STOK SABU di NUMFOR KOSONG, KORBAN TEWAS DIGIGIT ULAR MENINGKAT
JUBI.CO.ID | 28/01/2020 15:00
STOK SABU di NUMFOR KOSONG, KORBAN TEWAS DIGIGIT ULAR MENINGKAT

Biak, Jubi – Tenaga medis di pulau Numfor menyatakan angka kematian warga pulau Numfor akibat gigitan ular berbisa selama 2019 meningkat. Sementara, tindakan medis sangat terbatas untuk menangani pasien gigitan ular.

Berita lainnya: Boaz Solossa, mesin gol dan ‘pelayan’ yang baik

Kepala rumah sakit pratama Numfor, Abner Krisifu, mengatakan enam warga pulau Numfor meninggal dunia di tahun 2019 akibat gigitan ular berbisa. Sementara stok serum anti bisa ular (sabu) sangat terbatas bahkan saat ini tidak tersedia.

“Tahun 2019 lalu, enam orang meninggal dunia digigit ular. Kami sendiri juga kewalahan untuk tangani pasien gigitan ular. Tindakan medis dapat kami lakukan semampu kami, tapi serum anti bisa ular yang seharusnya, saat ini tidak ada,” katanya kepada Jubi, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan untuk menangani pasien gigitan ular, tenaga medis di pulau Numfor terbantu dengan ‘pawang’ ular yang selalu memberikan ramuan alam untuk mengobati pasien gigitan ular, karena  serum anti bisa ular sangat terbatas.

Abner Krisifu menjelaskan tahun 2017 dan 2018 hanya ada empat kejadian warga yang terkena gigitan ular. Semua korban dapat tertolong karena tersedianya Serum Anti Bisa Ular. Namun di tahun 2019, serum tersebut tidak lagi didistribusikan ke lima Puskesmas di Pulau Numfor.

Sementara, Apolos Ayer, warga kampung Pomdori Distrik Numfor Barat, mengatakan ada dua jenis ular berbisa yang diketahui warga pulau Numfor sebagai ‘pembunuh’.

“Dua jenis ular berbisa yang paling ditakuti di pulau Numfor adalah ular putih (Micropecis ikaheka) dan ular pendek (Achantopis),” ujarnya.

Ayer mengisahkan bahwa jika warga digigit oleh salah satu dari dua jenis ular tersebut, maka harus segera berobat, baik itu ke puskesmas atau ke pawang ular. (*)


BERITA TERKAIT