Rakyat Papua Kembalikan Beasiswa Veronica Koman Rp 773.876.918 ke LPDP Kementerian Keuangan
JUBI.CO.ID | 16/09/2020 10:00
Rakyat Papua Kembalikan Beasiswa Veronica Koman Rp 773.876.918 ke LPDP Kementerian Keuangan
Aktivis HAM Veronica Koman bersama Tokoh Perempuan Amungme, Mama Yosepha Alomang - Jubi/Dok. Pribadi.

Jayapura, Jubi – Eks narapidana politik Papua, Ambrosius Mulait mengatakan rakyat Papua yang didukung solidaritas masyarakat Indonesia dan internasional telah mengumpulkan dana untuk membantu advokat Veronica Koman membayar tagihan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP Kementerian Keuangan senilai Rp773.876.918. Tagihan itu rencananya akan dibayarkan kepada LPDP Kementerian Keuangan di Jakarta pada Rabu (16/9/2020).

Mulait menyatakan rakyat Papua mengumpulkan uang itu karena melihat Veronika Koman gigih membela harkat dan martabat orang Papua. Veronica Koman terus mengalami tekanan agar ia menghentikan advokasi hak asasi manusia Papua.

Setelah dikriminalisasi dan diadukan ke Interpol, Veronica Koman juga dipaksa mengembalikan uang beasiswa LPDP Kementerian Keuangan senilai Rp773.876.918. Tagihan LPDP itu didasarkan klaim bahwa Koman tidak mematuhi ketentuan harus kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan program ​Master of Laws ​di ​Australian National University​, Australia.

Ambrosius Mulait menyatakan rakyat Papua tahu bahwa Veronica Koman adalah orang Indonesia yang gigih membela harkat dan martabat manusia Papua. Veronica kemudian mengalami berbagai tekanan dari pemerintah karena kegigihannya itu, sehingga rakyat Papua berinisiatif membantunya untuk membayar tagihan LPDP itu.

“Rakyat Papua menganggap ini sesuai adat Papua. Perwakilan rakyat Papua Sorong-samarai besok akan antar dana ebamukai yang dimpulkan secara simbolik ke Kementerian Keuangan,” kata Mulait kepada Jubi, Selasa (15/9/2020).

Mulait menyatakan rakyat Papua menghargai perjuangan Veronica Koman, walaupun orang Papua lebih susah darinya. “Berapapun nominal yang diminta oleh negara melalui LPDP, rakyat Papua siap memberikan kepada negara. Kami yang akan mengembalikan uang kecil tersebut kepada negara, [negara] yang selama ini telah mengambil banyak dari tanah kami,” kata Mulait.

Mulait menyatakan dana yang telah terkumpul itu akan diserahkan oleh beberapa orang wakil masyarakat Papua, demi memenuhi protokol kesehatan Covid-19. Ia menegaskan para wakil masyarakat Papua itu bukan datang untuk berunjuk rasa, namun datang sebagai duta bangsa Papua untuk membayar tagihan LPDP kepada Veronica.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Markus Haluk mengatakan bangsa papua adalah rakyat yang tahu adat. Setelah Veronica Koman membela harkat dan martabat orang Papua, wajib bagi rakyat Papua membantu Veronica saat ia ada dalam masalah.

“Bangsa Papua, bangsa yang besar. Bangsa Papua punya harga diri. Kami adalah manusia Papua sejati. Masing-masing suku bangsa di Papua dengan bangga menyebut diri-Nit Akhuni, Amungme, Mee, Migani, Animha, Kamoro, Asmat-dan lainya. Puan Veronica Koman telah mempertaruhkan harga dirinya untuk membela harga diri dan martabat bangsa Papua. Ia telah mengadvokasi korban rasisme Indonesia di Tanah Papua, dan kami wajib membela saudara kami yang mengalami masalah seperti Veronica Koman,” kata Haluk.

Haluk menyatakan ketulusan Veronica Koman membela martabat dan harga diri bangsa Papua telah mendatangkan berbagai ancaman terhadap Veronica. Orang Papua akan membantu Veronica karena merasa Veronica adalah bagian dari rakyat Papua.

“Ancaman terbaru adalah hukuman untuk mengembalikan dana beasiswa Veronika Koman. Ini pun kami patahkan dan kalahkan dengan solidaritas tanpa batas yang kita tunjukkan selama 1 bulan. Di tengah situasi sulit, kami membuktikan bahwa kami bisa. Kami bisa berdiri bersama membela harga diri dan martabat Veronika Koman. Kita telah buktikan bahwa kita bisa galang dukungan untuk Vero,” tegas Haluk.

Haluk menyatakan masyarakat Papua tidak sendiri, karena ada banyak orang Indonesia lain yang mulai memahami berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kesalahan sejarah yang dilakukan Indonesia di Papua. Haluk menyatakan solidaritas dan rasa persaudaraan itu akan tetap dijaga dengan saling menolong.

“Persatuan dan solidaritas yang kami tunjukan hari ini akan terus kami lakukan. [Kami akan] merebut kembali harga diri, martabat, dan hak politik bangsa Papua,” kata Haluk tegas.

Haluk menyampaikan terima kasihnya kepada semua orang Papua serta solidaritas rakyat Indonesia dan masyarakat internasional yang telah mengumpulkan dana untuk membantu Veronica di tengah pandemi Covid-19 dan ancaman tekanan dari aparat keamanan Indonesia.

“Kami memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih. Tuhan Yesus memberkati. Aksi pengalangan dana ini sudah dilakukan selama berapa minggu, dan masyarakat [yang] menyumbang [datang] dari berbabai kalangan. Baik dari masyarakat kecil, media, Pegawai Negeri Sipil, pengusaha, pejabat, solidaritas nasional dan internasional, bahkan keluarga Veronica Koman juga membatu mengumpulkan uang itu. [Uang itu] siap diserahkan kepada pemerintah Indonesia,” ujar Haluk.

Sebelumnya, LPDP Kementerian Keuangan meminta Veronica Koman mengembalikan dana beasiswa yang diperolehnya, karena Veronica dinilai tidak mau kembali ke Indonesia. Di sisi lain, Veronica Koman menyakini bahwa dirinya telah memenuhi ketentuan beasiswa tersebut.

Veronica menyatakan LPDP dan Kementerian Keuangan telah mengabaikan fakta bahwa ia telah memenuhi kewajibannya untuk pulang ke Indonesia setelah merampungkan studinya di Australian National University. Ia menyatakan ingin kembali pulang ke Indonesia, namun keselamatannya terancam.

“Kementerian Keuangan telah mengabaikan fakta bahwa saya telah menunjukkan keinginan kembali ke Indonesia, apabila tidak sedang mengalami ancaman yang membahayakan keselamatan saya. Melalui surat ini, saya meminta kepada Kementeri Keuangan, terutama Menteri Sri Mulyani, untuk bersikap adil dan berdiri netral dalam melihat persoalan ini, [agar] tidak menjadi bagian dari lembaga negara yang hendak menghukum saya karena memberikan pembelaan HAM Papua,” tulis Veronica dalam keterangan pers tertulisnya pada Agustus lalu.

Pada 11 Agustus 2020, Tempo.co melansir pernyataan Direktur LPDP Rionald Silaban yang membenarkan pihaknya telah meminta Veronica Koman mengembalikan uang beasiswa dari LPDP. “Betul bahwa LPDP meminta Veronica Koman Liau untuk mengembalikan seluruh dana beasiswa yang sudah kami keluarkan,” kata Silaban dalam pesan pendeknya kepada Tempo.co.(*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT