Trauma Penembakan Pendeta Yeremias, Warga Distrik Hitadipa Mengungsi Karena Merasa Tak Aman
JUBI.CO.ID | 28/10/2020 08:00
Trauma Penembakan Pendeta Yeremias, Warga Distrik Hitadipa Mengungsi Karena Merasa Tak Aman
Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Penembakan Intan Jaya Benny Mamoto bersama anggota tim di Intan Jaya, Papua. ANTARA/HO-Dok Humas Kemenko Polhukam

Nabire, Jubi – Warga Distrik Hitadipa dilaporkan banyak mengungsi ke luar kampung. Mereka trauma atas penembakan yang menyebabkan kematian Pendeta Yeremias Zanambani, pertengahan bulan lalu.

“Warga mengungsi karena merasa tidak nyaman (dan aman) lagi di daerah mereka. Sebagian ada yang mengungsi hingga ke luar kabupaten (Intan Jaya), dan sebagian lagi bertahan di perkampungan di sekitar Hitadipa,” kata warga asal Hitadipa Amer Maisini melalui telepon kepada Jubi, Selasa (27/10/2020).

Maisini mengungkapkan warga yang mengungsi di sekitar Hitadipa terancam kelaparan. Persedian makanan dan minuman mereka semakin menipis.

“Mereka makan seadanya dari hasil kebun pemberian warga setempat. Seorang mama-mama pengungsi bahkan dilaporkan meninggal karena kelaparan di kampung Zanamba,” ungkapnya.

Menurut Maisini, warga masih enggan pulang karena mengganggap situasi Hitadipa belum aman. Para pengungsi tersebut didera tekanan psikologis akibat penembakan terhadap Pendeta Yeremias.

“Warga (pengungsi) juga mengalami kekurangan bahan makanan. Sampai saat ini belum ada bantuan apa pun dari pihak luar,” ujar Maisini.

Yusak Zanambani menambahkan warga yang bertahan di sekitar Hitadipa karena tidak memiliki cukup ongkos dan keluarga di daerah lain. Kondisi mereka sangat memprihatinkan.

“Mereka yang keluar kampung karena memiliki ongkos (transportasi) dan keluarga. Bagi yang tidak, tetap bertahan di sejumlah kampung di sekitar Hitadipa,” jelas kerabat mendiang Pendeta Yeremias Zanambani tersebut. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT