Kisah Bayi Asal Manggarai Timur Karena Tak Ada Anus Sejak Lahir
FLORESPOST.CO | 12/02/2018 08:40
Kisah Bayi Asal Manggarai Timur Karena Tak Ada Anus Sejak Lahir
Pasangan suami istri Gregorius dan Yuliana ketika menjaga bayi mereka di RS Sanglah, Denpasar. (Foto: Antonius Rahu/Florespost)

FLORESPOST.co, Denpasar – Lima belas tahun Gregorius Goang dan Yuliana Mei menantikan kehadiran buah hati. Kerinduan pasangan suami istri asal kampung Sok,  desa Compang Ndejing,  kecamatan Borong, kabupaten Manggarai Timur, NTT ini pun akhirnya terwujud dengan kelahiran putera mereka Thomas Aquino Goang, 1,5 tahun yang lalu. Tetapi pasangan suami isteri ini harus menghadapi cobaan berat. Sebab, Thoamas lahir tanpa anus. Kini, ia sedang dirawat di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali. Florespost.co berkesempatan menjenguk Thomas di ruang Angsoka lantai 3 No 1, RS Sanglah, Jumat petang, (9/2/2018).

Kedua orang tuanya, Gregorius dan Yulian tampak setia menemani. Sesekali Yuliana mengipas-ngipas bayi yang terbaring lemah di atas ranjang. "Sejak lahir anak kami ini tidak memiliki lubang anus,  waktu itu kami sempat menjalani operasi kolestomi di Rumah Sakit dr Ben Mboi Ruteng,  biayanya waktu itu 11 juta, "kata Gregorius Goang. Setelah menjalani operasi tersebut,  kata Gregorius,  bayi mereka tampak sehat. Dokter juga membuat lubang pembuangan dari bagian usus untuk membuang BAB. "Kami sangat senag kala itu, melihat anak kami ini sehat,  karena ini anak pertama kami setelah menikah selama 15 tahun, "katanya. Namun, kebahagiaan pasangan ini rupanya tidak berlangsung lama. Pada Oktober 2017, Thomas kembali kambuh. "Kami sempat membawanya ke Rumah Sakit Ruteng,  namun dokter mengatakan anak kami ini harus dirujuk ke sini (rumah sakit Sanglah),"kisahnya.

Keduanya pun nekat meninggalkan kampung halamannya menuju Bali,  itu semua demi buah hati mereka. Setelah menjalani check up di RS Sanglah,  dokter mengatakan bahwa putera mereka mengalami komplikasi. "Dokter mengatakan bahwa anak bapak menderita pembocoran jantung, itu meruapakan kabar terburuk yang pernah saya terima,”ujar Gregorius. Sejak saat itu,  pasangan suamii istri ini beberapa kali keluar masuk rumah sakit Sanglah,  untuk mengurus putera mereka. Menurut Gregorius,  setidaknya putera mereka sudah tiga kali menjalani rawat inap di rumah sakit tersebut. "Kondisi anak kami ini akhir-akhir ini semakin drop,  makanya kami bawa ke rumah sakit lagi,  dan dokter menyarankan untuk dirawat inap lagi, "katanya.

Semenjak tinggal di Bali, pasangan ini telah banyak menghabiskan uang. Biaya rumah sakit memang sebagian besar ditanggung BPJS Kesehatan. Tetapi yang membebani mereka adalah biaya hidup selama berada di pulau Dewata itu. Apalagi biaya hidup di Bali terbilang tinggi. Hal tersebut juga dikeluhkan oleh Yuliana,  isteri Gregorius. "Kami sudah tidak punya uang lagi sekarang,  kami tidak tahu harus buat apa sekarang, "kata Yuliana. Ia mengaku terkadang sampai mengurangi porsi makan.  Hal itu dilakukan untuk mengurangi biaya pengeluaran selama di Bali.

"Di sini (Bali) kami tidak punya kenalan siapa-siapa,  kami tinggal di kos sekitar sini, "katanya. Selama hampir empat bulan berada di Bali, kata Yuliana,  pihaknya hanya makan nasi kosong, tanpa lauk. "Terkadang juga kami tidak makan,  apalagi kalau kiriman dari kampung tersendat, mau minta sama orang di sini,  kami tidak punya kenalan, "katanya. Ia berharap agar puteranya segera pulih agar mereka segera meninggalkan Bali. Apalagi pihak dokter telah berjanji akan melakukan operasi pada putera mereka pada Senin pekan depan. "Kami berharap putera kami ini bisa sembuh itu saja, "ucapnya sambil mengahpus air matanya. Reporter: Antonius Rahu | Editor : PTT


BERITA TERKAIT