Marak Jambret di Wamena, Warga Diimbau Hindari Tempat Sepi dan Jalan Malam
JUBI.CO.ID | 11/09/2021 15:47
Marak Jambret di Wamena, Warga Diimbau Hindari Tempat Sepi dan Jalan Malam
Mal Wamena di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Foto: Hari Suroto

Wamena, Jubi – Kepolisian Resor Jayawijaya sejak akhir Agustus 2021 hingga sekarang, berhasil menangkap empat pelaku pencurian dengan kekerasan maupun penjambretan, yang akhir-akhir marak terjadi di wilayah Kota Wamena.

Pelaksana harian Kapolres Jayawijaya, Kompol Agus Hariadi menyebutkan pada Rabu (8/9/2021), berhasil menangkap dua pelaku penjambretan di Jalan Pramuka, Kota Wamena. Pada akhir Agustus 2021 pihaknya juga berhasil menangkap dua orang lagi.

“Pelaku tidak dikoordinir, melakukan kejahatan spontan dengan melihat situasi jalan yang sepi makanya beraksi,” kata Kompol Agus Hariadi kepada wartawan di Mapolres Jayawijaya, Kamis (9/9/2021).

Hingga kini kepolisian Jayawijaya telah memetakan sejumlah ruas jalan, yang dianggap rawan terjadinya tindak penjambretan seperti di Jalan SD Percobaan, kemudian di Jalan Thamrin, Sudirman, dan Pattimura.

Untuk mengantisipasi tindakan kejahatan ini kembali terjadi, kepolisian terus melakukan penempatan personel di beberapa titik yang dianggap rawan tersebut.

“Imbauan kami kepada warga jika tidak ada kepentingan mendesak apalagi di malam hari sebaiknya jangan keluar, rawan dengan aksi jambret,” ucapnya.

Maraknya aksi penjambretan ini juga menjadi perhatian Dewan Adat Papua (DAP) yang menginginkan adanya suatu revitalisasi nilai-nilai adat, bagaimana tentang norma adat perlu dikembalikan.

“Situasi ini bukan hanya terjadi di Wamena tetapi di mana-mana di wilayah Papua. Di wilayah Lapago bukan baru kejadian seperti ini, tetapi saya tidak tahu apakah munculnya secara alamiah atau dibuat secara tersistem oleh pihak tertentu,” kata Ketua Dewan Adat Papua (DAP) versi musyawarah luar biasa, Dominikus Sorabut, saat dihubungi Jubi.

Menurutnya, munculnya aksi jambret dengan kekerasan ini kebanyakan dilakukan oleh anak-anak/remaja usia produktif, putus sekolah lalu diajak mengonsumsi minuman beralkohol atau ngelem, lalu menjadi kecanduan dan membuat mereka melakukan tindakan kriminal.

“Makanya perlu agar bagaimana orang tua dan lingkungan menerapkan hidup tentang kebaikan, tetapi hal itu harus dilakukan mulai dari kecil, bukan yang sudah besar baru diajarkan kebaikan, jika yang sudah besar ini pemikiran mereka sudah tercampur dengan dunia luar,” katanya.

 jubi.co.id


BERITA TERKAIT