Dua Anak Korban Tembok Roboh di Kota Jayapura Ternyata Tewas Tersetrum Listrik Rumah yang Kebanjiran
JUBI.CO.ID | 01/10/2020 14:00
Dua Anak Korban Tembok Roboh di Kota Jayapura Ternyata Tewas Tersetrum Listrik Rumah yang Kebanjiran
Keluarga dan teman-teman duduk mengelilingi dua anak yang menjadi korban robohnya tembok pembatas di Tanah Hitam, Kota Jayapura, Papua - Jubi/Ramah

Jayapura, Jubi – Terdengar samar suara isak tangis dari halaman rumah milik Kepala Suku Itaar, saat Jubi menemui dua anak yang meninggal dunia akibat robohnya tembok pembatas rumah toko (ruko) di belakang SD Negeri Inpres Enggros di Jalan Pantai Enggros, Asano, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Kamis (1/10/2020).

Semakin dekat, saat masuk ke dalam rumah, suara tangisan itu semakin jelas. Rupanya orangtua, keluarga, dan teman-teman korban yang masih berusia 4 dan 6 tahun dibaringkan di hadapan mereka, yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tampak berkaca pada bola mata seorang pria paruh baya yang merupakan ayah kedua korban, dengan mengenakan pakaian kaos oblong dan celana pendek, sambil memegang kepala dua anaknya yang sudah terbujur kaku.

Atas kejadian itu, Kepala Suku Itaar, Zeth Itaar, menceritakan sekitar pukul 22.30 WIT atau pukul setengah sebelas malam, terjadi hujan deras disertai angin dan guntur.

Saking derasnya hujan, drainase dengan lebar 50 cm di belakang rumah toko, tak bisa menahan air sehingga meluap dan merobohkan tembok pembatas setinggi dua meter dengan panjang 40 meter, menimpa dua rumah warga milik keluarga Sem Andarek dan Fransina Foa.

Rumah dua keluarga dengan konstruksi bangunan sebagian besar berbahan kayu itu roboh dan menimpa dua anak yang sedang berada di dalam rumah. Satu keluarga yang menjadi korban dihuni dua anak dan bapaknya yang sudah duda.

“Anak laki-laki dua orang ini, meninggal karena kena strom dari aliran listrik di dalam rumah yang sudah banjir dan roboh sehingga tidak bisa diselamatkan. Jadi, bukan meninggal karena longsor,” ujar Itaar.

Itaar menambahkan korban berhasil dikeluarkan dari dalam rumah oleh warga yang datang membantu setelah melewati belakang rumah setelah air surut.

“Pasti kami adakan pembicaraan dengan pemilik tembok, untuk meminta pertanggungjawaban,” ujar Itaar.

Keluarga korban, Elihud Diawaitou, mengatakan di atas drainase dipalang dengan kayu, air mengalir membawa sampah, namun tersangkut pembatas. Volume air semakin membesar dan akhirnya meluap hingga merobohkan tembok.

“Kami minta drainase dibuka lebar sesuai standar nasional supaya air mengalirnya bagus. Kali ini bentuknya L. Jadi, air itu dipantulkan lagi. Air ini tembus di Kali Acay dari Tanah Hitam,” ujar Diawaitou.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Jayapura-Papua, Bernad J. Lamia, mengatakan arus listrik yang lebih tinggi dari 500 volt memiliki potensi besar seperti luka bakar, patah tulang, pingsan, gangguan pernapasan, kejang, hingga berujung kematian.

“Sebelum menolong korban yang kesetrum listrik, lanjut Lamia, perhatikan keadaan sekitar, pastikan tidak berada di dekat sumber listrik. Jika, memungkinkan, segera putuskan aliran listrik di lokasi kejadian, jaga jarak minimal enam meter dari korban yang masih tersengat listrik,” kata Lamia.

Lebih lanjut Lamia mengatakan carilah panel listrik atau kotak sekering untuk memadamkan listrik. Jika tidak bisa dimatikan, pindahkan atau jauhkan korban dari sumber listrik menggunakan benda yang tidak bisa dialiri listrik, seperti kayu atau karet, dan jangan menyentuh aliran listrik menggunakan peralatan basah atau berbahan logam.

“Hubungi Instalasi Gawat Darurat untuk mendapatkan pertolongan medis, jangan menyentuh dan memindahkan korban jika masih teraliri listrik, periksa tubuh korban, dan jangan menyambung kabel listrik jika tidak sesuai standar agar terhindar dari kebakaran dan kesetrum listrik bila terjadi banjir,” ujar Lamia.

Lamia berharap agar warga meningkatkan kewaspadaan sehingga selamat dari bahaya seperti banjir, longsor, dan tersengat listrik. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT