Kapolda NTT Bentuk Tim Khusus Usut Dugaan Penganiayaan Tim Buser ke Remaja Pencuri Rokok
FLORESPOST.CO | 09/10/2019 16:38
Kapolda NTT Bentuk Tim Khusus Usut Dugaan Penganiayaan Tim Buser ke Remaja Pencuri Rokok
Kepala Polisi Daerah Nusa Tenggara Timur (Kapolda NTT) Irjen Pol Hamidin. (Foto/Yuga Yuliana)

FLORESPOST.co, Ruteng – Kematian Remaja asal Rai, Desa Rai, Kecamatan Ruteng, yang menyeret dua(2) orang tim buru Sergap ( Buser) polres Manggarai, ditanggapi serius oleh Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala Polisi Daerah Nusa Tenggara Timur (Kapolda NTT) Irjen Pol Hamidin di Polres Manggarai saat melakukan kunjungan kerjanya.

BACA: Paroki San Juan Lebao Jadi Tuan Rumah Sidang Sinode VII Keuskupan...

Kepada sejumlah Media, Hamidin menyampaikan bahwa dirinya sudah mengetahui informasi tersebut dan kini pihaknya sedang membentuk tim untuk mengusut kasus dugaan penganiayaan yang berujung pada kematian almarhum Frederik G. Nengkong alias Nelson tersebut.

“Kami sudah membentuk tim untuk usut kasus ini,” tegas Hamidin Selasa 8 Oktober 2019 .

Diberitakan Sebelumnya, Nelson remaja Kampung Rai, Desa Rai, kecamatan Ruteng, Manggarai, diduga meninggal akibat penganiayaan yang dilakukan oleh oknum team buru sergap (Buser) polres Manggarai.

Pelajar berusia 16 tahun tersebut, menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit umum Ben Boi Ruteng pada tanggal 29 September 2019.

Nelson mengalami sakit sakitan pada tubuhnya dan kemudian menjalani perawatan di Rumah Sakit Ben Boi Selama 5 hari usai di aniaya oleh oknum buser polres Manggarai.

Dua orang rekan Nelson masing-masing Valerianus Teto (17) dan Agustinus Nangkas (16) yang mengajak Nelson mencuri mengaku ketiganya ditangkap pada keesokan harinya. Saat ditangkap, ketiga pelaku yang masih di bawah umur itupun digebuk polisi.

Penganiayaan terjadi di dua tempat yakni di rumah pemilik kios ibu Yulti Guru SDI Wae Belang Cancar dan di Mapolres Manggarai. Buser (polisi) ada dua orang yang pukul kami berkali-kali yaitu Pak Jems dan Pak Safri. Pukulnya di kaki, tangan, badan dan tampar di muka,” kata Valerianus

Bahkan kata Teto, penganiayaan berlanjut di Mapolres Manggarai. Diakui Teto, bukan hanya Buser Jems dan Safri tapi pemukulan juga dilakukan oleh beberapa oknum polisi lainnya.

“Di Polres kami disuruh berlutut ditekuk pakai tongkat pentungan yang warna hitam itu. Setiap polisi yang datang hantam. Tanya curi apa pukul begitu terus,” tuturnya

Setelah pulang dari Polres, Nelson mengeluh kesakitan pada bagian tangan dan dadanya. Lantaran karena tak ada biaya Nelson hanya dirawat di rumahnya di RT 05 RW 04 Desa Rai, Kecamatan Ruteng.

BACA: Tahun 2020, Manggarai Dapat Dana Insentif Daerah Rp 39 Miliar

Namun karena kondisi Nelson terus memburuk, ayahnya Vinsensius Nengkong akhirnya membawa anak bungsunya itu ke rumah sakit. Dan setelah 5 hari dirawat, remaja itu pun meninggal dunia.

Kepada wartawan Vinsensius menuturkan, anaknya selama ini sehat-sehat saja. Namun saat anaknya pulang dari Polres, baru mengeluhkan sakit yang hebat di bagian dadanya.

Untuk diketahui juga, sebelumnya keluarga Nelson sudah melaporkan tindakan anggota Buser tersebut ke Polres Manggarai untuk ditindak lanjuti.

FLORESPOST.CO


BERITA TERKAIT