Anaknya Dibunuh, Janda Miskin di Karanganyar Masih Harus Membayar Tagihan RS Rp 45 Juta
JOGLOSEMARNEWS.COM | 25/09/2018 15:05
Anaknya Dibunuh, Janda Miskin di Karanganyar Masih Harus Membayar Tagihan RS Rp 45 Juta
Sukiyem didampingi adik almarhum putranya saat menunjukkan surat tagihan biaya rumah sakit Rp 45 juta. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Insiden pembantaian misterius yang menewaskan Warmin (35) pemuda asal Dukuh Kacangan RT 27, Pagak, Sumberlawang di Pasar Colomadu Karanganyar, akhir bulan Agustus hingga kini masih misteri. Ibu korban, Sukiyem (70) berharap kepolisian segera mengusut pelaku mengingat kini tagihan pengobatan dari rumah sakit sebesar Rp 45.292.564,- kini belum bisa terbayarkan.

Sementara kondisi Sukiyem, janda miskin yang tak bekerja dan selama ini hidup dari jatah penghasilan almarhum.

“Belum ada kabar apapun dari kepolisian. Pelaku apakah sudah tertangkap atau belum juga nggak ada kabar,” papar Kades Pagak, Joko Purnomo, Minggu (23/9/2018).

Ia menyampaikan sebenarnya dari keluarga memang sangat berharap pelaku bisa segera ditangkap. Selain dimintai pertanggungjawabkan atas perbuatannya, pelaku juga diharapkan bisa dimintai pertanggungjawaban atas biaya rumah sakit yang hingga kini menambah beban keluarga korban yang sudah kehilangan anak tulang punggung ekonomi keluarga.

“Saya sempat nangis juga. Kasihan lihat Mbah Sukiyem. Sudah kelangan anak, masih dibebani bayar uang sekian banyak. Mau dapat darimana. Sudah tua, nggak kerja. Wong untuk makan saja selama ini dijatah Warmin,” urai Joko. Sukiyem (70) kini mengalami tekanan psikis lantaran masih terbebani untuk membayar tagihan biaya rumah sakit sebesar Rp 45.292.564,-.

Tetangga sebelah korban, Kamdi (48)  menuturkan Mbah Sukiyem menempati rumah kecil peninggalan suaminya. Namun karena hanya istri sambungan, dia yang dikaruniai dua anak itu, tak berhak memiliki atau menjual aset rumah maupun pekarangan.

Menurutnya kematian Warmin yang diduga dibantai secara sadis di WC umum Pasar Colomadu, 28 Agustus 2018 lalu, memang makin menambah derita Mbah Sukiyem. Tak hanya kehilangan anaknya, janda miskin itu juga dihadapkan situasi yang serba sulit.

“Jenasah Warmin sempat nggak boleh diambil oleh pihak rumah sakit karena belum bayar biaya. Akhirnya baru boleh dibawa setelah dikasih DP Rp 500.000,” urai Kamdi.

Kamdi menceritakan usai ditemukan bersimbah darah, Warmin sempat dilarikan ke RSUD Moewardi Solo oleh Polsek. Sempat dua hari dirawat dan dioperasi akibat pendarahan otak, nyawa Warmin tak terselamatkan dan meninggal 29 Agustus 2018 pagi.

Usai pemakaman, Mbah Sukiyem makin terpukul setelah menerima tagihan dari pihak RSUD Moewardi sebesar total Rp 45.292.564. Karena tak punya biaya untuk melunasi, pihak rumah sakit memberi kelonggaran biaya itu untuk diangsur empat kali.

Dari surat pihak rumah sakit itu tertera angsuran pertama dimulai 29 September 2018 sebesar Rp 11.323.141,-.

Tragisnya lagi, meski miskin, Mbah Sukiyem ternyata tak mendapat fasilitas Jamkesmas atau program pemerintah layaknya warga miskin lainnya. Kamdi menuturkan saat menerima kabar Warmin dianiaya dan masuk ke rumah sakit, pihaknya sempat mengupayakan pengurusan BPJS agar mendapat keringanan biaya.

Namun baru mau mengurus berkas, kabar Warmin meninggal sudah datang terlebih dahulu. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT