Sudah 10 Bulan Warga Nduga Papua Hidup di Pengungsian Karena Konflik Bersenjata
JUBI.CO.ID | 28/10/2019 11:20
Sudah 10 Bulan Warga Nduga Papua Hidup di Pengungsian Karena Konflik Bersenjata
anak-anak pengungsi Nduga di Wamena beberapa waktu lalu – Jubi. Dok

Jayapura, Jubi – Pemerintah Kabupaten Nduga diminta serius memperhatikan masalah Sumber Daya Manusia (SDM) karena hingga hari ini aktivitas pendidikan lumpuh total pasca konflik yang terjadi antara militer Indonesia dengan Tentara Nasional Pembabasan Papua Barat (TNPB) akhir Desember 2018.

Hal tersebut sampaikan Remes Ubruangge ketua DPC Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga kota studi Jayapura kepada Jubi, Kamis 24 Oktober 2019.

BACA: Bangkitkan KKR dinilai tepat selesaikan pelanggaran HAM masa lalu

Ia mengatakan hampir 10 bulan ini, aktivitas pelayanan pendidikan di Nduga lumpuh total, sehingga Pemda Nduga harus segera mengambil langkah alternatif agar mereka yang juga bisa menikmati pendidikan yang layak saat ini.

“Tidak hanya pendidikan di Ndugama yang tidak jalan, tapi terhadap mahasiswa eksodus yang datang dari luar Papua ini juga belum ada perhatian serius dari Pemda Nduga sampai saat ini,” katanya.

Pemerintah diharapkan untuk mengambil langkah cepat guna menangani nasib-nasib pelajar, mahasiswa dan masyarakat Nduga karena mereka ini SDM Papua yang punya hak sama untuk menikmati pendidikan yang layak.

Sementara itu, Feronika Nirigi mahasiswa kota studi Jayapura juga berharap dengan banyaknya masalah yang dihadapi masyarakat Nduga terutama anak-anak sekolah saat ini harus putus sekolah dan mengungsi di beberapa daerah sekitarnya sehingga dibutuhkan perhatian khusus.

“Kami harap Pemda harus buka mata melihat mereka baik yang ada di Wamena, Jayapura dan beberapa kabupaten yang jadi tempat pengungsian masyarakat Nduga,” harapnya.

Pengurus dan Mahasiswa Nduga ketika melakukan jumpa pers di asrama Nduga,, Abepura – Jubi/Agus Pabika.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai menyatakan hingga kini pihaknya masih memberikan pelayanan kesehatan kepada pengungsi Nduga di sejumlah wilayah, baik yang ada di daerah Nduga maupun kabupaten tetangga semisal Lanny Jaya atau Jayawijaya.

“Sampai hari ini masih kami melakukan pelayanan. Pekan depan kami pakai ‘tim terbang’. Satu minggu mereka (tim) akan menetap di sana memberikan pelayanan kesehatan,” kata Aloysius Giyai, Kamis 24 Oktober 2019.

Katanya, Dinas Kesehatan Provinsi Papua bekerjasama dengan berbagai pihak dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Nduga, termasuk yang ada di lokasi pengungsian.

“Kami bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan, Kesehatan Kodam dan Polda, AU, Litbang Bio Medis, dan pihak terkait lainnya,” ujarnya.

Akan tetapi menurutnya, dalam melakukan pelayanan kesehatan kepada warga Nduga, Dinas Kesehatan Papua menghadapi berbagai hambatan. Salah satunya, adalah faktor geografis atau sulitnya medan.

“Tapi bukan berarti itu membuat kami menyerah. Kami tetap berupaya menjangkau warga dan memberikan pelayanan kesehatan,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua, Ribka Haluk mengatakan pihaknya juga hingga kini masih mengirim bantuan kebutuhan pokok kepada pengungsi Nduga yang ada di Wamena, Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Lanny Jaya.

“Semua bantuan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemda sendiri itu punya gudang. Kita taruh (gudang) di Wamena. Semua makanan kita kasi masuk di situ. Pakaian dan seterusnya,” kata Ribka Haluk.

BACA: Sembilan tersangka demo antirasisme di Deiyai, dipindahkan ke Rutan Polres Nabire

Menurutnya, saat kebutuhan kepada para pengungsi akan disalurkan, kepala distrik daerah asal pengungsi yang berkoordinasi dengan pihaknya diberi tugas mengelola gudang kebutuhan pengungsi.

“Waktu mau pelayanan kepala distrik yang datang lapor dan mereka yang distribusi. Itu masih jalan sampai hari ini. Tidak ada yang dibiarkan. Selama ini kami tidak publikasi karena kami pikir ini sensitif di masyarakat,” ujarnya. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT