Konflik Membuat 3.457 Anak di Nduga Tak Bisa Bersekolah
JUBI.CO.ID | 30/07/2019 15:52
Konflik Membuat 3.457 Anak di Nduga Tak Bisa Bersekolah
Anak-anak sekolah yang berada di sekolah darurat Weneroma pada Februari 2019-Jubi/Islami

Wamena, Jubi – Sebanyak 3.457 anak sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA di sejumlah distrik di Kabupaten Nduga, hingga kini belum bisa belajar di bangku sekolah sebagaimana biasanya.

Hal itu dipengaruhi pasca konflik yang terjadi di Nduga sejak Desember 2018 hingga kini, mengakibatkan proses belajar mengajar di distrik-distrik yang berkonflik belum kondusif.

Hal itu juga terjadi bagi anak-anak yang berada di sekolah darurat Weneroma bagi pengungsian di Kabupaten Jayawijaya. Sejak Ujian Nasional tahun ajaran lalu, hingga kini anak-anak tersebut tidak lagi mengenyam pendidikan.

BACA: Kemensos RI siap salurkan bantuan tahap II untuk pengungsi Nduga

Sekretaris Daerah Nduga, Namia Gwijangge menyebutkan jika dari 3.457 anak itu terdiri dari 17 SD, 4 SMP dan 1 SMA seperti SD Inpres Mbua, SD Negeri Dal, SDN Mbulmuyalma, SDN Yigi, SDN Lambema, SDN Nirkuri, SDN Yal, SDN Kurigi, SD Mugi, SDN Mapenduma, SDN Kagayem.

Untuk tingkat SMP yaitu SMP Negeri Mbua, SMP Negeri Mugi, Yigi dan Mapenduma dan SMA Mbua.

“Untuk sementara proses belajar mengajar di sekolah darurat di Weneroma tidak jalan, juga siswa sekolah lainnya itu yang mengungsi. Tetapi ada beberapa sekolah yang berjalan seperti biasa yaitu sekolah di bagian ibu kota Keneyam, Wosak, Ineye, dan beberapa lainya,” kata Gwijangge kepada wartawan di Wamena, Senin (29/7/2019).

Menurut dia, beberapa waktu lalu telah dibuat sekolah darurat di halaman gereja Weneroma. Sudah berapa kali pula pemerintah daerah Nduga menawarkan ke orang tua siswa untuk meneruskan pendidikan di sejumlah sekolah di Jayawijaya yang telah ditunjuk.

BACA: Indeks Demokrasi Indonesia 2018 : Papua Barat dan Papua paling buruk

“Tetapi mereka tidak mau juga menggunakan ruang kelas yang diberikan pemerintah Jayawijaya. Padahal, sesuai kesepakatan waktu itu anak-anak dari Jayawijaya mereka mengikuti proses pendidikan di pagi hari, di siang harinya bergantian anak dari Nduga dan juga guru-gurunya yang menggunakan sekolah itu untuk belajar, tetap ada penolakan,” kata Gwijangge.

Ia juga berharap khusus untuk anak-anak yang masuk kelas 1 SD dapat daftar di sekolah yang ada di Jayawijaya, lalu yang lain bisa masuk di sekolah di Keneyam.

“Di Keneyam juga banyak anak-anak yang kumpul di sana, sehingga dalam waktu dekat kami akan bangun gedung sekolah darurat di Keneyam untuk menampung anak-anak itu,” katanya.

Ia juga menyebutkan jika sesuai kesepakatan antara kepala dinas pendidikan, mereka sepakat bahwa guru orang asli Papua yang ada di Mbua, Dal, Mbulmuyalma, dengan siswanya akan kembali. Sedangkan untuk guru non Papua akan diarahkan mengajar di ibu kota kabupaten.

BACA: LBH Papua siap bantu komunitas yang membutuhkan bantuan hukum

Upaya pemerintah daerah Nduga agar mereka bersekolah lagi, kata Namia, terus dilakukan seperti memasukan di sekolah distrik terdekat seperti di Keneyam maupun distrik yang tidak ada masalah.

“Kita akan lakukan tergantung kondisi di daerah, kalau sudah kondusif dan normal serta ada kesepakatan atau kemauan orang tua maupun anak-anak siap mau kembali pasti kita kembalikan. Namun untuk saat ini belum bisa kita pastikan, kita harus bicara dulu karena jika dipaksakan. Nantinya mereka menjadi korban lagi, sehingga datang menuntut lagi ke pemerintah sehingga perlu hati-hati kepada orang tua, ditambah relawan-relawan ada sikap keras menahan anak-anak, mereka mau harus di Wamena dan akan kita lihat lagi nantinya,” katanya.

BACA: GJRP Pass-Valey luncurkan Alkitab bahasa Yali

Ia juga menambahkan, nantinya Pemda Nduga akan coba berkoordinasi dengan kabupaten lainnya seperti Lanny Jaya, Mimika, agar anak-anak yang ikut mengungsi bisa bersekolah di pengungsian mereka.

“Pasti akan ada solusi, antara membangun lagi sekolah darurat atau permanen atau seperti apa kami akan lakukan termasuk mereka yang ada di Lanny Jaya, Timika, kami akan koordinasi kerjama dengan pemda setempat supaya kita memberikan

kemudahan untuk mendapatkan pendidikan anak-anak disana,” ujarnya.

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT