Hanya dalam Waktu Sehari, Ada 5 Warga Sipil Ditembak di Puncak Papua, 4 Orang Mati
JUBI.CO.ID | 25/11/2020 14:20
Hanya dalam Waktu Sehari, Ada 5 Warga Sipil Ditembak di Puncak Papua, 4 Orang Mati
Korban Manus Murib saat mendapatkan perawatan di rumah sakit - IST

Jayapura Jubi – Setelah dua pelajar SMAN 1 dan SMKN 1 Ilaga yang hendak merayakan Natal bersama orang tua (satu meninggal dan satunya bisa melarikan diri meski tertembak), penembakan kembali terjadi di tempat yang sama.

Korbannya kali ini Aki Alom ASN Dinas Pertanian, Wapenus Tabuni (17 tahun) siswa Sekolah Alkitab Eromaga, dan Warius Murib (12 Tahun) siswa SD YPPK Mudidok

Sebelumnya, Dua pelajar di Kabupaten Puncak yang hendak merayakan Natal bersama orang tua di kampung halaman, dihadang dan ditembak. Satu meninggal dunia dan satu orang lagi melarikan diri dengan tiga luka tembak di badan.

“Hari Kamis itu, Atanius Wuka (22) dan Manus Murib (22), siswa kelas dua di SMAN 1 Ilaga mereka dengar libur sekolah dan mereka persiapan pulang, hari Jumat itu mereka dua ini mau (pulang merayakan) Natal bersama dengan orang tua, jadi dari Gome mereka mau ke Agandugume dan sebelumnya itu ada penghadangan anggota di pertengahan jalan yang tidak diketahui oleh masyarakat dari Timika menuju Ilaga,” kata pihak keluarga korban yang dirahasiakan identitasnya, kepada Jubi melalui telepon seluler, Sabtu (21/11/2020)

Keluarga korban penembakan menuturkan penembakan terhadap Aki, Wapenus dan Warius terjadi pada hari yang sama, Jumat (19/11/2020) berselang satu jam setelah penembakan dua pelajar SMAN 1 dan SMKN 1 Ilaga. Atanius Wuka dan Manus Murib ditembak sekitar pukul 11.00 sedangkan tiga orang lainnya ditembak mati sekitar pukul 12.00 siang tak jauh dari tempat Atanius dan Manus tertembak.

“Mereka dari Agandugume hendak menuju ibu kota Ilaga itu jam 12 siang. Mereka ada enam orang. Dari Agandugume ke Ilaga itu ada tiga jalan. Jadi yang tiga orang lainnya, lewat jalan lain. Aki, Wapenus dan Warius lewat jalan menuju gunung (belantara Limbaga), jalan pintas menuju Ilaga. Ternyata sudah ada anggota siaga di gunung Limbaga atau Gaikunume. Pas Tiga orang ini masuk di tempat (Limbaga) itu langsung di tembak,” kata Molu Telenggen, anggota keluarga tiga korban penembakan itu ketika hubungi Jubi, Senin (23/11/2020).

Anggota yang disebutkan bersiaga di Gunung Limbaga ini sebelumnya disebutkan oleh Manus Murib dalam kesaksiannya menggunakan seragam, rompi dan helm hitam.

Ketiga korban yang ditembak mati ini sebelumnya mengunjungi keluarga di Agandugume.

Keluarga sudah mendesak pemerintah Kabupaten Puncak sejak hari Jumat (20/11/2020) untuk mengambil jenazah yang ditinggal di tempat kejadian.

“Masak duduk di Polsek tapi yang terima aspirasi itu Sekda, bukan Kapolsek. Kemarin Sekda bilang besok (Selasa, 24/11/2020) akan ambil mayat. Nanti akan sediakan helikopter untuk mengambil empat mayat korban ini,” jelas Telenggen

Pihak keluarga juga telah meminta TNI-Polri juga untuk membantu namun TNI dan Polri tidak mengiyakan untuk penjemputan mayat korban.

“Pihak keluarga minta ke pihak Kapolsek tapi mereka tolak dan bilang itu bukan anggota kami (yang tembak). Mereka itu darimana datang baru ada disitu,” ucapnya.

Disinggung soal adanya pernyataan Kapolda Papua bahwa penembakan dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) ia mengatakan KKB tidak biasa melakukan penembakan siswa maupun pegawai negeri sipil seperti demikian untuk itu dia meminta untuk Kapolda dan aparat lain tidak menyebar hoax.

“Kami sekeluarga minta agar aparat TNI dan Polri untuk tidak menyebar berita hoax di media massa tanpa mengetahui kondisi sebenarnya. Kami ini korban. OPM itu tidak bisa tembak masyarakat sembarang apalagi anak sekolah dean PNS,” kata Julianus Murib ayah dari Manus Murib, siswa korban penembakan pada tanggal 19 November yang selamat dan saat ini masih dirawat di rumah sakit.

Julianus mengatakan, terkait hal ini pihak keluarga tidak membuka ruang kepada siapapun untuk memberikan keterangan terkait penembakan karena yang menjadi saksi sementara dirawat di rumah sakit sehingga semua peristiwa ini akan dijelaskan oleh saksi secara rinci.

“Kami harap aparat kepolisian maupun TNI agar tidak menebar informasi sepihak,” lanjut Julianus.

“Kapolda bilang KKB tapi anak saya ini dia masih hidup dan masih kuat di akan bicara semua. Sempat mereka datang minta data, kami keluarga tolak dengan tegas. Saya katakan bahwa kalian biasa ambil data, tapi biasa buat propaganda di media maka kami semua larang tegas. Tidak ada yang diberikan izin mengambil data di keluarga korban, dan empat orang yang ditembak ini sementara mayat masih di hutan diatas di belantara,” tegasnya.

Terpisah, Nenu Tabuni, Sekwan Intan Jaya mengatakan semua korban yang tewas tertembak itu merupakan keluarganya. Ia sudah menghubungi keluarganya di Ilaga untuk memastikan peristiwa penembakan ini.

“Seharusnya anak-anak ini bisa sampai ke tujuan mereka. Tapi karena di tengah jalan mereka bertemu dengan anggota yang menggunakan seragam hitam-hitam itu, yang menurut warga sedang melakukan operasi pengejaran Lekagak Telenggen dan Militer Murib secara rahasia, anak-anak ini akhirnya ditembak agar operasi pengejaran itu tidak bocor,” kata Nenu.

Kepala Penerangan Kogabwilhan III, Kolonel Czi IGN Suriastawa yang dikonfirmasi Jubi mengaku belum mengetahui peristiwa penembakan yang menewaskan Aki, Wapenus dan Warius. Namun Suriastawa mengatakan sedang mencari info terkait peristiwa ini.

“Menurut saya ada hal yang ganjil dalam info ini, jagan-jangan OTK (Orang Tak Dikenal) yang membunuh itu KKSB (Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata) yang menyamar. Atau masyarakat korban itu KKSB nya. Intinya semoga keamanan dan kedamaian segera terwujud. Saya coba cari info dilapapangan ya…” kata Suriastawa. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT