Harga Pupuk Nonsubsidi Melangit, Petani Merauke Menjerit
JUBI.CO.ID | 05/10/2021 17:16
Harga Pupuk Nonsubsidi Melangit, Petani Merauke Menjerit
Petani di Kabupaten Gowa saat melakukan Penaburan Pupuk (Foto : Abdul Kadir)

Merauke, Jubi – Salah satu kesulitan yang tengah dihadapi petani dalam beberapa tahun terakhir adalah sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi karena kuota yang sangat terbatas. Dampaknya, petani juga membuka lahan dengan skala terbatas, mengingat keuangan juga minim.

“Memang ada pupuk nonsubsidi hanya saja harga yang dijual sangat mahal, sehingga tak bisa dijangkau untuk dibeli petani,” ungkap Ketua Aliansi Petani Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, Bino, saat dihubungi melalui telpon selulernya, Selasa (5/10/2021).

Dikatakan, biasanya pupuk subsidi yang dibeli petani, harganya terjangkau yakni Rp200 ribu per kuintal atau100 kg. Sedangkan pupuk nonsubsidi yang dijual swasta berkisar antara Rp850 ribu hingga Rp1 juta per kuintal. Harga yang sangat berbeda jauh dibanding pupuk subsidi.

“Itu baru satu jenis pupuk yakni Urea dengan harga demikian. Sedangkan pupuk Ponska harganya Rp850 ribu per kuintal yang dijual swasta. Sedangkan [pupuk] bersubsidi dibeli Rp200 per kuintal,” ujarnya.

Dengan harga pupuk nonsubsidi yang sangat mahal itu, jelas Bino, sudah pasti petani tak bisa membeli.

“Kami sudah menanyakan ke Dinas Pertanian dan Taaman Pangan Kabupaten Merauke, hanya saja jawaban yang didapatkan kalau kuota pupuk bersubsidi sangat terbatas,” katanya.

Dijelaskan, adanya tuntutan petani agar kualitas beras diperbaiki, termasuk pembukaan lahan dalam skala lebih luas, namun fasilitas pertanian yang masih sangat minim, termasuk ketersediaan pupuk.

“Atas nama petani, kami memohon kepada Bapak Bupati Merauke, Romanus Mbaraka, agar memperjuangkan penambahan kuota pupuk, agar petani bisa membuka lahan dalam skala lebih luas,” pintanya.

Salah seorang petani Merauke, Hendrik Sareng, beberapa waktu lalu mengakui kalau pupuk menjadi masalah serius yang terus dialami serta dirasakan petani dari waktu ke waktu saat musim tanam tiba. “Olehnya kami memohon kepada Bupati Merauke agar membangun komunikasi dengan Kementerian Pertanian agar jatah atau kuota pupuk bersubsidi ditambah,” pinta Hendrik.