Korban Banjir Bandang Papua: Banyak Pihak Ambil Data, tapi Bantuan Tidak Ada
JUBI.CO.ID | 09/04/2021 10:34
Korban Banjir Bandang Papua: Banyak Pihak Ambil Data, tapi Bantuan Tidak Ada
Seorang warga mengevakuasi hewan ternak miliknya akibat banjir bandang Sentani di Sentani, Jaya Pura, Papua, Selasa, 19 Maret 2019. Banjir ini menyebabkan sedikitnya enam ribu orang mengungsi ke sejumlah posko pengungsian. ANTARA/Zabur Karuru

Sentani, Jubi – Warga Wusir Dua yang menjadi korban banjir bandang Sentani yang terjadi di Kabupaten Jayapura, Papua, pada 16 Maret 2019 mengeluhkan karena banyak instansi yang meminta data korban banjir tanpa memberi bantuan. Mereka meminta pemerintah adil dalam memberikan bantuan bagi para korban banjir bandang Sentani.

Banjir bandang yang terjadi di Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, pada 16 Maret 2019 menimbulkan banyak korban. Selain itu, banyak warga kehilangan tempat tinggal yang hanyut, hancur, atau rusak berat diterjang banjir bandang.

Warga Wusir Dua, jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Kanaan Sosial Sentani, Wemin Kogoya (45) menuturkan banjir bandang itu membuat ia kehilangan harta bendanya. “Waktu banjir, saya tidak bawa apa-apa, semua air banjir bawa. Banjir malam itu kasih rusak ruko saya, [dan menghilangkan] uang [dagangan] yang belum saya masukkan bank. Saya punya anak terseret sampai jauh. Saya keluar tidak bawa apapun, hanya tubuh saya saja,” kata Wemin saat ditemui Jubi di Sentani pada Kamis (8/4/2021).

Wemin menuturkan sejumlah tetangga satu komplek tempat tinggalnya meninggal karena terjangan material seperti pohon, pasir, dan batu. “Sebagian orang [hilang, sampai sekarang] belum ditemukan. Kejadian malam itu memang luar biasa,” kata Wemin.

Menurutnya, di masa awal penanganan korban banjir bandang Sentani, Pemerintah Kabupaten Jayapura, Pemerintah Provinsi Papua, maupun berbagai organisasi masyarakat yang datang membantu para korban. Akan tetapi, kini bantuan itu tidak ada lagi. “Sejak kami dibawa ke Toware dan kembali, sudah tidak ada perhatian pemerintah. Padahal kami ini korban,” ujarnya.

Wemin juga mengeluh karena banyak instansi pemerintah meminta data para korban banjir bandang Sentani. Namun, berbagai instansi yang mengambil data itu tak kunjung mengucurkan bantuan lagi.

“Banyak yang datang ambil data dengan berbagai alasan, tapi tidak tahu ke mana [data itu]. Sampai sekarang, kami hanya begini saja. [Pemerintah membangun] 300 rumah di Kemiri, kami juga tidak dapat. Saya heran, saya ini korban, tapi saya tidak dapat. Mereka yang tidak mengalami pasir masuk ke rumah saja dapat rumah,” keluh bapak tiga anak itu.

Keluhan serupa juga disampaikan Mainan Kogoya (46). Bencana banjir bandang Sentani membuatnya kehilangan rumah tempat tinggal, ternak, dan berbagai harta benda lainnya. “Yang selamat malam itu hanya saya, anak-anak, dan keluarga saja. Kalau uang [dan yang] lain itu, semua air bawa,” ujar Mainan.

Mainan berharap pemerintah adil dalam memberikan bantuan bagi para korban banjir bandang Sentani. “Kita ini tidak dapat bantuan, kalau yang lain, mereka dapat bantuan. Padahal kami ini kena musibah yang sama. Kami berdoa saja, biar semua itu urusan Tuhan. Kami hanya tinggal begini saja,” jelasnya.

jubi.co.id


BERITA TERKAIT