Belum Ada Obat dan Vaksin, Begini Upaya Dokter di Papua Sembuhkan Pasien Covid-19
JUBI.CO.ID | 28/05/2020 10:30
Belum Ada Obat dan Vaksin, Begini Upaya Dokter di Papua Sembuhkan Pasien Covid-19
Ilustrasi Virus Corona atau Covid-19. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

Jayapura, Jubi – Juru Bicara Satuan Tugas Covid-19 Papua dr Silwanus Soemoele, SpOG (K) mengatakan, penyakit Covid-19 adalah penyakit baru yang masih misterius dan belum ada obat khusus seperti penyakit lainnya.

Soemoele menjelaskan, ketika pasien dinyatakan positif Covid-19, maka seorang dokter akan melihat kondisi pasien tersebut.

Karena kondisi pasien berbeda, bisa sakit ringan, sedang, atau berat. Berdasarkan kondisi pasien, maka jenis pengobatannya akan disesuaikan.

“Jadi tidak seperti penyakit lain, misalnya malaria, kita obati dengan klorokuin atau kina, pengobatan Covid-19 belum seperti itu dan tergantung kondisi pasien,” katanya.

Ia menjelaskan, selama ini petugas kesehatan akan fokus memperbaiki kondisi umum pasien dengan tiga macam obat dan tidak selalu ketiga obat tersebut dipakai bersamaan pada semua pasien.

“Tergantung kondisi pasien, selama ini kita memberikan anti radang (inflamasi), antibiotik, antiviral, ini yang disebut pengobatan utama,” ujarnya.

Kemudian agar pengobatan dapat berjalan baik, dibutuhkan pengobatan suportif untuk meningkatkan imunitas pasien.

Pengobatan suportif, katanya, dapat dilakukan secara medikamentosa (menggunakan obat-obatan) seperti pemberian vitamin. Kemudian dengan cara nonmedikamentosa, misalnya dengan memberikan aspek kerohanian, memperbaiki gizi atau olahraga.

Metode nonmedikamentosa, lanjutnya, dapat juga dengan memberikan suplemen tertentu, seperti memberikan buah merah, sarang semut, coconut oil, dan sebagainya.

“Tapi ingat, pengobatan suportif tidak bisa menggantikan pengobatan utama,” katanya.

Sampai saat ini Provinsi Papua memiliki angka kesembuhan yang cukup tinggi, sekitar 183 pasien dari total 652 kasus atau sekitar 28 persen. Papua juga berhasil menekan persentase kematian tetap di bawah 2 persen atau 11 kasus.

“Hal ini dapat dicapai karena petugas di Papua menemukan pasien sedini mungkin, dengan pemeriksaan masif kita temukan kasus sedini mungkin, angka kesembuhan tinggi, kalau kita ditunda dan pasien yang datang sudah dalam keadaan sakit berat dan sedang, itu susah,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa sejak awal Provinsi Papua memutuskan penutupan penerbangan dan kapal penumpang karena rumah sakit di Papua memiliki alat dan tenaga kesehatan yang terbatas.

“Jumlah ventilator terbatas, tenaga kesehatan terbatas,” ujarnya.

Jika pasien datang dalam keadaan sakit berat, perlu obat-obatan yang banyak sekali.

“Sehingga menemukan pasien sedini mungkin adalah satu-satunya cara menekan angka kematian dan meningkatkan angka kesembuhan di Papua,” katanya.(*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT