadiluwih Sumberlawang itu. Ia meminta sebagai tokoh di desa, mestinya semua harus bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya.

“Ini sebuah keprihatinan. Harapan kami tidak terulang kembali. Aksi arogan, memaksakan kehendak apalagi memaksakan pilihan demokrasi. Apapun yang terjadi, masyarakat yang terdekat adalah orang-orang di sekitar kita. Semua harus bisa menghargai proses demokrasi. Tidak semua orang harus sama pilihan, keyakinan kan juga tidak harus sama kan?,” tuturnya.

Kasi Pemerintahan Kecamatan Sumberlawang, Iwan Budiyanto menambahkan dalam mediasi di balai desa dan dipertemukan dengan Bu Tini, korban pemboikotan, Ketua RT berinisial SUG itu memang sudah menyatakan minta maaf dan sanggup untuk membantu warga guyub rukun kembali seperti sebelumnya.

Di hadapan forum mediasi, SUG yang dikenal berprofesi sebagai petani itu, juga menyatakan siap membantu mediasi dengan seluruh warga dan mengumpulkan untuk mengondisikan kembali seperti sedia kala.

“Nanti akan kita pantau terus. Karena tangg 30 Oktober nanti di RT itu akan ada warga yang punya hajat lagi. Kita lihat dan akan kita pantau,” tukas Iwan.

Sementara hasil penelusuran Joglosemarnews.com, sang Ketua RT memang dikenal berperangai arogan dan kerap menunjukkan powernya apabila pemikirannya tak sejalan dengan satu atau sebagian warga. Bahkan aksi ancaman serupa tak hanya terjadi kali ini, namun sudah sering dilakukan.

“Mungkin ini adalah puncaknya. Warga sebenarnya juga sudah jengah, tapi kadang nggak kuasa untuk melawan. Karena begitu terlihat beda atau nggak sepaham, langsung dicing (dikucilkan). Tahu sendiri lah mas, wong cilik di desa yang sebagian besar tani dan buruh itu bisa apa. Punya kekuatan apa, melawan pun akhirnya nanti malah kita yang dikucilkan,” tutur SO, salah satu warga RT 13.

Di sisi lain, aksi boikot itu diduga memang dampak beda pilihan Pilkades. Sebab sewaktu arisan RT tanggal 5 September sebelum Pilkades, Ketua RT sudah mengeluarkan taringnya dengan mengatakan bahwa Bu Tini dan Suwaji yang akan punya hajat kalau tidak manut arahan mendukung calonnya, maka tidak akan dibantu saat hajatan.

BACA: Terungkap, Ini Penyebab Adanya 2.200 Janda Baru di Karanganyar. Faktor Ekonomi dan Selingkuh Jadi Pemicu 

Sementara, Bu Tini sebenarnya hanya jadi korban dan diikut-ikutkan lantaran keponakan dan pamannya memang mengaku mendukung calon lain saat Pilkades 26 September lalu. Namun soal kemasyarakatan, kegiatan sosial hingga kumpulan apapun, mereka dan Bu Tini selalu ikut dan tak pernah absen.

Kasus pemboikotan Bu Tini sudah menjadi sorotan nasional. Berbagai media mengunggah aksi itu dan seketika menjadi viral dan trending di berbagai lini media. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT