Dandim dan Kapolres Jayawijaya Bantah Kabar Ratusan Pengungsi Nduga tewas
JUBI.CO.ID | 24/07/2019 11:16
Dandim dan Kapolres Jayawijaya Bantah Kabar Ratusan Pengungsi Nduga tewas
Dandim, Pastor Jhon Djonga dan Kapolres Jayawijaya saat menggelar jumpa pers di Wamena-Jubi/Islami.

Wamena, Jubi – Informasi yang menyebut ada ratusan pengungsi asal Nduga tewas, dibantah Polisi dan TNI. Kapolres Jayawijaya, AKBP Tonny Ananda Swadaya mengatakan saat informasi yang menyebut ada 139 warga tewas di pengungsian sebagai kabar bohong. Menurutnya, dari hasil koordinasi dengan kepala suku besar Nduga, hanya tercatat ada tujuh orang meninggal di Keneyam sepanjang Juni 2019.

“Tetapi kalau disampaikan 139 itu tidak benar. Di sana tidak ada. Kami juga sudah koordinasi juga dengan Asisten Sekda Pemda Nduga, ia sempat kaget dan tanyakan berita dari mana lagi,” kata Tonny Ananda.

Meski begitu, Kapolres mengaku telah memerintahkan jajaranya turun langsung dan berkoordinasi di pengungsian baik yang di Jayawijaya, Lanny Jaya hingga di ibu kota Nduga sendiri. Hasilnya, Pemda setempat mengaku tak ada warga yang meninggal.

BACA: Keluarga korban ingin Polda Papua ambil alih kasus di Polres Biak

“Hal-hal inilah merupakan publikasi dari pada elit-elit separatis politik yang ada, dan kita buktikan di lapangan setelah koordinasi berbagai instansi terutama TNI-Polri kita sudah lakukan penyelidikan tidak benar semua itu,” kata dia.

Tak tinggal diam, Kapolres juga telah meminta tim siber Mabes Polri untuk menindaklanjuti serta memberi tindakan tegas bagi pelaku penyebar berita yang simpang siur ini.

Hal serupa disampaikan Dandim 1702/Jayawijaya, Letkol Inf Candra Dianto. Ia mengaku sejak informasi soal tewasnya ratusan pengungsi Nduga diterima jajaran TNI, ia langsung menerjunkan personel dari Koramil dan juga para tokoh gereja ke lapangan untuk memeriksa.

Hasilnya, tak ada kasus kematian massal yang terjadi di pengungsian. Ia juga menyebut kondisi para pengungsi dalam keadaan baik.

“Diantaranya di Lanny Jaya sebagai sumbernya Sekda setempat, dimana sekda Lanny Jaya berinisiatif mengumpulkan kepala kampung dan kepala suku di sana, mengkroscek terkait berita tersebut. Hasilnya, meyakinkan bahwa kondisi masyarakat di wilayah Kuyawage dalam keadaan aman. Bahkan selama di pengungsian di Lanny Jaya, pemda setempat turut memberikan bantuan berupa logistik bagi pengungsi sejak Desember masuk di wilayah Lanny Jaya,” kata Dandim.

BACA: Keluarga tahanan Polres Biak menilai pemberitaan media diskriminatif

Satu diantara tokoh gereja, Pastor Jhon Djonga juga angkat suara soal kabar meninggalnya ratusan pengungsi Nduga. Ia mengaku bingung dengan banyaknya informasi yang beredar. Ia meminta pihak yang bertanggung jawab untuk memperjelas informasi soal korban tewas sehingga tak menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Saya bingung atas informasi dari teman-teman wartawan di Jakarta, yang saya dengar ada 130 orang, 139 bahkan ada yang menyebut sampai 177 orang. Dari yang saya amati selama ini, beberapa yang meninggal memang ada dan saya juga coba untuk melihat langsung kuburan warga yang sudah meninggal itu,” katanya.

Ia mengaku, pada awal April 2019 Pemda Nduga melaporkan bahwa ada 60-an orang yang sudah meninggal. Kemudian dari salah seorang petugas kesehatan di Mugi juga menjelaskan bahwa ada 40-an orang yang sudah meninggal, akibat lari di hutan-hutan dan di tempat pengungsian. Hasil penelusurannya sendiri menyebut ada sekitar 10-12 kuburan yang ditemukan di Jayawijaya.

“Saya pun tanya teman pendeta yang meninggal yang ditunjuk tempatnya ada dari distrik Dal, Mugi, Yal. Lalu saya hubungi teman-teman yang memberitahu informasi 130 orang itu, dapat dari mana laporannya dan ada yang bilang lihat di medsos,” katanya.

BACA: Permintaan penarikan pasukan bukan dukungan terhadap TPN/OPM di Nduga

Namun klaim dari TNI dan Polri ini berbanding terbalik dengan temuan dari Tim Solidaritas untuk Nduga yang merilis laporan dan Lembar Fakta Perkembangan Konflik Nduga sejak Desember 2018 hingga Juli 2019 di Jakarta, Kamis (18 Juli 2019).

Berdasarkan catatan Jurnalis senior Jubi Victor Mambor yang langsung mengecek ke lokasi, didapat data jumlah pengungsi hingga akhir Juli 2019 yang mencapai lebih dari 5.000 warga. Selain itu tim relawan juga merinci jumlah kematian akibat konflik yang terjadi. Catatan mereka menyebut ada 139 pengungsi dari Kabupaten Nduga yang meninggal dunia karena menderita berbagai penyakit.

Tak hanya itu, para pengungsi Nduga dihantui trauma mendalam. Hingga kini belum ada penanganan serius atas trauma yang mereka alami.

“Ketika aparat datang, anak-anak itu lari dan kabur. Merasa ketakutan melihat aparat berseragam,” kata Hipolitus Wangge, perwakilan tim solidaritas untuk Nduga. (*)

JUBI.CO.ID

 


BERITA TERKAIT