Kisah Mateus Seman, TKI Asal Manggarai yang Meninggal di Malaysia
FLORESPOST.CO | 15/03/2018 13:12
Kisah Mateus Seman, TKI Asal Manggarai yang Meninggal di Malaysia
Suasana pemakaman jenazah Mateus Seman di Mbeling, Foto: Rosis Adir

FLORESPOST.co, Borong-Kisah pilu mengenai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia sepertinya tak pernah habis untuk dibicarakan. Akir-akhir ini ada begitu banyak TKI asal NTT yang meninggal di negeri Jiran Malaysia, Sebut saja Milka Boimau, TKI asal Desa Kotabes, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Adelina Sau TKI asal NTT yang meninggal akibat disiksa majikannya.

Yang terbaru adalah Mateus Seman,TKI asal kampung Mbeling, desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong, Manggarai Timur, NTT, yang juga meninggal di Negeri Jiran itu baru-baru ini. Pria berusia 57 tahun itu mengembuskan napas terakhirnya pada (5 /3/ 2018) lalu  di tempat kerjanya di Tawau, Malaysia. Ia pergi meninggalkan istri dan lima orang buah hatinya.

Dini hari Selasa (13/3/2018), sekitar pukul 02.00 Wita,  jenazah Mateus tibah di rumah duka di kampung Mbeling. Jenazah itu diterbangkan dari Tawau sejak (9 /3/ 2018) lalu. Siang sekitar pukul 12.00 Wita, jenazah mateus dimakamkan oleh keluarga. Sebelum dimakamkan, Jenazah itu didoakan oleh sanak famili melalui upacara misa yang dipimpin oleh pastor Paroki Mbeling.

Kepergian Mateus menyisakan duka yang mendalam untuk sanak saudaranya, terutama bagi  istri dan anak-anaknya. Isak tangis keluarga mengiringi pemakaman sang tulang punggung keluarga sederhana di Mbeling hari itu. Deraian air mata dan ratapan dari mulut sang istri dan anak-anaknya menunjukan bahwa mereka tak bisa menerima kepergian sang suami sekaligus  ayah untuk lima orang anaknya itu. "Bapa mau dibawa kemana, Bapa jangan pergi tinggalkan kami," teriak salah seorang putri Mateus selama perjalanan ke tempat peristirahatan terakhir sang ayah.

Theresia Diuk, istri Mateus Seman, tampak lemas. Tatapannya kosong saat sejumlah wartawan mendekatinya untuk menyakan perihal kematian suaminya itu. Ia tampak kesulitan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan para pemburuh berita itu. Segelas air diteguknya. Mungkin untuk sedikit menenangkan pikirannya.

Dengan terbata-bata, sambil menahan tangis, Theresia akhirnya mengisahkan tentang suaminya yang merantau ke Malaysia hingga akhirnya meninggal di negeri Jiran itu. "dua puluh empat Agustus 2014, dia berangkat ke Malaysia bersama anak dari kakak kandungnya. Dia ke sana karena sulitnya mendapatkan uang untuk menyekolahkan anak di kampung," kisah Theresia.

Waktu itu, kata Theresia, Mateus berencana bekerja di Malaysia hanya untuk 2 tahun. "Pas mau genap dua tahun, dia telepon, minta maaf ke saya. katanya dia sudah tanda tangani surat di sana. Apa namanya, kontrak atau apa itu. katanya untuk tiga tahun," kisahnya. Theresia mengakui, sempat kesal dengan suaminya yang sudah tidak menepati kesepakatan awal mereka.

Tetapi, setelah Mateus meyakinkan sang istri bahwa Mateus berlama-lama di Malaysia agar memperoleh uang yang cukup untuk membiayai perkuliahan anak mereka,Theresia pun luluh. "Setelah dipikir, ada baiknya juga dia lanjut kerja di sana, sebelum anak bungsu kami masuk kuliah setidaknya sudah ada sedikit uang untuk biaya kuliahnya," ungkapnya lirih. Selama di Malaysia, kisah Theresia, suaminya itu sering memberi kabar melalui telepon seluler.

Namun, tidak ada kabar bahwa suaminya itu sakit. "Saya sangat kaget dengar kabar dia meninggal. Setelah dengar kabar itu, saya pingsan terus," ujarnya. Theresia masih ingat betul, terakhir Mateus menghubunginya pada 1 Maret 2018 lalu. "Tanggal satu Maret, Dia telepon, katanya mau kirim uang, banyaknya 21 juta. Dia kirim sebanyak itu, karena sejak bulan Januari dia belum kirim uang untuk kami. Apalagi juga saya bilang ke dia bahwa kami di rumah butuh uang untuk pasang meteran listrik, karena kabelnya sudah dibentang di depan rumah," kenangnya.

Saat dihubungi tanggal 1 Maret 2018 itu, Mateus berjanji untuk mengirimkan uang tersebut pada 5 Maret 2018. "Nanti saya kirim sore pas pulang kerja, sekitar jam empat," ucap Theresia meniruh ucapan suaminya itu. Waktu yang ditunggu-tunggu pun tibah, bukannya kabar tentang pengiriman uang yang diterima sang istri. Tapi justru kabar piluh, kabar kematian Mateus. "Tanggal lima Maret, anak dari kakak, yang di Malaysia telepon bilang dia (Mateus) sudah meninggal. padahal hari itu ( 5 Maret 2018) Mateus janji mau kirim uang," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Theresia mengatakan, kendati ingin melihat wajah Mateus untuk yang terakhir kalinya, ia tidak bisa membuka peti jenazah lantaran ada saran dari Malaysia agar peti janazah Mateus tidak boleh dibuka. "Peti tidak dibuka karena dilarang dari sana, dari Malaysia," ujarnya. Ia juga mengaku tidak mencurigai soal kematian suaminya itu." Tidak ada curiga, karena disana dia dijaga oleh anak dari kakak kandungnya. Jadi, tidak ada curiga, bukan orang lain yang urus dia di sana," imbuhnya.

Hingga kini, Theresia belum mengetahui secara pasti penyebab kematian Mateus. "Informasi dari anak yang satu tempat kerja dengan dia, katanya mati kaget," jelas Theresia. Sedangkan dalam surat keputusan konsulat Republik Indonesia di Tawau-Malaysia nomor 450/kons/III/2018 yang salinannya diterima Florespost.co pada Selasa (13/3) dituliskan bahwa penyebab kematian Mateus adalah Coronary Artery Thrombosis.

Pihak keluarga Mateus mengakui bahwa mereka ikhlas dengan kematian Mateus. "Ya, kami ikhlas dengan kematian almarhum," ujar Rafael Odo, salah seorang keluarga dekat Mateus, Selasa (13/3) di rumah duka.  Reporter: Rosis Adir Editor: Tonny


BERITA TERKAIT