Tinggalkan Rumah Karena Konflik Bersenjata, Warga Nduga Sudah 9 Bulan Mengungsi, 184 Orang Meninggal
JUBI.CO.ID | 09/10/2019 08:30
Tinggalkan Rumah Karena Konflik Bersenjata, Warga Nduga Sudah 9 Bulan Mengungsi, 184 Orang Meninggal
Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah- Ist

Jayapura, Jubi – Konflik bersenjata yang sudah terjadi di Nduga sejak Desember 2018 sampai hari ini, masih membuat ribuan warga mengungsi di kabupaten tetangga seperti Wamena, Lanny Jaya dan daerah lainnya.

Dari pengungsian ini, tercatat 184 orang asli Nduga meninggal dunia. 41 orang di antaranya adalah anak-anak berusia sekolah.

BACA: Insiden Wamena disebut tak pengaruhi pariwisata

“Coba bayangkan, 41 anak yang meninggal dunia di pengungsian ini adalah usia sekolah. Ini bukti Jokowi dan jajarannya abaikan nasib mereka,” ujar Sepi Wanimbo, ketua pemuda gereja Baptis Papua kepada Jubi, Selasa Oktober 2019.

Menurut Wanimbo, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua harus netral dan merata dalam penanganan, entah bantu bahan makanan ataupun ketersediaan rumah layak huni, sebagaimana dilakukan terhadap pengungsi dari Wamena pasca insiden 23 September 2019.

“Jangan melihat dari kaca mata politik, tetapi harus melihat dari nilai kemanusiaannya. Karena nilai manusia lebih berharga dan mahal. Sehingga (dalam ) menangani pengungsi masyarakat Nduga dan masyarakat Jayawijaya [Wamena] harus netral,” katanya.

Ia membandingkan respons Pemerintah pusat dan Pemprov untuk penanganan pengungsi karena longsor di Sentani dan Wamena, terasa lebih cepat membuka mata dan telinga dibanding pengungsi masyarakat Kabupaten Nduga.

“Padahal pengungsi masyarakat Nduga sudah terbengkalai. Hidupnya tidak nyaman, selama sembilan bulan membutuhkan pertolongan dari Pemerintah,” ucapnya.

BACA: Pemerintah Pusat gagal men-Indonesia-kan Papua

Aleb Koyau, salah satu mahasiswa pada sebuah perguruan tinggai di Jayapura mengatakan pengungsi masyarakat dari Nduga dan Wamena sama-sama mencari perlindungan dan kenyamanan.

Dia mempertanyakan makna lima sila pada Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. “Di manakah sila kedua, ketiga dan kelima yang tertulis di Pancasila? Inikah cara negara kita? Nilai-nilai Pancasila dikemanakan?,” katanya kesal.(*)

JUBI.CO.ID

 


BERITA TERKAIT