Nestapa Petani di Merauke, 60 Ribu Ton Gabah Menumpuk, Bulog Tak Mau Membeli Beras Petani
JUBI.CO.ID | 29/09/2020 11:00
Nestapa Petani di Merauke, 60 Ribu Ton Gabah Menumpuk, Bulog Tak Mau Membeli Beras Petani
Aksi protes petani di Merauke, Senin (28/9/2020) - Jubi/Frans L Kobun.

Merauke, Jubi – Aksi protes dilancarkan para petani di Merauke. Mereka kesal dan kecewa terhadap Bulog setempat karena menolak membeli beras dari petani.

“Ada sekitar 60 ribu ton gabah menumpuk di rumah-rumah petani. Bulog sejak tiga bulan ini tidak mau lagi menyerap (membeli) beras, tetapi gabah,” kata Ketua Aliansi Petani Padi Merauke Bino, saat unjuk rasa, Senin (28/9/2020).

Petani setempat menginginkan hasil panen padi dijual dalam bentuk beras karena harganya lebih mahal. Sementara itu, Bulog Merauke hanya bersedia membeli dalam bentuk gabah kering giling (GKG) sesuai ketentuan dan instruksi dari kantor pusat di Jakarta.

“Tempat penggilingan juga tidak mau menerima (membeli gabah dari petani). Ini menjadi persoalan serius yang tidak kunjung ada solusinya dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Bino.

Bino mengaku kondisi tersebut sangat memberatkan petani. Pendapatan utama mereka terganggu padahal petani harus melunasi kredit di bank selain memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, dia mendesak Bulog kembali membeli beras petani.

“Petani telah bersusah payah dan mengeluarkan biaya untuk merawat padi hingga bisa dipanen. Namun, ujung-ujungnya gabah (ternyata) tidak bisa digiling (untuk dijadikan beras). Kami mohon petani kecil juga dihargai (jerih payahnya),” kata Bino.

Unjuk rasa petani berlangsung di DPRD Merauke. Aksi ini juga berujung pada kekecewaan petani. Tidak ada seorang pun anggota DPRD menerima aspirasi mereka.

“Kami sangat kecewa. Mereka (seluruh anggota DPRD Merauke) tidak ada di tempat padahal kami membutuhkan mereka untuk memperjuangkan keinginan dan harapan petani,” kata Sugeng, petani peserta unjuk rasa. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT