Sebulan Internet Terganggu Berdampak pada Pertumbuhan Ekonomi Papua
JUBI.CO.ID | 21/06/2021 21:11
Sebulan Internet Terganggu Berdampak pada Pertumbuhan Ekonomi Papua
DPR Papua Minta Jaminan Akses Internet di Tanah Papua

Jayapura, Jubi – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Adriana Helena Carolina mengatakan jaringan internet yang terganggu sejak 30 April 2021 di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura sangat berdampak kepada pertumbuhan ekonomi di Papua.

“Sangat berdampak, sangat mengganggu, tetapi kalau dari sisi pertumbuhan ekonomi kita tidak bisa lihat sesaat begini,” katanya.

Sebab, dalam setahun BPS Papua membuat laporan tiga bulan sekali. Dampaknya akan terlihat pada triwulan 1 dan 2.

“Akhir triwulan 2 baru kita bisa lihat, kecuali kita lihat di pergerakan harga baru terlihat bahwa harga itu menjadi terganggu karena pengaruh jaringan internet,” ujarnya.

Sedangkan perekonomian, terutama dari sisi PDRB, BPS Papua baru melihat setelah triwulan 2 berakhir.

“Jadi dampaknya sekarang ini akan terlihat di berikutnya,” ujarnya.

Namun, tambahnya, yang bisa dilihat langsung atau yang paling langsung dirasakan ada gangguan ekonomi akibat gangguan jaringan internet adalah dari sisi pergerakan harga.

“Tetapi yang bisa langsung dirasakan dari pergerakan harga terlihat selama bulan ini kita terganggu. Kita harus beli pulsa terus, padahal pulsa juga tidak terpakai dengan baik, tapi terserap habis, terus kita tidak bisa istilahnya mau transfer atau mau beli sesuatu secara online tidak bisa. Kita harus datang ke bank setempat, misalnya ke BRI, ke BCA, itu kan ada waktu yang digunakan, bukan hanya kerugikan uang tetapi kerugikan waktu juga. Yang tadinya harus cepat menjadi terlambat,” katanya.

Tetapi pergerakan harga, kata Carolina, dari sisi inflasi. Karena inflasi yang dilihat adalah pergerakan harga pada Mei 2021, tetapi karena jaringan internet terganggu dari sisi pergerakan harga mengalami deflasi yang meliputi Kota Jayapura, Merauke, dan Timika.

“Jadi adanya penurunan harga karena di pasar ini ikan lagi banjir, selama bulan Mei pasokan ikan cukup banyak sehingga sangat berpengaruh terhadap inflasi yang terjadi di tiga kota di Papua,” ujarnya.

Selain itu dengan jaringan internet yang belum pulih para pedagang yang seharusnya berjualan online, penjualan tiket online, dan transportasi online, tak beroperasi. Juga distribusi barang di mana hampir 80 persen kebutuhan di Papua berasal dari luar ikut terganggu.

“Kita tahu hampir 80 persen kebutuhan di Papua itu dari luar. Nah, dengan terganggunya jaringan internet, distributor-distributor merasa terganggu,” katanya.

Kemudian dari sektor perdagangan, banyak pedagang online yang berjualan secara online tidak bisa berjualan.

“Terus dari sisi makanan yang kita beli secara online, dari sisi penjualan tiket pesawat juga terganggu karena tidak online, terus dari sisi transportasi yang motor-motor online dan itu kan terganggu,” katanya.

Jaringan internet yang sering terganggu di Papua tentu akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, sehingga Carolina mengharapkan adanya aturan yang tegas dari Pemerintah Provinsi Papua terhadap Telkom supaya kejadian serupa tidak terulang lagi.

“Kita semua mengharapkan ada aturan yang tegas untuk Telkom supaya jangan terulang lagi. Memang dengan putusnya kabel ini kita tidak tahu jelas kenapa, kan? Harus ada evaluasi atau pengawasan dari pemerintah terhadap Telkom. Caranya bagaimana saya rasa pemda taulah untuk standar memanggil dan memeriksa perusahan tersebut,” ujarnya.

Bila perlu, kata Carolina, Pemerintah Provinsi Papua harus memikirkan alternatif lain selain memakai Telkom, misalnya Indosat, atau XL.

“Begini kan kalau Telkom drop kita semua kena imbas, tetapi kalau ada yang lain mereka bisa menjadi pesaingmereka, misalnya indosat, XL, atau yang lain sehingga tidak dimonopoli Telkom saja. Supaya ketika jaringan putus kita tidak tergantung dengan Telkom saja, kita bisa beralih ke yang lain,” katanya.

Deflasi 0,38 persen

Berdasarkan hasil pemantuan BPS Provinsi Papua di tiga kota, pada Mei 2021 terjadi deflasi sebesar 0,38 persen atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,37 pada April 2021 menjadi 104,97 pada Mei 2021.

Dengan angka inflasi tersebut, maka laju inflasi tahun kalender (Mei 2021 terhadap Desember 2020) gabungan tiga kota IHK di Papua mencapai 0,11 persen dan laju years on year (Mei 2021 terhadap Mei 2020) mencapai 0,88 persen.

Deflasi yang terjadi pada gabungan tiga kota IHK di Papua tersebut akibat adanya penurunan harga yang ditunjukan oleh penurunan angka indeks pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar -2,67persen serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar -0,34 persen.

Faktor pendorong terjadinya deflasi tersebut adalah penurunan harga yang cukup signifkan pada beberapa komoditas antara lain: ikan ekor kuning, cabai rawit, kangkung, ikan cakalang, sawi hijau, dan lain-lain.

Sedangkan komoditas yang memberikan andil inflasi antara lain: angkutan udara, baju muslim pria, kue kering, bawang putih, daging ayam ras, dan lain-lain.

jubi.co.id