Komnas HAM Papua: Peristiwa di Pegubin Cederai Kemanusiaan
JUBI.CO.ID | 19/09/2021 13:36
Komnas HAM Papua: Peristiwa di Pegubin Cederai Kemanusiaan
Banyak Izin Konsesi Usaha Kebun Sawit di Papua dalam Hutan Alami

Jayapura, Jubi – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua, menyatakan peristiwa di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin) mencederai kemanusiaan.

Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, menyatakan siapapun pelaku pembakaran puskesmas, gedung sekolah dasar, dan beberapa bangunan lain di sana, aksi itu tidak dibenarkan.

Apalagi selain membakar sejumlah fasilitas publik, seorang tenaga kesehatan (nakes) wafat dalam peristiwa itu. Beberapa lainnya dianiaya kelompok terduga pelaku.

“Atas nama kemanusiaan, Komnas Perwakilan Papua menyampaikan duka cita mendalam. Tindakan ini mencederai kemanusiaan, karena selain membakar fasilitas publik [terduga palaku] juga mengintimidasi nakes. Bahkan ada nakes yang wafat,” kata Frits Ramandey kepada Jubi, Sabtu (18/9/2021).

Menurut Ramandey, nekes dan guru dikualifikasikan sebagai pekerja kemanusiaan. Guru dan nakes melaksanakan tugas dan tanggung jawab memberi pemenuhan hak kesehatan dan hak pendidikan terhadap warga.

“Makanya mereka dikualifikasikan sebagai pekerja kemanusiaan,” ujarnya.

Peristiwa pembakaran sejumlah fasilitas umum oleh pihak yang diduga kelompok bersenjata di Distrik Kiwirok terjadi, 13 September 2021.

Dalam aksi itu, sorang tenaga kesehatan (nakes) bernama Gabriel Melani wafat. Jenazahnya ditemukan di dalam jurang beberapa hari setelah kejadian.

Aparat keamanan menyatakan sebelum meninggal, korban diduga dianiaya kelompok pelaku. Beberapa nakes lain juga mengalami penganiayaan namun berhasil menyelamatkan diri.

Frits Ramdey mengatakan membakar fasilitas publik yang keberadaannya untuk pemenuhan hak dasar masyarakat, misalnya hak atas kesehatan dan pendidikan merupakan tindakan yang melanggar prinsip HAM.

“Salah satu prinsip HAM itu kan harus menghormati hak hidup. Sehingga ketika mereka melakukan tindakan ini, itu melanggar prinsip prinsip HAM,” ucap Ramandey.

Sementara itu, Wakil Ketua I DPR Papua, Yunus Wonda, menyatakan dukacita dan prihatin terhadap peristiwa itu.

“Itu perbuatan kejam. Siapapun pelakunya mereka tidak punya hati. Mengapa nakes yang mengabdi di kepada masyarakat di pedalaman Papua, mesti menjadi sasaran,” kata Yunus Wonda.

Ia menduga kejadian ini akan membuat para nakes lain enggan lagi mengabdi melayani masyarakat di pedalaman, sebab mereka khawatir mengalami nasib seperti rekannya.

“Kalau tidak ada tenaga kesehatan di sana, siapa yang mau melayani masyarakat. Apalagi di daerah terpencil yang fasilitas kesehatannya tidak memadai dan terbatasnya nakes yang mau bertugas di sana,” ujarnya.

Katanya, nakes dan guru mestinya dilindungi dalam siatuasi apapun. Sebab, mereka merupakan pihak terdepan dalam pemenuhan layanan kesehatan dan pendidikan kepada warga.

“Cara-cara ini tidak baik dan tidak manusiawi. Akan berdampak pada pelayanan kesehatan di daerah pedalaman Papua lainnya,” ucapnya.

jubi.co.id


BERITA TERKAIT