Sebagian Warga di Kota Jayapura Kesulitan Mendapatkan Gas Elpiji
JUBI.CO.ID | 24/10/2021 16:24
Sebagian Warga di Kota Jayapura Kesulitan Mendapatkan Gas Elpiji
20_ekbis_elpiji3kg

Jayapura, Jubi – Sudah tiga hari sejak 17 Oktober 2021 Rizal berkeliling Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura hingga Kabupaten Keerom di Papua. Di tiga daerah tersebut ia mencari toko maupun agen yang masih menjual gas elpiji. Hanya saja semuanya kosong.

“Sudah cari ke semua tempat, tapi kosong juga,” katanya.

Ketersediaan gas elpiji sangat penting bagi Rizal. Sebab ia bersama teman-temannya menjalani usaha ayam goreng yang diberi nama “Prime Fried Chicken”. Mereka sudah memiliki empat cabang di Kota Jayapura, Papua, yaitu di Dok 8, Pasar Lama Youtefa, Abepura, dan Waena.

Satu cabang usaha dalam sebulan menghabiskan tiga tabung gas elpiji ukuran 12 kilogram. Rizal biasa langsung membelinya di agen yang ada di Kota Jayapura dengan harga Rp270 ribu. “Sebulan habiskan tiga tabung 12 kilogram,” ujarnya.

Rizal mengatakan persediaan tabung gas elpijinya hampir habis. Jika tidak segera mendapatkan gas, mereka terpaksa menutup sementara usaha mereka. “Ini kalau habis harus tutup jualan dulu. Kita tidak bisa pakai minyak tanah, harus pakai gas,” katanya.

Ia tidak bisa memakai minyak tanah karena akan mempengaruhi hasil ayam gorengnya. Selain itu memakai gas lebih praktis dan lebih irit ketimbang minyak tanah. “Pakai kompor minyak tanah proses gorengnya agak lama serta pengaruh ke ayam. Terus ayam tidak krispi karena suhu tidak stabil. Kalau kompor gas lebih stabil dan ayamnya lebih krispi,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan Dessy yang tinggal di Perumnas 3 Waena. Ia juga mengaku kesulitan mendapatkan gas elpiji. “Saya kesulitan dapatkan gas elpiji. Cek ke Pertamina cuma sudah kosong. Kita harus taputar seharian, itu pun dapat di toko-toko kecil dengan harga lumayan mahal,” katanya.

Dessy dan keluarganya sejak 2018 beralih dari minyak tanah ke gas elpiji. Alasannya memakai gas lebih praktis dan irit dibandingkan minyak tanah. “Dulu sempat cari minyak tanah susah, jadi kita beralih pakai gas. Terus juga minyak tanah lebih boros. Padahal minyak tanah cuma dapat jatah 20 liter satu bulan. Kalau pakai gas lebih hemat,” ujarnya.

Jika menggunakan minyak tanah dalam dua minggu ia membutuhkan 20 liter. Sedangkan gas ukuran 20 kilogram bisa bertahan hingga dua sampai tiga bulan. “Tidak khawatir pakai gas yang penting sudah tahu pemakaiannya. Kita rutin cek karet yang dari regulatornya biar tidak ada kebocoran,” katanya.

Dessy mengatakan jika persediaan gas kosong dan tidak ada di agen maupun toko lagi, alternatifnya dia kembali memakai kompor minyak tanah. Untuk itu ia berharap Pertamina secepatnya menyediakan stok gas elpiji jika sudah kosong. “Kita harus bongkar-bongkar lagi kompor yang sudah disimpan untuk pakai masak,” ujarnya.

Penyebab sulitnya gas

PT Anugrah, salah satu agen penyedia gas elpiji di Kota Jayapura juga mengalami kekosongan stok gas. Indah, salah seorang pegawai PT Anugerah mengatakan stok sudah kosong sejak dua minggu sebelumnya. “Stoknya memang kosong sama sekali, memang kehabisan ini. Yang kita simpan juga memang sudah habis,” katanya.

Indah mengatakan stok gas elpiji yang disediakan PT Anugrah hanya bertahan selama dua minggu. Harga pengisian ulang untuk tabung 5 kilogram Rp120 ribu, 12 kilogram Rp235 ribu, dan 50 kilogram Rp250 ribu.

“Ini akan ada kenaikan harga. Harganya tidak menentu, ini yang lama punya [harga],” ujarnya.

Indah mengatakan kapal yang mengangkut gas dari Surabaya sudah berada di Jayapura. Hanya saja belum bersandar kerena masih menunggu kapal barang yang lain sedang membongkar muatan di pelabuhan. Menurutnya seharusnya sesuai jadwal kapal pemasok gas sudah sandar sejak 17 Oktober 2021. Artinya kapal tersebut sudah terlambat tiga hari dari jadwal.

“Yang kami simpan juga sudah habis, tapi kapal-kapal belum datang juga. Ini sudah terlambat, seharusnya sudah sandar. Kalau bisa jangan sampai terlambat karena warga sudah pada mengeluh,” ujarnya.

Agen gas elpiji lainnya di Kota Jayapura, PT Elcony Panasumi juga kehabisan gas elpiji. Mereka juga sedang menunggu kapal pemasok dari Surabaya tersebut. “Lagi kosong, kapalnya terlambat. Kita masih menunggu,” kata Intan, salah satu pegawai PT Elcony Panasumi.

Senada dengan Indah, Intan mengatakan seharusnya sesuai jadwal kapal sudah bersandar sejak 17 Oktober 2021. Ia mengaku belum mendapatkan informasi terkait keterlambatan tersebut “Tidak tahu terlambat sampai kapan. Biasa molor tapi tidak semolor ini. Ini belum ada informasi dari mereka [Pertamina] kenapa kapalnya terlambat,” ujarnya. PT Elcony Panasumi melayani konsumen untuk pengisian gas elpiji untuk 5,5 kilogram harganya Rp 115 ribu dan 12 kilogram seharga Rp 235 ribu.

jubi.co.id


BERITA TERKAIT