Sudah Jadi WNI, Pastor Frans Lieshout OFM Pilih Habiskan Sisa Usia di Belanda
JUBI.CO.ID | 31/10/2019 15:05
Sudah Jadi WNI, Pastor Frans Lieshout OFM Pilih Habiskan Sisa Usia di Belanda
Pastor Frans Lieshout OFM (lingkaran) di Epouto, Wisselmeren tahun 1969 – fotografer : Jos Donkes

Jayapura, Jubi - Pastor Frans Lieshout, OFM pamit pulang ke Belanda setelah 56 tahun menjadi imam Katolik di tanah Papua. Siapa Pastor Frans Lieshout?

Pastor Frans mengatakan, setibanya di Belanda dirinya akan masuk di panti Jompo milik Biara sambil menghabiskan waktu sisa hidupnya di bumi ini. “Tradisi masuk asrama Jompo bagi orang orang lanjut usia tidak diragukan lagi, karena sudah berjalan ratusan tahun,” katanya.

BACA: DOB Provinsi Papua Selatan, Bupati Merauke: Saya tidak tahu, saya mau komentar apa

Ia lahir di kota kecil Montfoort, Belanda, 15 Januari 1935. Setelah tamat sekolah dasar dan sekolah menengah Gymnasium, Frans Lieshout masuk bergabung menjadi anggota Persaudaraan Fransiskan atau Ordo Fratrum Minorum (OFM) pada Tahun 1955. Study Filsafat Teologi pada tahun 1956-1962. Pentahbisan Imamat pada Tahun 1962.

“Setelah mengikuti beberapa kursus sebagai persiapan untuk Missionaris ke Asia. Saya disuruh memilih diantara tiga benua yaitu Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Tetapi saya memilih berkarya di Asia, karena sebelumnya sempat mendengar kisah-kisah yang sangat sedih campur senang oleh Missionaris seniorku yang sedang berkarya di West Niew Guinea,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, akhirnya jatuh pilihan ke Nederland Nieuw Guinea (Papua) sehingga Frans harus ikut kursus beberapa bulan lagi untuk latihan berbicara, Menulis, dan membaca bahasa Melayu sebelum berangkat ke West Nieuw Guinea.

Tepat bulan April 1963 berangkat dari Belanda menuju ke Nederland Nieuw Guinea dan tidak lama setelah tiba di Hollandia (Jayapura ) tanggal 1 Mei 1963, administrasi Pemerintahan Nederland Nieuw Guinea diserahkan oleh UNTEA ( PBB ) kepada Pemerintah Indonesia. Sehingga namanya juga ikut diganti menjadi Irian Barat, Bendera Belanda diturunkan dan Kota Hollandia diganti nama juga menjadi Soekarnopura.

“Saya mendapat tugas pertama kali di Lembah Baliem Wamena Tahun 1964 sampai 1967. Selanjutnya pindah ke Bilogai, Bilai, Enarotali, Epouto, Timika, Biak, Katedral Dok 5, menjadi Rektor SPG. Teruna Bakti, menjadi Pastor Dekan Jayapura,” katanya.

Tahun 1985 diterima menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan Tahun 1985-1996 kembali ke Baliem menjadi Pastor Dekan Dekenat Jayawijaya. Selanjutnya kembali ke Katedral Dok 5 dan Dekan Dekenat Jayapura yang kedua kali.

“Tahun 2007 kembali ke Lembah Baliem, Jadi itu saya pulang kampung dan menulis buku sambil menjalani masa pensiun di Wamena,” katanya.

Emanuel Petege, salah satu tokoh cendekiawan Katolik dari Meepago mengatakan Pastor Frans menerbitkan beberapa buku penting tentang kultur orang asli Papua, salah satu buku yang terkenal ialah ‘Sejarah Gereja Katolik di Lembah Baliem Papua’ setebal 424 halaman.

BACA: Pemilihan ketua sementara, agenda perdana DPR Papua pasca-pelantikan

Markus Haluk, umat Katolik dari Keuskupan Jayapura mengatakan, selama 56 tahun, Pastor Frans telah menjadi ap hesek, kain kok yang artinya gembala, nabi, guru, bapa, tete, dan saudara bagi rakyat Papua di Pegunungan Papua.

Pada 26 Oktober 2019 lalu, Pastor Frans telah memimpin misa terakhir di Kapela Pilamo Angkasapura Jayapura sebagai tanda perpisahan dengan umat Katolik di tanah Papua untuk selanjutnya akan pulang terus ke negeri Kincir Angin di benua biru Eropa

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT