Cerita Mahasiswa yang Pulang Ke Papua Karena Diintimidasi
JUBI.CO.ID | 10/09/2019 09:20
Cerita Mahasiswa yang Pulang Ke Papua Karena Diintimidasi
Gubernur Papua Lukas Enembe saat berdialog dengan Ibu Helena Windesi (kanan) yang didampingi kedua anaknya Adriana Rosema Windesi dan Bernard Steven Jack Windesi – Jubi/Roy Ratumakin.

Jayapura, Jubi – “Saya ditelpon oleh seseorang, katanya dari polisi. Dia bilang mau ketemu sama saya tetapi di kost. Saya bilang, mau ketemu untuk apa? Katanya polisi itu, mau diskusi soal kejadian kasus di Surabaya dan Malang. Saya bilang saya tidak tau apa-apa, dan Jambi jauh dengan Surabaya dan Malang”

Itulah penggalan obrolan seseorang yang mengaku polisi yang menelpon Adriana Rosema Windesi (19), mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan di Universitas Jambi. Karena takut, Adriana pun menelepon sang ibu untuk memberi kabar bahwa dirinya sempat ditelepon oleh seseorang yang mengaku polisi.

Helena Windesi, ibu dari Adriana pun menyuruh anaknya untuk tidak menemui orang yang mengaku polisi tersebut.

BACA: Komnas HAM kirim tim ke empat kota studi mahasiswa Papua

“Saya bilang jangan. Kalau memang dia seorang polisi dan ingin mengumpulkan anak-anak Papua kenapa tidak langsung ke bersurat Ketua Ikatan mahasiswa Papua? Kenapa harus ke personnya?,” kata Ibu Helena.

Kata Ibu Helena, anaknya sempat takut sehingga meminta saran kepada dirinya apakah anaknya tetap bertahan di Jambi untuk melanjutkan kuliahnya atau harus pulang kembali ke Waropen sambil menunggu kondisi stabil.

“Saya bilang ke anak saya. Kamu pulang nak, kami di sini memang awalnya sempat tidak bisa keluar rumah karena ada aksi demo yang berujung kekerasan. Tetapi karena ada kiriman pasukan yang ribuan makanya kami bisa keluar rumah. Kenapa kami di sini aman, baru kalian di situ tidak aman,” ujarnya.

Adriana menambahkan, dirinya sempat curiga bahwa orang dibalik telpon tersebut memang seorang polisi, namun caranya sudah menyalahi prosedur. “Kalau mau sesuai prosedur, yah harus melalui Ketua Ikatan Mahasiswa Papua, kenapa harus langsung menelepon saya? Saya jadi takut. Ini sama saja dengan intimidasi secara langsung,” kata Adriani yang kini duduk di semester 3 jurusan Teknik Kimia.

Hal tersebut juga terjadi sama sang kakak, Bernard Steven Jack Windesi (21). Bernat sapaan berkuliah di Institut Teknik Bandung (ITB) Teknik Kelautan (Sipil Basah), dan kini sudah semester 5 mengaku dirinya tidak bisa keluar dari rumah kontrakan karena ada informasi dari rekan-rekannya bahwa anak-anak Papua jangan berkeliaran di atas pukul 18.00 , karena akan mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan oleh warga setempat.

“Jadi kalau kami mau keluar harus memakai jaket, tutup kepala, pakai masker. Pokoknya jangan sampai kami diketahui anak Papua. Kalau itu sampai terjadi, maka kami siap-siap diintimidasi oleh orang yang kami temui di jalan,” kata Bernat.

Atas dasar inilah, Bernard dan Adriana memilih untuk pulang ke Jayapura, Papua untuk sementara waktu, dan berharap Pemerintah Provinsi Papua bisa melihat hal ini sebagai masalah yang harus ditangani dengan cepat.

“Saya baca di surat kabar bahwa Pemprov akan berusaha mencari universitas negeri di Papua untuk memasukkan anak-anak yang pulang ke Papua di universitas tersebut. Tapi kalau untuk anak saya tidak bisa, karena disiplin ilmunya tidak ada di universitas yang ada di Papua dan Papua Barat. Saya berharap ada langkah kongkrit dari Pemrov untuk anak-anak yang disiplin ilmunya tidak ada di Papua dan Papua Barat,” harap ibu Helena.

Ibu Helena juga mengaku dirinya sudah melaporkan hal ini ke Polda Papua melalui Propam Polda Papua. Untungnya, menurut Ibu Helena, pihak Polda Papua bergerak cepat untuk menelusuri kasus ini melalui tim Cyber Polda Papua guna melacak nomor yang menelepon anaknya.

“Anehnya lagi, kenapa mereka bisa tahu nomor telpon anak saya? Padahal nomor yang dipakai Adriana ini adalah nomor milik bapaknya. Kebetulan waktu pulang liburan kemarin, HPnya rusak, jadi disuruh pakai HP bapak saja, sambil menunggu Hpnya diperbaiki,” ujarnya.

Setelah mendapatkan laporan dari dirinya, kata Ibu Helena, pihak Polda Papua langsung menelepon anggota polisi di Jambi.

BACA: Bupati Mamteng: wajar kalau pelajar dan mahasiswa Papua memilih pulang ke Papua

“Kata orang Polda, yang mereka telepon itu adalah Ajun Komisaris Ali Sadikin di Polda Jambi. Saya tidak tau urusan selanjutnya. Yang saya inginkan adalah, anak saya sudah aman dengan saya. Tapi untuk masa depan anak saya ke depannya, saya berharap Pemrov bisa menyelesaikan hal ini dengan secepatnya,” harapnya.

Gubernur Lukas Enembe yang mendegar keluh kesah dari Ibu Helena Windesi, kepada wartawan berjanji dalam pekan ini pihaknya akan melakukan pertemuan dengan semua pemimpin daerah di Papua dan Papua Barat untuk mendiskusikan hal tersebut.

“Minggu depan, saya akan bertemu dengan gubernur Papua Barat, MRP Papua Barat, DPRD Papua Barat, DPR Papua, MRP, seluruh pemimpin kepala daerah baik kota dan kabupaten, serta rektor Uncen, Inipa, dan Rektor Musamus untuk membicarakan hal ini,” kata Gubernur Lukas kepada wartawan, Senin (9/9/2019) di Jayapura.

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT