Penembakan terhadap Guru Bisa Hambat Proses Pendidikan di Pedalaman Papua
JUBI.CO.ID | 12/04/2021 20:48
Penembakan terhadap Guru Bisa Hambat Proses Pendidikan di Pedalaman Papua
Ilustrasi penembakan. AP/Brennan Linsley

Jayapura, Jubi – Anggota komisi bidang pendidikan dan kesehatan DPR Papua, Natan Pahabol khawatir penembakan yang menewaskan dua guru di Kabupaten Puncak, dapat menghambat proses pendidikan di pedalaman Papua.

Natan Pahabol yang pernah menjadi guru sukarela selama delapan tahun di wilayah Kabupaten Yahukimo mengatakan, peristiwa itu dapat membuat guru lain di wilayah potensi konflik di Papua, meninggalkan tempat tugas atau pindah ke daerah yang dianggap aman.

Menurutnya, jika itu terjadi anak anak di wilayah tersebut tak mendapat pendidikan yang layak.

“Secara pribadi saya prihatin. Ini pembunuhan karakter pendidikan masa depan. Membunuh satu orang guru sama saja membunuh 1.000 generasi Papua,” kata Natan Pahabol kepada Jubi, Senin (12/4/2021).

Katanya, selama ini wilayah pedalaman Papua masih kekurangan guru. Jarang ada yang mau mengabdi di sana. Kebanyakan di antara mereka adalah guru kontrak, honorer atau tenaga sukarela.

Ia mengatakan, kejadian penembakan tersebut, bisa saja membuat para guru lain berpikir jika akan ditugaskan ke pedalaman.

“Peristiwa akibat ulah oknum tak bertanggung jawab ini akan menghambat dunia pendidikan Papua,” ujarnya.

Ia berharap aparat keamanan dapat segera mengungkap dan menangkap pelaku untuk diproses hukum.

Pihak gereja, tokoh masyarakat, dan masyarakat yang mengetahui peristiwa diminta memberi keterangan yang benar kepada aparat siapa terduga pelaku.

“Jangan hanya bilang TPNPB atau oleh aparat keamanan disebut KKB secara umum. Kami harap kepolisian perjelas jangan hanya bilang TPNPB atau KKB secara umum tapi mesti diperjelas,” ucapnya.

Selain itu, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengutuk keras penembakan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata terhadap 2 orang guru di Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, yakni Yonatan Randen dan Octavianus Rayo.

Ketum PB PGRI, Unifah Rosyidi mengatakan, untuk kesekian kalinya, guru di daerah konflik menjadi korban kekerasan oleh kelompok bersenjata.

“Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Pengurus Besar PGRI mengutuk keras penembakan yang menyebabkan tewasnya dua orang guru tersebut,” kata Unifah.

PGRI juga sangat menyesalkan terjadinya pembakaran terhadap 3 gedung sekolah yakni SD Jambul, SMPN 1 Beoga, SMAN 1 Beoga dan rumah guru setelah kejadian penembakan terhadap Octavianus Rayo.

“Guru adalah penyuluh peradaban bangsa yang mengabdikan diri untuk mencerdaskan generasi bangsa sehingga harus dilindungi dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.

Sebelumnya, dua orang guru tewas ditembak kelompok bersenjata di Kabupaten Puncak pada pekan lalu.

Korban pertama Oktovianus Rayo (43 tahun) merupakan guru SD. Ia ditembak di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Kamis (8/4/2021).

Korban kedua, Yonatan Renden (28 tahun), merupakan guru honorer di SMP N 1 Beoga. Korban ditembak di Kampung Ongolan Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Jumat (9/4/2021).

jubi.co.id


BERITA TERKAIT