Brimob Papua Barat Bantah Lakukan Operasi Militer di Moskona Barat
JUBI.CO.ID | 06/05/2020 16:40
Brimob Papua Barat Bantah Lakukan Operasi Militer di Moskona Barat

Manokwari, Jubi – Komandan satuan (Dansat) Brimob Polda Papua Barat, Kombes Semmy Ronny Thaba, bertanggungjawab penuh terhadap operasi pencarian dan pengejaran yang dilakukan di wilayah Distrik Moskona Barat kabupaten Teluk Bintuni hingga di wilayah Distrik Aifat Timur Jauh kabupaten Maybrat Papua Barat.

Semmy menegaskan, dalam operasi pengejaran tersebut, tidak bertujuan untuk mengintimidasi warga sipil di sepanjang lokasi target pengejaran, karena timnya bekerja berdasarkan data. Bukan asal-asalan.

“Saya bertanggungjawab penuh dalam operasi penyisiran di Bintuni dan Maybrat. Itu operasi untuk pengungkapan kasus, bukan operasi militer (opsmil), atau operasi untuk melawan kelompok kriminal bersenjata (KKB),” kata Semmy di Manokwari, Rabu (6/5/2020).

Dia juga menyatakan bahwa sebanyak dua SSK (Satuan Setingkat Kompi) atau sekitar 60 personel, dilibatkan dalam operasi tersebut sejak tanggal 18-22 April 2020. Dengan pembagian dua tim, masing-masing tim melakukan penyisiran di wilayah Distrik Moskona Barat dan wilayah Distrik Aifat Timur Jauh.

Keterlibatan dua SSK yang dikerahkan melakukan pencarian (penyisiran), kata Semmy, untuk membackup Direktorat Kriminal Umum Polda Papua Barat, dalam melakukan penyidikan kasus pembunuhan terhadap satu anggota Brimob Polda Papua Barat di basecamp PT. Wanagalang Sejahtera, yang ditemukan tewas dengan luka bacok di kepala dan leher pada tanggal 15 April 2020.

“Satu anggota Brimob di bunuh, lalu senjata api (senpi) dibawa kabur. Maka, untuk mengungkap pelaku dan mengamankan senpi yang dibawa kabur, fungsi kami hanya backup tim penyidik Reskrimum di lapangan. Karena pelaku bukan satu, tapi kelompok yang terorganisir dan punya kekuatan untuk melawan,” kata Semmy.

 

Sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam operasi pengejaran, Semmy menepis tudingan sejumlah pihak terkait aksi pembongkaran rumah-rumah warga sipil hingga pembakaran rumah ibadah.

Bahwa, yang digeledah adalah pondok/naungan yang dipakai sebagai tempat kumpul kelompok yang dikejar. Bukan rumah warga.

Dia juga menjelaskan, bahwa tim (aparat) penyisir di wilayah Distrik Aifat Timur, tidak melakukan intimidasi terhadap warga sipil, apalagi pembakaran rumah ibadah.

“Tidak benar, kalau tim kami lalukan intimidasi hingga menodong warga tak bersalah pakai Senjata. Tidak benar juga kalau tim kami lakukan pembakaran rumah ibadah. Ini saya jelaskan, supaya transparan dan masyarakat luas tidak terprovokasi dengan informasi sesat yang dihembuskan pihak-pihak tertentu,” katanya.

Lokasi yang digeledah, bukan kampung, melainkan dusun. Di sejumlah pondok yang digeledah, kata Semmy, ditemukan sejumlah barang bukti dokumen, bendera, bahkan ditemukan barang bukti petunjuk milik korban pembunuhan, yaitu satu buah celana training Brimob dan satu buah sleeping bad Brimob.

“Celana training dan sleeping bad Brimob milik korban adalah barang bukti petunjuk yang menguatkan indikasi tempat persembunyian dan persinggahan kelompok yang dikejar,” kata Semmy.

Warga sipil mengungsi ke hutan

Semmy juga tak menampik, bahwa ada warga sipil yang mengungsi ke hutan pasca penysiran yang dilakukan.

Menurutnya, warga yang mengungsi tidak mendapat informasi kredibel dari pihak yang benar-benar bertanggungjawab dalam kegiatan pengungkapan kasus, namun mendapat informasi sepihak.

“Benar, sebagian dari warga ada yang mengungsi karena miss komunikasi. Sebenarnya, kedatangan aparat ke wilayah tersebut bukan untuk menakut-nakuti. Tapi untuk mencari pelaku. Hanya saja, warga di sana lebih dulu menerima informasi yang tidak lengkap,” katanya.

Semmy menegaskan lagi, bahwa aparat dalam melakukan tugas penyisiran dengan misi pengungkapan kasus, sama sekali tidak punya niat untuk mengintimidasi warga sipil. Tim penyisir, bekerja berdasarkan data dan fakta-fakta pengembangan di lapangan.

“Pada dasarnya, kami jamin keamanan dan kenyamanan warga sipil di setiap lokasi yang dilewati. Jadi, kesempatan ini saya harap warga sipil yang masih berada di tempat-tempat pengungsian, agar dapat kembali dan melakukan aktivitas seperti biasa. Kami hanya kejar pelaku pembunuhan dan perampas senjata. Tidak lebih dari itu,” kata Semmy mengakhiri.

Sebelumnya, tokoh intelektual muda Aifat, Septinus George Saa, mendesak pemerintah daerah dan DPRD Maybrat tidak pasif terhadap kondisi yang terjadi di wilayah Distrik Aifat Timur Jauh (lokasi penyisiran aparat).

Menurut George, jika Pemerintah dan legislatif berperan aktif melalui komponen kerjanya di tingkat Distrik dan Kampung, maka warga sipil di Aifat Timur akan lebih siap dan terbuka dalam membantu pihak aparat dalam misi pengungkapan kasus yang sedang dikerjakan.

Di samping itu, George juga mengingatkan pihak aparat yang telah dan sedang melakukan upaya pengejaran terhadap pelaku pembunuhan dan perampas senpi korban anggota Brimob, supaya tidak bertindak arogan, hingga menciptakan masalah baru di luar misi utama yang dilakukan.

Terpisah, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Papua Barat, AKBP Ilham Saparona, menyatakan, hasil penyisiran dalam pengungkapan kasus pembunuhan dan perampasan senpi anggota Brimob, telah diamankan dua terduga pelaku berinisial FA dan PW. Sementara lima terduga pelaku lainnya masih dalam pengejaran.

“FA dan PW sudah ditangkap. Lima terduga pelaku masih dikejar, karena senpi korban juga belum ditemukan,”  kata Ilham saat menggelar konferensi pers bersama awak media, di Mapolda Papua Barat belum lama ini. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT