BPN Masih Tetap Klaim Prabowo Unggul 54,24 Persen
JOGLOSEMARNEWS.COM | 15/05/2019 12:40
BPN Masih Tetap Klaim Prabowo Unggul 54,24 Persen
Capres cawapres no urut 02 Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Salahudin Uno berbincang sebelum melaksanakan ibadah salat jumat pada kunjungannya ke Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Jumat 3 Mei 2019. Kunjungan capres dan cawapres nomor urut 02 ke provinsi Aceh pascapemilu 2019 sebagai ungkapan terimakasih kepada masyarakat Aceh yang telah memenangkan pasangan Prabowo-Sandi dengan persentase sementara hingga 91 persen. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

JAKARTA, Joglosemarnews.com – Meski menurut hitungan sementara KPU kalah, namun BPN Prabowo masih tetap mengklaim pihaknya unggul 54,24 persen dalam ajang Pilpres 2019.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto – Sandiaga Uno menyebutkan, setidaknya ada enam kecurangan dalam Pemilu serentak 2019.

Kecurangan itu menurut tim teknis BPN terjadi sebelum, saat pemungutan suara, dan sesudahnya.

Anggota tim, Agus Maksum memaparkan ada keanehan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 13 Desa Nanggerang Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.

Di TPS itu, menurut Agus, seluruh pemilih memiliki tanggal lahir yang sama 1 Januari 1946. “Ini yang disebut TPS siluman,” ujar Agus di lokasi.

Anggota tim lainnya, Laode Kamaludin mengklaim sampai pada Selasa (14/5/2019) siang, Prabowo – Sandiaga unggul dengan angka 54,24 persen.

Adapun Jokowi – Ma’ruf Amin 44,14 persen.  Sedangkan sisanya adalah suara tidak sah. Data ini menurut dia, merupakan hasil penghitungan suara oleh BPN dari 51 persen TPS.

Laode pun mempersilakan untuk mendebat hasil penghitungan milik BPN ini.

“Bagaimana jika ada yang mau nantang data ini? Kami persilakan, kita adu data saja,” ucap dia.

 

Adapun Khairil Anas, anggota tim BPN Prabowo yang mengurusi bagian informasi teknologi BPN memaparkan kecurangan di bidang IT.

Khairil meragukan situs sistem informasi perhitungan atau Situng milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menurutnya tidak realtime dengan database.

Adanya jeda antara database dengan Situng, menurut Khairil menyebabkan data bisa diselewengkan. Selain itu, lulusan ITB itu meragukan hasil scan C1 Situng.

Menurutnya tabel dalam tiap-tiap scan C1 itu tidak rapih, sehingga dicurigai hasil manipulasi.

“Jeda 15 menit antara database dengan Situng, bisa saja dimark-up,” ujar Khairil.


BERITA TERKAIT