Kronologi Penangkapan Oknum Polisi Penjual Senjata Ilegal di Papua, Libatkan Anggota Perbakin?
JUBI.CO.ID | 04/11/2020 10:10
Kronologi Penangkapan Oknum Polisi Penjual Senjata Ilegal di Papua, Libatkan Anggota Perbakin?
Kapolda Papua dan Pangdam XVII/Cenderawasih saat menunjukan barang bukti dan tiga tersangka jual beli senjata api - Jubi/Alex

Jayapura, Jubi – Kepolisian Daerah Papua telah menahan tiga tersangka kasus jual-beli senjata api di Kabupaten Nabire. Ketiga tersangka perdagangan senjata api itu meliputi seorang anggota Polri, mantan anggota TNI, dan seorang pengusaha.

Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Paulus Waterpauw menyatakan penangkapan ketiga tersangka perdagangan senjata api di Nabire itu berawal dari informasi petugas Bandara Nabire pada 21 Oktober 2020 tentang penumpang maskapai Wings Air yang membawa senjata api. Senjata api itu dibawa dari Jakarta dalam keadaan terbungkus.

Tim gabungan TNI/Polri kemudian menuju bandara, dan mengecek kebenaran informasi itu. Petugas di bandara menyatakan senjata api dari Jakarta itu telah diserahkan kepada penumpang berinisial MJH yang menempuh rute penerbangan Jakarta – Makassar – Timika, Nabire. Petugas bandara menyatakan, saat pengambilan itu MJH bisa menunjukkan surat serah terima senjata.

Menurut Waterpauw, MJH merupakan polisi yang berdomisili di Cimanggis, Kota Depok. “MJH merupakan oknum anggota Polri aktif. Karena anggota [tim gabungan] tetap merasa curiga, [mereka] kemudian mengikuti kendaraan yang digunakan MJH. [Akhirnya MJH singgah] ke salah satu hotel di Kota Nabire,” kata Waterpauw.

Di hotel itu, tim gabungan TNI/Polri yang dipimpin Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Nabire, Kompol Samuel Tatiratu segera mengamankan MJH serta DC, berikut dua pucuk senjata api jenis M-16 dan M4 yang dibawa MJH. Tim gabungan lantas membawa MJH, DC, dan kedua senjata api laras panjang itu ke Markas Polres Nabire.

Dalam pengembangan perkara itu, penyidik mendapati DC sebagai pemilik senjata api laras pendek jenis Glock. “Dari hasil pemeriksaan, kedua pucuk senjata api tersebut adalah pesanan DC yang juga anggota Perbakin Nabire,” kata Waterpauw.

Polisi juga telah menangkap FAS, orang yang diduga memasok M-16 dan M4 kepada MJH. FAS merupakan mantan anggota TNI AD dan berdomisili di Sulawesi Barat. “Ia memiliki peran menerima pesanan dan mencari sendiri senjata api sesuai pesanan MJH,” ujar Waterpauw.

Waterpauw menyatakan ketiga tersangka akan dijerat dengan delik menerima, mencoba, memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, mengauasai, membawa, mempunyai atau menyimpan, mengangkut atau menyimpan sesuatu senjata api, amunisi atau bahan peledak secara ilegal. “Semua barang bukti baik senjata, amunisi, handhone, magazine, [kartu] ATM, maupun KTP sudah disita dengan surat perintah penyitaan tertanggal 21 Oktober 2020,” ujar Waterpauw.

Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih, Mayjen Herman Asaribab, mengatakan penyidikan perkara jual beli senjata api ilegal oleh mantan anggota TNI diserahkan kepada kepolisian. “Kalau sudah dipecat berarti yang bersangkutan merupakan masyarakat umum,” kata Asaribab.

Asaribab menyatakan ia akan melacak asal-usul senjata api M-16, sesuai nomor seri yang ada pada senjata tersebut. “Dengan melihat nomor bisa diketahui keberadaan senjata ini dari mana dan siapa pemiliknya,” kata Asaribab.(*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT