Lelah dan Sesak Nafas, Pengguna Jalan Berlumpur di Papua Barat Tewas
JUBI.CO.ID | 13/06/2019 16:32
Lelah dan Sesak Nafas, Pengguna Jalan Berlumpur di Papua Barat Tewas
Tampak ‘kolam bebek’, lokasi berlumpur tebal di kampung Mameh, Distrik Tahota jalur trans Papua Barat. (Jubi/IST).

Manokwari, Jubi – Jalur berlumpur trans Papua Barat di Kampung Mameh, Distrik Tahota Kabupaten Mansel, Papua Barat menelan satu korban jiwa. Silfester Siamma tutup usia dalam perjalanan Manokwari menuju Bintuni, tepatnya di sekitar “kolam bebek” ruas jalan Mameh-Bintuni yang paling ditakuti supir maupun warga saat melintas.

Belum diketahui hasil rekam medis tentang kepastian meninggalnya mendiang Silfester Siamma, namun berdasarkan  informasi dari Kepolisian setempat, bahwa korban meninggal dunia karena kelelahan dan sesak nafas, meski ada upaya  yang dilakukan oleh rombongan yang berjalan bersama korban, namun upaya tersebut tidak berhasil.

BACA: Mudik lebaran bermandikan lumpur di Distrik Tahota

Juru bicara Polda Papua Barat, AKBP Mathias Krey, membenarkan tentang insiden meninggalnya satu warga Bintuni atas nama Silfester Siamma di ruas jalan trans Papua Barat tepatnya di ‘kolam bebek’, Kampung Mameh Distrik Tahota Kabupaten Mansel. Informasi tersebut diterima dari pelapor Markus Orocomna, Kepala Distrik Muskona Utara saat bersama korban.

Sesuai keterangan hasil pemeriksaan, kata Krey, korban bersama rombongan Kadistrik Muskona Utara, Markus Orocomna berjumlah lima orang termasuk korban, sebelumnya bertolak dari kabupaten Manokwari pada tanggal 10 Juni, pukul 13.00 Waktu Papua. Saat tiba di Kampung Mameh, Distrik Tahota (lokasi berlumpur) di jalan trans Papua Barat waktu sudah jelang malam sekira pukul 19.30 WP.

Karena tidak dapat melanjutkan perjalanan dengan mobil dua gardan, akhirnya mobil dititipkan di salah satu camp perusahaan di ujung jalan berlumpur. Lalu korban bersama pelapor dan tiga saksi lainnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil masing-masing memikul beban (tas).

BACA: Gubernur Papua Barat pertanyakan alasan Menkeu kurangi transfer DTI 2019

“Kami semua turun untuk jalan kaki, karena lumpur tebal sehingga mobil tidak bisa tembus. Kami jalan agak terpisah, dua orang sudah duluan, saya dan kepala kampung jalan sama-sama agak terpisah dari korban, karena dia (korban) jalannya lambat sehingga dia sendiri dari belakang. Karena gelap, saya dan kepala kampung memutuskan untuk berhenti sejenak sambil menunggu korban. Namun saat ditemukan, korban mengaku sudah tidak mampu lanjut berjalan karena lelah disertai rasa pusing dan sesak nafas yang berujung meninggal dunia di Pukul 20.00 WP,” ujar Krey mengutip keterangan Markus Orocomna.

Baca selengkapnya di JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT