Ekonomi Lesu, Sistem Transaksi Barter Diterapkan di Fiji, Mungkin Bisa Dicoba?
JUBI.CO.ID | 11/05/2020 17:01
Ekonomi Lesu, Sistem Transaksi Barter Diterapkan di Fiji, Mungkin Bisa Dicoba?

Dua anak babi untuk satu kayak bekas, ongkos taksi untuk hasil kebun segar, roti cross buns untuk kelas daring, karpet tua untuk sesi fotografi profesional, bibit sayuran untuk kue pai, serta tawaran untuk membersihkan pekarangan belakang dibarter dengan doa.

Itu hanya beberapa contoh dari ratusan transaksi barter yang dilakukan di Fiji sejak laman Facebook ‘Barter for Better Fiji’ dimulai beberapa minggu lalu sebagai respons dari hilangnya lapangan pekerjaan akibat dampak virus corona. Laman ini sekarang memiliki lebih dari 100.000 anggota, di negara dimana jumlah populasinya di bawah 900.000 jiwa.

“Alasan utama saat memulai grup Facebook tersebut adalah untuk membantu menawarkan sebuah solusi dari keadaan ekonomi saat ini,” kata Marlene Dutta, konsultan pengembangan keterampilan bisnis.

“Bagi banyak orang di seluruh dunia dan di Fiji, mereka akan lebih sulit mendapatkan uang dan bahkan lebih sulit untuk jangka waktu panjang. Inti laman ini adalah untuk membuka jalan keluar dimana orang-orang bisa mendapatkan barang-barang yang mereka perlukan atau inginkan tanpa menggunakan uang, dan ini akan sangat membantu mereka untuk menghemat uang yang terbatas dan membayar tagihan, transportasi, dan hal-hal lain yang membutuhkan dana.”

Sistem barter kembali bangkit di Pasifik

 

Laman Facebook yang serupa di Tonga – ‘Barter for Change’ – dua laman di Samoa, ‘Barter for Better Samoa’ dan ‘Le Barter Samoa’ dengan lebih dari 1.000 anggota – dan satu di Vanuatu ‘Barter for Nambawan Life Vanuatu’ – sementara negara-negara kepulauan Pasifik mulai merasakan kesulitan ekonomi akibat Covid-19.

Sebagian besar kawasan Pasifik berhasil menghindari wabah Covid-19. Menurut Sekretariat Komunitas Pasifik (SPC), pada akhir April, hanya ada beberapa ratus kasus yang tercatat di enam negara dan wilayah di Pasifik – Kepulauan Mariana Utara, Papua Nugini, Fiji, Polinesia Prancis, Guam, dan Kaledonia Baru – di mana keenamnya telah melaporkan 260 kasus dan tujuh kematian.

Namun, sebagian besar negara Pasifik telah menutup gerbang masuk mereka akibat Covid-19, dan sekarang merasakan dampak dari penangguhan perjalanan internasional. Dana Moneter Internasional (IMF) telah memperkirakan penurunan ekonomi sebesar 2,7% untuk Negara-negara Kepulauan Pasifik (PICs), serta 40% penurunan dari sektor pariwisata di seluruh kawasan ini.

Di Fiji, lebih dari 40.000 orang – hampir 5% populasi negara itu – telah kehilangan pekerjaan mereka sejak wabah ini dimulai, terutama di industri pariwisata. Sektor pariwisata, khususnya pengunjung dari Australia dan Selandia Baru, mencakup hingga 34% dari PDB negara tersebut. Meskipun pemerintah Fiji telah mengumumkan paket stimulus yang memungkinkan pekerja yang terkena dampak Covid-19 untuk melakukan penarikan satu kali sebesar FJ$ 500-1.000 dari dana pensiun mereka, banyak keluarga yang masih kesulitan.

Maca T Tabuya, seorang pendeta gereja di Nadi, Fiji, telah melakukan barter sembilan kali untuk membantu keluarga-keluarga yang kekurangan karena krisis Covid-19.

“Awalnya saya mulai barter karena saya tertarik, tapi sekarang saya barter untuk membantu orang lain setelah saya lihat ada banyak keluarga yang memerlukan makanan karena mereka kehilangan pekerjaan, tapi mereka tidak punya banyak hal yang bisa dibarter. Kepada mereka saya menawarkan makanan untuk ditukar apa pun yang dapat mereka barter, karena saya ingin membantu mereka.”

Dia juga memanfaatkan sistem barter ini untuk mengumpulkan makanan bagi masyarakat di Kadavu, di selatan negara itu, salah satu daerah yang dilanda Siklon Harold pada 10 April, yang menyebabkan 6.240 orang tinggal di 197 pusat pengungsian di seluruh Fiji.

Vasiti Masi kehilangan pekerjaannya sebagai pramusaji, tetapi ia telah dapat menggunakan laman yang sama untuk memastikan usaha bunga start-up miliknya bisa bertahan, ia barter brownies dan kue basah dan kering lainnya untuk mendapatkan alat-alat yang ia perlukan untuk bisnisnya.

“Pekerjaan saya hilang akibat Covid-19, dan Barter for Better Fiji telah membantu saya menukar kue untuk bunga dan basis karangan bunga untuk membantu bisnis saya,” kata Vasiti. “Laman ini memberikan saya harapan untuk mempertimbangkan hal apa yang bisa saya lakukan dengan berbeda untuk menjaga agar usaha saya tetap berjalan, dan saya tahu bahwa apa yang bisa saya barter, dibutuhkan oleh orang lain. Jadi, ini seperti komunitas besar yang saling berbagi dan saya sangat menyukai sistem ini,“ tambah Vasiti.

Laman Facebook tersebut adalah versi modern dari tradisi dan adat istiadat yang sudah berabad-abad usianya, kata Alisi Daurewa, seorang pegiat dan konsultan pembangunan berbasis masyarakat.

“Leluhur iTaukei (sebutan untuk penduduk asli Fiji) melakukan veisa dalam berbagai situasi, dan ini lahir dari pentingnya nilai resiprositas. Contohnya, orang-orang pesisir di Nadroga (bagian barat Viti Levu, pulau utama di Fiji), bisa membuat garam, jadi mereka akan membawa garam ke kerabat mereka di daerah dataran tinggi Nadroga/Navosa dan masyarakat dari sana, mereka memiliki banyak babi liar, daging babi itu enak, jadi mereka akan menukar garam dari laut dengan babi dari dataran tinggi,” katanya. (The Guardian)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT