DPR Papua akan Promosikan Kopi Ambaidiru
JUBI.CO.ID | 07/06/2018 12:15
DPR Papua akan Promosikan Kopi Ambaidiru

Jayapura, Jubi - Sekretaris DPR Papua, Juliana J Waromi menyatakan siap membantu masyarakat Kampung Ambaidiru, Distrik Kosiwo, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua mempromosikan kopi dari daerah itu.

Ia mengatakan, beberapa hari lalu dirinya bersama beberapa anggota DPR Papua, melihat langsung perkebunan kopi Ambaidiru seluas 60 hektar, lantaran ada aspirasi dari masyarakat setempat ke DPR Papua. 

Ia tidak mau hanya mendengar dari orang atau melihat melalui foto. Bersama beberapa legislator Papua, Juliana Waromi berinisiatif datang langsung ke Ambaidiru melihat perkebunan dan bertemu para petani kopi. 

"Saya mau lihat langsung agar ke depan kalau ada hasilnya, saya bantu mencari pasaran.   Pengalaman saya di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Papua selama tiga tahun, saya promosi kopi hingga ke luar negeri," kata Juliana Waromi, Selasa (5/6/2018).

Menurutnya, kopi yang dikembangkan masyarakat Ambaidiru itu jenis biji tunggal, dan sudah ditanam sejak zaman Belanda. 

"Beberapa waktu lalu, saya ke Kanada. Mereka siap menampung hasil kopi dari Papua. Paling tidak, kalau saya sudah tahu, dapat menghubungi pihak di Kanada melalui kedutaan," ujarnya.

Jika pihak di Kanada bersedia, tinggal meminta masyarakat mengembangkannya, karena yang ada kini belum dipasarkan dengan baik. Belum dikelola pihak ketiga.

"Saya mau pihak ketiga mengelolanya. Tapi harus promosikan dulu, kemudian pihak ketiga yang kelola. Dana Otsus sudah mau berakhir. Kalau potensi yang ada tidak diangkat, kapan lagi. Kalau dana Otsus sudah tak ada, masyarakat dapat nikmati hasil alamnya. Ini yang harus dipikirkan," katanya.

Selain ingin membantu memasarkan kopi Ambaidiru, tujuan Juliana Waromi melihat langsung perkebunan kopi di wilayah itu bersama beberapa anggota DPR Papua karena kini ia menulis buku dengan judul "Pentingnya Investor di Provinsi Papua".

"Kami juga akan membahas perda untuk mengikat investor. Ini bukan pengalaman pertama saya, di Merauke saya pernah membantu masalah pengelolaan ikan. Kami juga berencana menggelar pameran kopi dari berbagai wilayah di Papua, setelah pilkada selesai. Ini salah satu cara mempromosikan kopi asal Papua," ucapnya. 

Salah satu petani kopi Ambaidiru kepada Jubi, Yulianus Maniamboy belum lama ini mengatakan, kampung itu memiliki tiga kebun kopi (Paputum, Kitun dan Kakum) yang dikelola sekitar 150 petani.

“Tanaman Kopi pertama kali diperkenalkan pada zaman Belanda. Mereka mengujicoba, ternyata berhasil. Kopi Ambaidiru kini usianya sudah 50 tahun lebih,” kata Maniamboy.

Baca lainnya: Tiket Mahal di Hari Raya Mestinya Dapat Dikontrol

Menurutnya, kini pengelolaan kopi dilakukan secara individu, tak berkelompok. Petani menjemur kopi sendiri-sendiri, tidak terkontrol, tidak terpusatkan, akibatnya kualitas kopi masih sangat bervariasi.

“Tetapi tahun-tahun lalu, bisa dapatkan satu ton per bulan. Itu karena tidak ada gangguan dan pengelolaan koperasinya bagus,” ucapnya. 

Yulianus mengatakan untuk membangun perekonomian Papua, harus dimulai dari pengelolaan kebun hingga produksi.

“Harapannya pemerintah juga memperbaiki sarana produksi seperti jalan dari kampung menuju perkebunan, jalan dari kampung ke kampung. Semua untuk mendukung produksi kopi," ujarnya. (*)