Sutarto Hidup Sebatang Kara, Kena Stroke dan Depresi Tinggal di Gubuk Reyot
JOGLOSEMARNEWS.COM | 04/10/2019 15:21
Sutarto Hidup Sebatang Kara, Kena Stroke dan Depresi Tinggal di Gubuk Reyot

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Kisah miris menyeruak dari sudut Sragen Barat. Seorang pria paruh baya bernama Sutarto (60) asal Dukuh Donosutan RT 12, Mojopuro, Sumberlawang menghadirkan cerita memprihatinkan.Sejak dua tahun terakhir, ia hanya bisa terbaring lemah tanpa bisa beraktivitas. Ia didera stroke sehingga tubuhnya makin melemah.

Dalam kondisi seperti itu, Sutarto hanya tinggal sebatang kara. Tak ada anak maupun istri yang menemaninya. Hanya adik kandungnya, Harto Sarono yang selama ini menemani Sutarto menghabiskan hari-hari pilunya. Tempat tinggalnya pun hanya rumah kecil dengan kondisi yang jauh dari kata layak. Atapnya sudah rapuh, dinding dari anyaman bambu juga sudah dipenuhi lubang karena dimakan usia.

“Sudah hampir dua tahun kondisi begitu. Dulunya juga sehat, rumahnya juga besar. Pernah jadi Panwascam, lalu semua berubah ketika dia gagal saat melamar jadi Panwascam menjelang Pilgub sekitar dua tahun lalu,” kata Kadus Mojopuro, Agung kepada Joglosemarnews.com, Kamis (3/10/2019).

Kegagalan menjadi anggota Panwascam itu rupanya menjadi awal dari kisah tragis Sutarto. Kegagalan itu rupanya membekas dan membuatnya depresi berat. Hingga akhirnya gejala stroke pun menghampiri. Sejak itulah kondisi tubuhnya makin melemah sampai akhirnya ambruk total tanpa bisa lagi beraktivitas.

Ironisnya, dalam kondisi terpuruk, anak dan mantan istrinya, sudah tak lagi peduli. Hanya adik kandungnya saja yang berjibaku merawat dibantu tetangga sekitar.

 

“Selama ini dia tinggal di rumah berdua sama adiknya saja. Sebenarnya punya dua anak dan istri. Tapi kemudian pisah dan tanpa kabar. Anaknya sebenarnya sukses semua di Jakarta. Wong ada yang lulus S2 juga. Saudaranya ada empat di Jakarta semua, sebenarnya juga sukses-sukses. Tapi dikabari dan beberapa kali dihubungi, ndak pernah ada yang mau merespon,” urai Agung.

Agung tak menampik jika melihat kondisi rumah Sutarto memang memprihatinkan. Namun ia menceritakan, sewaktu masih sehat dan pernah jadi Panwascam, kondisi rumah Sutarto sebenarnya masih besar dan masuk kategori warga mampu. Akan tetapi semuanya berubah pasca didera stroke.

Foto/Wardoyo

Pihak Pemdes, menurutnya juga tak henti berupaya membantunya. Saat awal didera sakit dan rumahnya berubah mengecil dan tak layak, Pemdes sudah mengupayakan membantu bedah rumah sebesar Rp 5 juta dari dana desa.

“Dulu oleh desa dan warga diarahkan karena dananya cuma segitu, lebih baik dibuatkan rumah yang kecil tapi kokoh. Tapi ternyata dia bersikeras nggak mau, malah uangnya diminta dan hanya diganti gentingnya saja sehingga akhirnya rapuh kembali,” urai Agung.

Tak hanya itu, Pemdes juga sudah membantu mencarikan Kartu Indonesia Sehat (KIS) sejak kondisi Sutarto terpuruk. Sedangkan untuk bantuan raskin, memang tidak dapat lantaran sebelumnya Sutarto masuk kategori mampu.

Upaya pengajuan lewat data susulan sejak Sutarto jatuh sakit, juga tak serta merta bisa karena pendataan dan penentuan langsung dari pusat. “Meski nggak dapat jatah raskin, dulu juga tetap ikut menerima dari pengalihan jatah warga yang merasa iba. Dari dulu soal bantuan sosial memang nggak dapat, karena kondisinya dulu termasuk mampu,” tukasnya.

Sejak terpuruk dua tahun terakhir, warga sekitar dan lingkungan juga sering memberi jatah makan. Namun soal upaya pengobatan, agak sedikit terkendala oleh sikap yang bersangkutan dan kendala orang yang menunggui. Agung menuturkan pihak desa sudah berulangkali mengajak Sutarto dirawat ke Puskesmas Sumberlawang. Akan tetapi juga sering ditolak.

“Puskesmasnya juga dekat. Hanya sekitar 100 meter dari rumahnya. Tapi kadang dia sendiri yang nggak mau. Pernah diantar ke Puskemas, tapi kemudian nekat pulang sendiri dan infusnya dicopoti. Pinginnya dia dirawat tapi ada yang menunggui terus. Sementara yang ada hanya adiknya saja dan kadang juga bekerja. Warga lain juga nggak mungkin menunggui terus karena semua pasti juga punya kesibukan,” kata Agung.

Bahkan, Agung menyampaikan saat Sutarto dirawat di Puskesmas, ia sampai mencari warga yang mau menunggui dan akan dibayarnya. Namun tetap tak ada warga yang mau menunggui.

“Kalau biayanya sudah nggak bayar karena dia punya KIS. Yang susah itu nyari yang mau nunggu. Pemdes dan warga juga nggak tinggal diam mengupayakan, tapi yang bersangkutan nggak mau dirawat mau gimana lagi,” tuturnya.

Perihal kondisi rumahnya, juga menjadi dilemat. Sebab yang bersangkutan pernah dapat bantuan bedah rumah, sehingga tidak boleh dapat dobel. “Kami juga sudah konsultasi UPTPK dan memang bantuan bedah rumah itu gak bisa dobel,” urainya.

Agung menambahkan kemarin, Sutarto sudah mendapat bantuan kursi roda dari dinas sosial Sragen. Terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Fani Fandani dari hasil kroscek ke lapangan, pihak Puskesmas Sumberlawang selama ini juga sudah sering melakukan kunjungan ke Sutarto.

Pernah jaga dirawat di Puskesmas dengan fasilitas KIS. Sekarang yang bersangkutan sudah dirawat di RSUD Gemolong. “Kendalanya memang yang merawat atau menunggui tidak ada. Kalau tentang makan minum sudah dibantu tetangga. Anaknya kalau dihubungi nggak bisa,” ujarnya, Jumat (4/10/2019). Fani menambahkan penanganan dari Puskesmas sebenarnya sudah maksimal untuk menangani kasus Sutarto. Wardoyo


BERITA TERKAIT