Ada Aroma Korupsi di Jalan Penuh Kubangan Lumpur di Papua Barat
JUBI.CO.ID | 11/06/2019 13:05
Ada Aroma Korupsi di Jalan Penuh Kubangan Lumpur di Papua Barat
Kondisi jalan di Kampung Mameh, Distrik Tahota Kabupten Mansel yang sementara dilidik Polda Papua Barat. (Jubi/Hans Arnold Kapisa)

Manokwari, Jubi – Jalur tranportasi darat yang menghubungkan kabupaten Manokwari Selatan dan kabupaten Teluk Bintuni, terhambat lumpur sepanjang lima kilo meter di kampung Mameh Distrik Tahota Kabupaten Manokwari  Selatan, Papua  Barat.

Satu-satunya akses jalur darat yang menghubungkan dua kabupaten ini tak kunjung diaspal, walau telah dianggarkan dalam APBD kabupaten Manokwari Selatan, bahkan dianggarkan pula dalam APBN tahun 2018 karena masuk dalam peta jalan Nasional di Papua Barat.

BACA: Gubernur Papua Barat pertanyakan alasan Menkeu kurangi transfer DTI 2019

Hasil penelusuran Jubi, jalan tersebut sebenarnya milik PT.Mamberamo selaku perusahaan kayu yang melakukan aktivitas eksloprasi hasil hutan kayu dan hingga kini masih terikat kontrak sebagai jalur logging PT.Mamberamo.

Namun, jalur tersebut sempat dianggarkan dalam APBD Kabupaten Manokwari Selatan tapi juga tak direalisasikan hingga pengaspalan. Bahkan jalur itu masuk pula dalam peta jalan nasional di Provinsi Papua Barat, sehingga dianggarkan dalam APBN 2018 untuk pengerjaanya melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) wilayah IV, Kementerian PUPR Provinsi Papua Barat.

Blandina Oseri, warga kabupaten teluk Bintuni mengatakan, untuk tembus ke Bintuni butuh perjuangan. Selain mengeluarkan ongkos transportasi Rp500 ribu, dia juga harus menyiapkan bekal perjalanan.

“Saya pernah bermalam tiga hari di jalan, karena mobil yang kami tumpangi tertanam lumpur. Kalau jalan kaki bisa, tapi lima kilo meter, itupun dalam lumpur dan saya tidak sanggup karena belanjaan saya banyak,” kata Blandina.

Polisi menyelidiki

Kanit Tipikor Ditreskrimsus Polda Papua Barat, AKP Tommy Pontororing mengatakan, berdasarkan bukti dokumen lelang proyek yang diselidiki,  pembangunan jalan di Mameh Distrik Tahota telah dianggarkan dalam APBN  2018, sekira Rp21 miliar.

BACA: Mudik lebaran bermandikan lumpur di Distrik Tahota

“Anggaran sebesar itu, tapi ternyata hasil pekerjaan sepeti sekarang. Yang tadinya bisa ditempuh dalam waktu norman  6-8 jam, ini bisa 3-4 hari. Dokumen dan bukti-bukti inilah yang kami sedang telusuri,” ujar Tommy.

Baca selengkapnya di JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT